Selasa, 21 Juli 2026 | 21:15
OPINI

SURAT TERBUKA UNTUK INDONESIA

Ketika Anak SD Tewas karena Dibully karena Beda Agama, Masihkah Kita Diam?

Ketika Anak SD Tewas karena Dibully karena Beda Agama, Masihkah Kita Diam?
Ilustrasi kekerasan pada anak (Dok Pixabay)

Oleh: Saur S. Turnip (Opung Nisi Jeje)

ASKARA - Duka kembali menyelimuti bumi pertiwi. Seorang anak laki-laki, siswa kelas dua SD di Indragiri Hulu, Riau, meregang nyawa setelah mengalami perundungan berulang oleh teman sekelasnya. Alasannya: ia berbeda agama.

Perbedaan keyakinan, yang semestinya jadi kekayaan, malah berubah menjadi alasan kekerasan. Bahkan, hingga merebut satu nyawa yang belum sempat mekar.

Ini bukan sekadar tragedi di satu sekolah. Ini potret buram pendidikan kita. Ini alarm yang memekakkan nurani.

Luka yang Terabaikan

Sang anak sempat dipukul, diludahi, dan dikucilkan. Ia mengeluh sakit perut, demam, dan trauma, sebelum akhirnya meninggal dunia dalam perawatan.

Orang tuanya sudah melapor ke sekolah. Tapi respons yang diterima: dingin, menyepelekan.
Kini, semuanya sudah terlambat.

Bukan Hanya Pelaku, Tapi Sistem

Kita tidak buru-buru menyalahkan anak-anak pelaku. Mereka adalah hasil dari sistem yang membiarkan intoleransi tumbuh.
Dibesarkan dalam lingkungan yang tak mengajarkan empati. Dibiarkan larut dalam dunia digital yang sarat ujaran kebencian.

Yang harus kita tinjau secara serius adalah:

Sekolah yang gagal menjadi ruang aman bagi perbedaan.

Kurikulum pendidikan yang belum menjadikan toleransi sebagai pondasi.

Pemerintah daerah yang abai terhadap benih intoleransi.

Dan kita semua yang diam, yang kadang ikut menyemai kebencian dengan narasi dan sikap.

Seruan Kepada Negara

Yth. Presiden Republik Indonesia, Menteri Pendidikan, Menteri Agama, serta para kepala daerah di seluruh Nusantara,
Kami menuntut lebih dari sekadar kunjungan dan belasungkawa.

Kami meminta:

1. Deklarasi Darurat Moral terhadap Intoleransi Anak.

2. Reformasi Kurikulum Nasional yang mewajibkan pendidikan karakter, empati, dan toleransi.

3. Instruksi Presiden untuk membentuk Tim Reaksi Cepat Anti-Bullying di setiap kabupaten/kota.

4. Sanksi nyata bagi kepala sekolah dan guru yang abai.

5. Pendidikan nasional untuk para orang tua agar paham bahwa intoleransi bisa tumbuh di rumah.

Negara harus hadir, terlebih untuk mereka yang paling rentan, anak-anak. Jika satu nyawa kecil tak bisa kita lindungi, lalu di mana letak peradaban kita?

Jangan Ada Lagi "KB" yang Mati Karena Beda

Kita tak bisa membawa KB kembali.
Namun, kita bisa menyelamatkan ribuan anak lain dari nasib serupa.

Mari mulai dari rumah, sekolah, media, dan parlemen.
Jangan biarkan perbedaan terus jadi alat pembunuh karakter, atau nyawa.

Untuk Indonesia yang lebih manusiawi, adil, dan beradab.

 

Komentar