Rabu, 17 Juni 2026 | 19:34
NEWS

Harga Minyak Meroket Imbas Serangan AS ke Iran, Bitcoin Terjun Bebas

Harga Minyak Meroket Imbas Serangan AS ke Iran, Bitcoin Terjun Bebas
Ilustrasi naiknya harga minyak dan anjloknya bitcoin (Dok Askara)

ASKARA - Harga minyak dunia melonjak tajam pada awal pekan ini menyusul meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah. Keterlibatan Amerika Serikat (AS) dalam serangan terhadap Iran memicu kekhawatiran pasokan energi global, membuat harga minyak mentah melonjak hingga menyentuh level tertinggi dalam lima bulan terakhir.

Dilansir dari Reuters, Senin (23/6/2025), minyak mentah Brent berjangka naik US$ 1,92 atau 2,49% ke level US$ 78,93 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga mengalami kenaikan sebesar US$ 1,89 atau 2,56% menjadi US$ 75,73 per barel. Bahkan dalam perdagangan awal sesi, harga Brent sempat menyentuh US$ 81,40 dan WTI menembus US$ 78,40.

Brent tercatat telah naik 13% sejak konflik pecah pada 13 Juni lalu, sedangkan WTI naik sekitar 10%. Kenaikan ini menempatkan harga minyak mendekati asumsi maksimum dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 Indonesia, yang ditetapkan sebesar US$ 82 per barel.

Kenaikan tajam harga minyak terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi serangan militer terhadap situs nuklir utama Iran. Langkah tersebut menandai keterlibatan langsung Washington dalam konflik yang sebelumnya hanya melibatkan Israel dan Iran.

Iran, sebagai produsen minyak mentah terbesar ketiga dalam Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC), mengecam serangan tersebut dan menyatakan akan mengambil tindakan balasan, termasuk kemungkinan menutup Selat Hormuz—jalur penting bagi sekitar 20% pasokan minyak mentah dunia.

Lembaga keuangan Goldman Sachs dalam laporannya memperkirakan, jika Selat Hormuz benar-benar ditutup, harga minyak Brent bisa melonjak hingga US$ 110 per barel. Bahkan JPMorgan memperingatkan harga bisa mencapai US$ 130, yang dapat mengerek kembali inflasi di AS hingga 5% dan memaksa bank sentral menaikkan suku bunga secara agresif.

Pasar Kripto Terguncang

Ketegangan geopolitik tak hanya mengguncang pasar energi, tetapi juga menggoyahkan pasar aset digital. Harga Bitcoin terpantau anjlok selama akhir pekan, sempat turun di bawah US$ 99.000—level terendah dalam lebih dari satu bulan terakhir.

Melansir CNBC, aksi jual besar-besaran di pasar kripto didorong oleh meningkatnya kekhawatiran atas potensi perang regional skala luas. Ketidakpastian tersebut mendorong investor menarik dana dari aset spekulatif dan kembali melirik aset lindung nilai seperti Dolar AS.

Dengan latar belakang inflasi yang kembali menghantui dan suku bunga yang berpotensi naik, aset berisiko seperti kripto kembali mendapat tekanan berat.

Situasi geopolitik yang memanas antara Iran, Israel, dan keterlibatan langsung AS menjadi titik kritis yang memengaruhi perekonomian global, baik dari sisi energi maupun pasar keuangan. Para analis memperingatkan, jika konflik terus memburuk, dampaknya bisa menjalar ke sektor yang lebih luas, termasuk pertumbuhan ekonomi global.

 

 

Komentar