Taufiq Ismail 90 Tahun: Mengakar ke Bumi, Menggapai ke Langit
ASKARA - Hari ini, Indonesia merayakan ulang tahun ke-90 salah satu penyair terbesarnya, Taufiq Ismail. Sosok yang telah menanamkan jejak sastra sekaligus suara nurani bangsa ini dilahirkan pada 25 Juni 1935. Dengan karya-karya yang mengakar pada realitas rakyat dan menjulang pada nilai-nilai kemanusiaan, Taufiq Ismail tetap menjadi cahaya bagi generasi yang mencari makna.
Jakarta, 25 Juni 2025 —
Sembilan dekade bukan sekadar angka. Bagi Taufiq Ismail, usia 90 tahun adalah penanda dari perjalanan panjang yang penuh cinta pada tanah air, kata-kata, dan kejujuran. Di hari ulang tahunnya yang ke-90, para pecinta sastra, pelajar, akademisi, dan tokoh kebudayaan menyampaikan doa dan penghormatan untuk maestro puisi yang telah menjadi saksi zaman dan lentera nurani bangsa.
Tagar #HBD90TaufiqIsmail dan ucapan GBU (God Bless You) mengalir di media sosial, menandai kasih dan rasa hormat dari lintas generasi. Ucapan selamat pun datang dari berbagai penjuru negeri, termasuk dari penyair muda Bali, Putu Dewi Taksu, yang menulis singkat namun dalam: “Mengakar ke Bumi, Menggapai ke Langit.”
Frasa ini seperti merangkum seluruh hidup dan karya Taufiq Ismail. Ia tak hanya menulis dari langit-langit estetika, tetapi juga menggali bumi tempat rakyat kecil berpijak. Puisinya tidak sekadar indah, tapi menggugah: melawan kedunguan, membela yang lemah, merayakan iman, serta menjaga akal sehat dalam turbulensi politik dan sejarah bangsa.
Sebagai pendiri dan penggagas Horison, majalah sastra legendaris yang menjadi medan tempur gagasan pada era 1960-an, Taufiq telah meletakkan pondasi penting bagi ekosistem literasi Indonesia. Karya-karyanya seperti “Tirani dan Benteng”, “Sajadah Panjang”, dan “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia” menjadi suara moral yang menggema jauh melampaui halaman buku.
Lahir di Bukittinggi, besar dalam tradisi Minangkabau yang kaya dengan petuah dan hikmah, Taufiq adalah penyair yang juga dokter hewan. Tapi jalan hidup membawanya lebih jauh ke jalan bahasa dan sejarah. Ia bukan sekadar saksi, melainkan penyaksi: dari tragedi 1965, gerakan mahasiswa 1998, hingga kegelapan moral yang masih mengancam generasi hari ini.
Kini, di usianya yang menginjak 90 tahun, Taufiq Ismail tetap hadir sebagai cermin kejernihan. Di saat dunia terus berisik oleh narasi kosong, ia tetap menulis dengan tenang namun menggugah.
Masyarakat sastra Indonesia merencanakan serangkaian penghormatan sepanjang pekan ini: pembacaan puisi di berbagai kota, penerbitan bunga rampai apresiasi dari sastrawan muda, hingga peluncuran edisi khusus antologi karya Taufiq Ismail oleh Balai Pustaka.
Dari Putu Dewi Taksu di Bali hingga pelajar-pelajar madrasah yang hafal puisi “Sajadah Panjang”, warisan Taufiq hidup dan terus mengalir. Tak hanya dalam bait-bait, tapi juga dalam sikap. Sebab seperti yang ia tulis:
"Kami cinta ilmu.
Kami cinta iman.
Kami cinta kehidupan.
Tapi yang lebih kami cinta
adalah kemerdekaan dan keadilan.”
Selamat ulang tahun, Bopo Taufiq Ismail.
Teruslah mengakar ke bumi.
Dan menggapai ke langit. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar