Kamis, 04 Juni 2026 | 08:29
COMMUNITY

Gebrakan Budaya Betalo! Fadel Muhammad Tantang DKI Bawa Wisatawan Serbu Gorontalo

Gebrakan Budaya Betalo! Fadel Muhammad Tantang DKI Bawa Wisatawan Serbu Gorontalo
Palang pintu: gabungan adat Betawi dan Gorontalo "Betalo". Foto Dok: Panitia

ASKARA – Gedung Nusantara IV DPR/MPR RI mendadak bergelora! Ribuan warga Gorontalo tumpah ruah dalam Halalbihalal dan Silaturahmi Nasional Lamahu (Huyula Heluma Lo Hulontalo), Sabtu (24/5/2025). Tak sekadar ajang temu kangen, acara ini menjadi panggung politik budaya yang membakar semangat diaspora Gorontalo se-Jabodetabek dan Bandung.

Acara mengusung  tema, "Merajut Silaturahmi Kita Rawat Jati Diri dan Persatuan" (Mopootoheta Buhuta, Modaha Tilanggulo Lipu wau Heluma Ito Hulonthalo).

Ketua Umum Lamahu, Fadel Muhammad, tampil berapi-api. Ia menegaskan, kolaborasi budaya Betawi-Gorontalo alias “Betalo” bukan main-main. Ini adalah jurus baru untuk mengangkat Gorontalo ke level nasional, bahkan internasional.

“Betalo harus jadi magnet wisata! Kita tidak sekadar kumpul, kita membangun kebanggaan baru dari akar budaya,” teriak Fadel di hadapan para tokoh nasional, termasuk Wiranto dan perwakilan Gubernur DKI.

Ia menegaskan bahwa sinergi budaya Gorontalo-Betawi atau “Betalo” bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi bisa menjadi senjata ekonomi yang menghidupkan UMKM dan pariwisata!

"Kami ingin mengembangkan sumber daya manusia, mendorong pariwisata, serta menghubungkan Gorontalo dengan Jakarta dalam berbagai aspek,". ujar Fadel dengan penuh semangat. Tak hanya budaya, sektor pertanian pun disorot sebagai kekuatan masa depan Gorontalo yang harus mendapat perhatian lebih dari pemerintah pusat dan daerah.

Fadel melontarkan tantangan terbuka ke Pemda DKI Jakarta: bantu dukung UMKM Gorontalo di pusat-pusat ekonomi seperti Sarinah! “Gorontalo harus tampil di etalase nasional. Jangan cuma jadi penonton!” cetusnya.

Ia juga mengumumkan hajatan budaya akbar Betalo selanjutnya bakal digelar langsung di tanah Gorontalo. “InsyaAllah, kita bawa rombongan dari Jakarta! Kita hidupkan pariwisata, kita isi pesawat ke Gorontalo penuh!” katanya.

Fadel menegaskan rencana menggelar hajatan akbar budaya Betalo langsung di Gorontalo. “InsyaAllah, acara besar Betalo berikutnya akan kita bawa ke tanah leluhur,” ujarnya lantang.

Di hadapan seribuan warga Gorontalo dan tamu undangan, Fadel menegaskan kerjasama pariwisata antara Gorontalo dan Pemda DKI Jakarta semakin diperkuat, diharapkan akan meningkatkan jumlah wisatawan ke Gorontalo.

Fadel juga menegaskan komitmennya melanjutkan program sosial, pendidikan, dan budaya yang telah dirintis Lamahu sejak 2018. Ia juga menggagas agar kolaborasi budaya Betalo menjadi agenda strategis pariwisata nasional.

“Kalau ‘Betalo’ dimaksimalkan, bisa jadi pemikat wisatawan. Kita bantu penuhi kursi-kursi pesawat ke Gorontalo dan hidupkan UMKM serta seni daerah,” tegas Fadel, yang menyebut Gubernur DKI Jakarta sebagai sahabat lamanya di ITB.

Fadel menyentil pemerintah pusat dan daerah yang dinilainya belum serius menjadikan Gorontalo sebagai tulang punggung ketahanan pangan nasional. “Potensinya luar biasa, tapi sistemnya lemah! Petani masih jalan sendiri, padahal ini bisa jadi kekuatan strategis nasional!” tegasnya lantang.

Ia menyatakan Lamahu siap jadi jembatan antara kekuatan diaspora dan pembangunan tanah leluhur. Tak hanya dalam pertanian, tapi juga pendidikan. “Kami bantu anak-anak muda Gorontalo sekolah tinggi! Ada beasiswa, ada rekomendasi, dan ada harapan yang terus kami jaga,” ucapnya penuh keyakinan.

Gorontalo, dalam visi Fadel, adalah provinsi yang tak boleh lagi dipinggirkan. “Dengan budaya kuat, pangan melimpah, dan SDM unggul, kita rebut kembali martabat daerah ini di panggung nasional,” tutupnya dengan nada menantang.

Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail tak lagi bicara basa-basi budaya, tapi langsung menantang kenyataan. “Jakarta punya Sarinah, tapi mana UMKM Gorontalo? Sudah saatnya kita rebut etalase nasional itu!” tegasnya.

Gusnar menyuarakan desakan tajam: sinergi budaya seperti Betalo harus dikerek ke level ekonomi. Tak cukup menari dan menyanyi, Gorontalo harus hadir dalam bentuk produk, kuliner, dan industri kreatif yang mengisi pusat-pusat belanja ibukota.

“Budaya sebagai pintu masuk, ekonomi sebagai kekuatan penopang!” serunya.

Pernyataan itu diperkuat oleh Jenderal (Purn) Wiranto yang mengingatkan, “Budaya adalah benteng terakhir bangsa! Jangan biarkan jati diri Gorontalo hilang di tengah arus asing."

Betalo pun kini bukan lagi sekadar akulturasi. Ia menjadi simbol perlawanan terhadap marginalisasi ekonomi, sekaligus pemicu kebangkitan UMKM Gorontalo. Acara yang dihadiri ribuan warga dan tokoh nasional ini bukan cuma reuni budaya. Ini panggilan perjuangan agar Gorontalo tak sekadar dikenang karena adatnya—tapi juga ditakuti karena kekuatan ekonominya!

Komentar