59 Gapoktan Terima Bantuan Pupuk Cair
ASKARA - Sebanyak 59 gabungan kelompok tani (Gapoktan) di Kabupaten Semarang akan menerima bantuan pupuk cair sebanyak 4.200 liter dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Penyerahan bantuan ini disampaikan dalam sosialisasi di Pendapa Grha Abdi Praja, Ambarawa, Selasa (10/6/).
Anggota DPRD Jateng, Bagus Suryo Kusumo, mengingatkan petani agar memanfaatkannya secara tepat dan tidak disalahgunakan.
Sebanyak 4.200 liter pupuk cair akan segera disalurkan kepada 59 gabungan kelompok tani (Gapoktan) yang tersebar di wilayah Kabupaten Semarang.
Bantuan ini merupakan bagian dari komitmen Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk mendukung sektor pertanian sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus mewujudkan cita-cita Jawa Tengah sebagai lumbung pangan nasional.
Penyaluran bantuan tersebut disampaikan dalam kegiatan sosialisasi yang berlangsung di Pendapa Grha Abdi Praja, kompleks Kantor Kecamatan Ambarawa, pada Selasa siang (10/6/2025).
Kegiatan dihadiri oleh para perwakilan Gapoktan, pejabat dinas pertanian, dan anggota DPRD Jawa Tengah, Bagus Suryo Kusumo.
Dalam sambutannya, Bagus menegaskan pentingnya tanggung jawab dalam pengelolaan bantuan. Ia menekankan bahwa bantuan pupuk cair ini harus dimanfaatkan dengan optimal untuk mendukung produksi pertanian, bukan disalahgunakan.
"Bantuan ini harus dipakai sebagaimana mestinya. Jangan sampai ada penyalahgunaan karena ini adalah amanat untuk peningkatan produktivitas pertanian kita," ujarnya di hadapan para petani.
Lebih lanjut, Bagus menjelaskan bahwa program bantuan ini selaras dengan visi Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, bersama Wakil Gubernur Tak Yasin Maimoen, yang menargetkan agar lahan pertanian tetap terlindungi dan sumber daya manusia (SDM) pertanian terus dikembangkan.
"Kami ingin memastikan bahwa lahan pertanian tidak terus menyusut. Pemerintah juga tengah menyiapkan SDM yang mumpuni, salah satunya melalui regenerasi petani muda," tambahnya.
Dorongan terhadap keterlibatan generasi muda dalam sektor pertanian juga mendapat sorotan dalam pertemuan tersebut. Bagus mengajak pemuda desa untuk kembali melirik potensi pertanian sebagai profesi yang menjanjikan, bukan sekadar pekerjaan turun-temurun.
"Sudah saatnya muncul petani-petani milenial. Dengan teknologi, inovasi, dan semangat baru, pertanian bisa menjadi sektor unggulan bagi generasi muda," jelasnya.
Mendukung hal tersebut, Kepala Dinas Pertanian, Peternakan, dan Pangan (Dispertan) Kabupaten Semarang, Moh Edy Sukarno, menyampaikan bahwa pihaknya telah meluncurkan program sekolah tani milenial sejak tahun lalu.
"Tahun ini sekolah tani milenial akan kembali digelar, namun dengan model pelatihan yang lebih disesuaikan dengan kebutuhan lapangan dan minat generasi muda," terang Edy.
Dalam sesi dialog, seorang peserta sosialisasi yang juga merupakan petani dari Kecamatan Kaliwungu, Suyitno, menyampaikan harapannya agar pemerintah memberikan perhatian lebih pada regenerasi petani.
"Banyak pemuda enggan bertani. Harus ada insentif atau program khusus yang bisa menarik mereka, agar petani di masa depan tidak punah," ungkapnya yang juga tergabung dalam Kelompok Tani Bhakti Tani 4.
Suyitno berharap pemerintah pusat hingga daerah benar-benar serius menangani potensi krisis petani yang dikhawatirkan akan terjadi dalam waktu dekat jika regenerasi tidak dilakukan.
Dengan berbagai langkah konkret mulai dari bantuan pupuk cair, pelatihan petani muda, hingga perlindungan lahan produktif, diharapkan sektor pertanian Kabupaten Semarang semakin kuat dan berdaya saing di tengah tantangan modernisasi dan urbanisasi.
Pemerintah pun berkomitmen untuk terus hadir memberikan dukungan nyata bagi petani sebagai pilar utama ketahanan pangan daerah maupun nasional. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar