Senin, 08 Juni 2026 | 03:07
COMMUNITY

Pasangan, Anugerah yang Sering Terlupakan

Pasangan, Anugerah yang Sering Terlupakan
Ilustrasi

ASKARA - Ada kalanya seseorang terlalu sibuk mengejar dunia hingga lupa siapa yang selama ini membersamai dalam diam, dalam lelah, dalam perjuangan, bahkan dalam doa-doa yang tak terdengar. Suami atau istri bukan sekadar pasangan hidup, tapi adalah cerminan dari kasih sayang Allah yang hadir dalam bentuk manusia. Sayangnya, banyak dari kita baru benar-benar menyadari nilai pasangan setelah usia senja datang perlahan. Saat karier memudar, bisnis tak lagi menggeliat, anak-anak sibuk dengan urusannya masing-masing, maka yang tersisa hanyalah pasangan yang tetap setia duduk di samping kita, menggenggam tangan kita dalam sunyi.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyebutkan dalam Al-Qur’an bahwa pasangan adalah tanda kebesaran-Nya:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
"Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir." (QS. Ar-Rum: 21)

Ayat ini bukan hanya berbicara soal cinta, tetapi tentang ketenangan. Rumah tangga bukanlah tentang siapa yang lebih kaya, siapa yang lebih unggul, tetapi siapa yang paling bersedia menguatkan saat yang lain melemah. Sayangnya, banyak dari kita memperlakukan pasangan seperti benda, bukan amanah. Kita lebih menghormati klien daripada istri, lebih sabar kepada rekan bisnis dibanding suami. Padahal kelak, setelah raga mulai renta dan dunia menjauh, hanya pasanganlah yang akan duduk menemani dengan setia.

Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pun memberikan teladan luar biasa dalam memperlakukan istri. Dalam hadis disebutkan:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
"Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya. Dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku." (HR. Tirmidzi)

Betapa Rasulullah menempatkan keluarga, khususnya pasangan, sebagai prioritas utama dalam akhlak dan adab. Ketika banyak orang mencari pahala dengan amal besar, beliau mencontohkan bahwa memperlakukan pasangan dengan baik adalah bagian dari kebaikan tertinggi.

Saat usia masih muda, tenaga masih penuh, langkah masih cepat, seringkali pasangan menjadi yang paling diabaikan. Waktu diberikan kepada pekerjaan, perhatian diberikan kepada media sosial, dan cinta dibagi dengan hal-hal remeh. Namun saat usia menua, kita mulai sadar: pasangan adalah satu-satunya teman sejati yang Allah hadiahkan di dunia fana ini. Seseorang yang tahu persis sisi gelap kita, namun tetap tinggal. Seseorang yang menyaksikan jatuh-bangun kita, namun tak pergi.

Jangan tunggu tua untuk menyesal. Jangan tunggu sepi untuk menghargai. Jangan tunggu kehilangan untuk mengingat betapa besar anugerah pasangan yang kita miliki hari ini. Perlakukannya dengan kasih sayang, dengan sabar, dengan penuh hormat. Karena itulah cara kita bersyukur atas nikmat yang Allah titipkan.

Dalam hadis lain, Rasulullah bersabda:

الدُّنْيَا مَتَاعٌ، وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ
"Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah." (HR. Muslim)

Jika istri yang shalihah adalah sebaik-baik perhiasan dunia, maka suami yang shalih adalah nahkoda terbaik bagi kapal rumah tangga. Keduanya adalah jembatan menuju sakinah, menuju surga, bila dipenuhi dengan kesabaran dan keikhlasan.

Mari mulai hari ini, perlakukan pasangan seperti sahabat terindah yang akan membersamai hingga akhir hayat. Jadikan rumah bukan hanya tempat pulang, tapi ruang aman untuk saling menguatkan. Sebelum usia menua dan semua yang kita banggakan sirna, rawatlah cinta ini dengan amal yang nyata, bukan sekadar kata.

Sebab pada akhirnya, bukan jabatan, bukan rekening bank, bukan gelar akademik yang akan duduk di samping kita saat tubuh tak lagi kuat berdiri—tetapi pasangan yang sabar memijat kaki yang lelah, mengusap dahi yang panas, dan berdoa diam-diam agar Allah mengampuni kita.

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
"Dan orang-orang yang berkata: ‘Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-Furqan: 74)

Semoga kita semua diberikan kekuatan untuk menjadi pasangan yang paling baik bagi pasangan kita, bukan hanya di dunia, tapi juga dalam keabadian kelak di surga-Nya. Aamiin. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar