Rabu, 17 Juni 2026 | 17:04
Ruang Menulis

Peduli Dengan Kesulitan Orang Lain

Peduli Dengan Kesulitan Orang Lain
Ilustrasi

ASKARA - Betapa mulianya Islam mengajarkan kepada umatnya untuk peduli terhadap sesama. Kepedulian bukan sekadar sikap sosial biasa, tetapi merupakan laku hidup yang terhubung langsung dengan ganjaran besar di akhirat kelak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَومِ القِيَامَةِ
"Barangsiapa menghilangkan satu kesulitan seorang mukmin dari kesulitan-kesulitan dunia, maka Allah akan menghilangkan baginya satu kesulitan dari kesulitan-kesulitan hari kiamat." (HR. Muslim no. 2699)

Hadis ini begitu dalam maknanya. Ia bukan sekadar anjuran berbuat baik, melainkan janji agung dari Allah yang Maha Menepati janji. Satu kesulitan orang lain yang kita bantu ringankan, berbuah pada kemudahan kita saat menghadapi kedahsyatan Hari Pembalasan.

Dalam kehidupan sehari-hari, nilai hadis ini bisa ditanamkan sejak dini. Seorang ibu yang meminta anaknya mengambilkan garam di dapur, atau menyuruh mengambil sapu, sejatinya tengah menanam benih kepedulian dan kepekaan sosial dalam jiwa anak. Tugas-tugas kecil itu adalah latihan untuk kelak menjadi insan yang siap membantu, bukan hanya dalam ruang keluarga, tetapi meluas ke masyarakat.

Perintah seperti, “Nak, tolong ambilkan bawang goreng di meja makan,” bukan sekadar perintah remeh, tapi adalah pendidikan karakter yang membentuk pribadi ringan tangan. Sebab, kemampuan berempati, menolong, dan hadir di tengah kesusahan orang lain tak tumbuh dalam semalam, ia perlu pembiasaan, teladan, dan ketulusan.

Kepedulian sosial yang dilatih sejak kecil akan tumbuh menjadi kecerdasan sosial yang matang. Dalam dunia yang kian individualistik dan penuh kompetisi egoistik, keberadaan seseorang yang sigap membantu, hadir tanpa diminta, dan peduli tanpa pamrih adalah anugerah bagi lingkungannya. Bahkan dalam Al-Qur’an, Allah menjanjikan pertolongan-Nya bagi mereka yang menolong saudaranya:

إِن تَنصُرُوا اللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
"Jika kalian menolong agama Allah, niscaya Allah akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian." (QS. Muhammad: 7)

Membantu sesama adalah bagian dari menolong agama Allah, karena agama ini tegak bukan hanya dengan ibadah ritual, tetapi juga dengan amal sosial. Dalam ayat lain, Allah menegaskan keutamaan memberi dan menolong:

وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ
"Dan mereka mengutamakan (orang lain) atas diri mereka sendiri, meskipun mereka juga memerlukan." (QS. Al-Hasyr: 9)

Lihatlah bagaimana para sahabat mencontohkan semangat tolong-menolong yang ikhlas dan tulus. Ketika seorang dari mereka hanya memiliki satu butir kurma, ia tetap berusaha membaginya. Mereka hidup bukan dengan semangat mengambil, tetapi memberi. Bukan menghindari beban orang lain, tetapi memikulnya bersama.

Tindakan peduli terhadap kesulitan orang lain juga menjadi bentuk konkret dari akhlak para nabi. Nabi Musa ‘alaihissalam ketika tiba di Madyan, langsung menolong dua perempuan yang sedang kesulitan mengambil air. Tanpa diminta, tanpa janji balasan. Hanya karena naluri mulia seorang hamba yang ingin membantu. Allah berfirman:

فَسَقَىٰ لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّىٰ إِلَى ٱلظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّي لِمَآ أَنزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ
"Maka Musa memberi minum untuk keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa: ‘Ya Rabb-ku, sesungguhnya aku sangat memerlukan suatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.’" (QS. Al-Qashash: 24)

Ayat ini menunjukkan bahwa kepedulian kepada orang lain bukan hanya amal, tetapi juga sebab datangnya rezeki dan kebaikan dari Allah. Sebab setelah ini, Allah membalas Musa dengan tempat tinggal, pekerjaan, dan jodoh yang baik.

Dalam konteks pendidikan anak, membiasakan mereka untuk membantu, memberi, dan ringan tangan bukan semata agar mereka disenangi orang. Tapi lebih dalam, agar mereka memahami bahwa membantu orang lain adalah bagian dari jalan hidup seorang mukmin. Jalan menuju keselamatan di dunia dan akhirat. Satu tindakan kecil yang dilakukan hari ini, bisa menjadi sebab kemudahan luar biasa di Yaumil Qiyamah.

Bukanlah puncak kecerdasan itu terletak pada kemampuan menghafal teori, tetapi pada kecakapan menerjemahkan ilmu menjadi tindakan. Dan hadis Nabi di atas menuntut kita untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan, bukan hanya menyimpannya dalam buku catatan.

Ya Allah, jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang gemar meringankan kesulitan sesama. Anugerahkanlah pada kami hati yang peka, tangan yang suka memberi, dan jiwa yang ikhlas dalam beramal. Jangan Engkau jadikan kami termasuk orang-orang yang kaku hatinya, berat langkahnya, dan tumpul rasa kasihnya. Aamiin. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar