Rudy Sumardi Ciptakan Kompor Gas Berbahan Bakar Air, Solusi Energi Murah untuk Rakyat
ASKARA — Di tengah krisis energi dan mahalnya harga gas subsidi, seorang anak bangsa kembali membuktikan bahwa inovasi lokal bisa menjadi solusi besar. Rudy Sumardi, pakar rekayasa energi, memperkenalkan temuannya: kompor gas berbahan bakar air—sebuah terobosan yang bisa merevolusi cara masyarakat memasak di masa depan.
“Inilah solusi cepat dan murah untuk rakyat,” ujar Rudy dengan penuh semangat. Kompor temuannya tidak menggunakan gas elpiji, melainkan memanfaatkan proses elektrolisis, yakni pemisahan unsur-unsur dalam air menggunakan anoda dan katoda. Hasilnya adalah gas super panas yang bisa digunakan untuk memasak. Oli digunakan sebagai pemicu tambahan agar nyala api lebih stabil dan panas.
Prosesnya terbilang sederhana, namun hasilnya luar biasa. “Cukup pakai air, dipisahkan menjadi gas, dan bisa langsung digunakan untuk memasak. Ini sangat membantu, terutama untuk ekonomi kerakyatan,” jelas Rudy. Kompor ini menjadi angin segar di tengah polemik kenaikan harga gas dan sulitnya akses energi bersubsidi bagi masyarakat kecil.
Meski demikian, Rudy mengakui bahwa kompor berbahan bakar air ini belum diproduksi massal. “Harga satu unit sekarang masih sekitar Rp2,5 juta, karena belum ada produksi besar-besaran. Kalau bahan dibeli satuan, tentu mahal. Tapi kalau kita produksi massal, harganya bisa jauh turun,” katanya.
Saat ini, Rudy belum membuka pemesanan karena masih mencari mitra dari kalangan swasta yang bersedia bekerja sama dalam hal fabrikasi dan produksi. “Saya butuh pihak swasta yang mau bantu membangun pabrikasinya. Ini produk yang harus dikembangkan, bukan sekadar dijual satuan,” imbuhnya.
Selain kompor berbahan bakar air, Rudy juga mengembangkan kompor listrik dengan bahan hebel dan elemen pemanas dari aluminium. Namun menurutnya, solusi listrik saat ini belum efisien karena kebutuhan daya listrik yang tinggi justru membebani masyarakat. “Kompor listrik pakai daya besar. Kalau air bisa dipakai untuk memasak, kenapa harus pilih yang mahal?” pungkas Rudy.
Inovasi Rudy Sumardi menjadi simbol harapan baru dalam kemandirian energi nasional. Kini, bola ada di tangan para pemangku kepentingan dan investor: apakah akan mendukung lahirnya teknologi ramah rakyat dari anak bangsa sendiri?

Komentar