Sakralnya Cio Tao: Tradisi Memohon Restu Leluhur di Pernikahan Tionghoa Benteng
ASKARA – Di tengah pesatnya arus modernisasi Kota Tangerang, tradisi leluhur masih teguh dijaga oleh komunitas Tionghoa Benteng. Salah satunya adalah upacara Cio Tao, ritual sakral yang menjadi bagian penting dalam pernikahan adat Tionghoa. Bukan sekadar prosesi budaya, Cio Tao adalah bentuk penghormatan kepada leluhur dan permohonan restu kepada dewa-dewi demi kehidupan rumah tangga yang harmonis.
Berlokasi di kawasan Pasar Lama, yang dikenal sebagai jantung budaya Tionghoa Benteng, sepasang mempelai tampak khusyuk melakukan sembahyang di hadapan altar keluarga. Di hadapan mereka tersaji aneka sesaji: buah-buahan, kue keranjang, dupa yang menyala, dan sepasang lilin merah sebagai simbol keberuntungan.
“Upacara Cio Tao kami lakukan sehari sebelum hari pernikahan. Ini untuk memohon perlindungan agar kehidupan rumah tangga kami kelak berjalan penuh cinta dan diberkahi leluhur,” ujar Anton (28), mempelai pria, sambil mengenakan pakaian tradisional.
Warisan Leluhur yang Hidup di Tanah Benteng
Masyarakat Tionghoa Benteng adalah keturunan Tionghoa yang telah menetap di wilayah Tangerang sejak ratusan tahun lalu. Mereka mempertahankan sejumlah tradisi unik yang menjadi perpaduan budaya Tionghoa dan lokal Betawi, termasuk dalam tata cara pernikahan.
Menurut Ko Auw Liang, sesepuh komunitas di Klenteng Boen Tek Bio, upacara Cio Tao merupakan bentuk komunikasi spiritual dengan leluhur yang diyakini masih menyertai kehidupan para keturunannya. “Kalau minta restu orang tua di dunia penting, restu dari leluhur juga penting. Mereka yang sudah mendahului tetap jadi bagian keluarga,” tuturnya.
Upacara ini tak hanya menjadi simbol penghormatan, tetapi juga sarana introspeksi. Mempelai diminta untuk menyadari bahwa pernikahan bukan hanya soal cinta, tetapi juga tanggung jawab terhadap keluarga besar dan nilai-nilai yang diwariskan.
Dipertahankan oleh Generasi Muda
Meskipun zaman terus berubah, banyak generasi muda Tionghoa Benteng tetap menjalankan Cio Tao sebagai bagian dari prosesi pernikahan. Beberapa bahkan menggabungkannya dengan resepsi modern, namun tidak mengabaikan aspek spiritual dan adat.
“Ini bukan soal kepercayaan semata, tapi bagian dari identitas kami. Menikah tanpa Cio Tao rasanya seperti ada yang kurang,” ujar Lanny, mempelai wanita, yang juga aktif dalam kegiatan budaya Tionghoa di sekolahnya.
Pemerintah Kota Tangerang melalui Dinas Kebudayaan juga terus mendorong pelestarian tradisi seperti Cio Tao sebagai bagian dari kekayaan budaya lokal. Upaya dokumentasi, pelatihan adat, hingga festival budaya rutin digelar untuk merawat kearifan lokal ini.
Merawat Akar Budaya di Tengah Kota
Cio Tao menjadi bukti bahwa nilai-nilai leluhur tetap hidup dan relevan di tengah kehidupan modern. Di balik lilin yang menyala dan aroma dupa yang membubung, ada doa-doa yang disampaikan secara diam-diam, dan harapan yang tak lekang oleh waktu: agar cinta yang baru dimulai hari itu, tumbuh subur dengan restu langit dan leluhur.

Komentar