Rabu, 22 Juli 2026 | 20:04
OPINI

Dirgahayu Pancasila

Dirgahayu Pancasila
Ilustrasi Pancasila (Dok Rm Yote)

ASKARA - Dua sahabat, Josip Broz Tito dan Soekarno, pernah bertukar visi tentang apa yang memperkuat sebuah bangsa. Josip menyebut militernya, sementara Bung Karno menegaskan pentingnya ideologi bangsa.

Yugoslavia pecah kongsi.
NKRI tetap eksis hingga kini!

Ideologi adalah orientasi roh suatu bangsa—kompas moral yang menegaskan arah dan visi masa depan. Nasionalisme tanpa ideologi, ibarat negara tanpa jati diri.

Ideologi menyatukan keragaman, terbuka terhadap pragmatisme demi efektivitas bernegara. Namun, pragmatisme tanpa ideologi akan membuat negara kehilangan arah.

Ideologi bersifat kolektif—ada nilai bersama yang diperjuangkan, yang menjamin setiap warga negara setara di hadapan hukum dan keadilan.

Ideologi juga menjadi penyaring common sense, seperti dalam kebijakan berbagi subsidi meski defisit, agar tetap selaras dengan cita-cita luhur:
Kebangsaan, Harga Diri, Demokrasi, Keadilan Sosial, dan
Ketuhanan, sebagai aspek paling intangible—roh dari keempat aspek dasar tersebut.

Ideologi pun membutuhkan “emosional loyalty”, seirama dengan gaung “Indonesia Pusaka” yang menggema di GBK mengiringi perjuangan Timnas.

 

Salam sehat berlimpah berkat

Rm Yos Bintoro, Pr 🙏

Komentar