Kamis, 04 Juni 2026 | 04:51
NEWS

PSI Perlu Tentukan Sikap, "Jokowi Factor" Bisa Jadi Kunci Menuju Senayan

PSI Perlu Tentukan Sikap,
Josephine Simanjuntak, anggota DPRD DKI Jakarta (Dok F-PSI)

ASKARA – Anggota DPRD DKI Jakarta periode 2024–2029 dari Fraksi Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Lamria Josephine Simanjuntak, menyerukan pentingnya menentukan arah gerak partai dalam menghadapi kontestasi Pemilu 2029. Ia menilai kehadiran Presiden Joko Widodo atau yang disebutnya sebagai “Jokowi Factor” bisa menjadi pendulum perubahan signifikan bagi PSI.

Dalam pernyataan reflektifnya, Josephine menyoroti dua kegagalan PSI dalam Pemilu 2019 dan 2024 untuk menembus ambang batas parlemen 4 persen. Meskipun mengalami peningkatan suara dari 1,89 persen menjadi 2,8 persen, PSI tetap gagal mengirimkan kadernya ke DPR RI.

“Pertanyaannya, apakah kita akan membiarkan ini terjadi untuk ketiga kalinya? Atau justru kita harus menentukan sikap: kenapa kita memilih Jokowi untuk memimpin kita?” kata Josephine, menekankan pentingnya arah dan strategi baru PSI.

Menurut Josephine, kehadiran Jokowi dalam berbagai kegiatan PSI dan pernyataannya mengenai “partai super terbuka” menjadi sinyal kuat keterlibatan sang mantan presiden dalam arah baru partai. Ia pun tidak menutup kemungkinan jika Jokowi memimpin PSI, elektabilitas partai akan terdongkrak secara signifikan.

“Jokowi meninggalkan legacy kuat. Kepuasan publik terhadapnya bahkan mencapai di atas 75 persen menjelang akhir masa jabatannya. Kalau beliau memimpin PSI, itu bisa menjadi kekuatan riil untuk melompat ke Senayan,” ujar Josephine, Senin (19/5).

Namun, ia juga menekankan bahwa kekuatan figur saja tidak cukup. PSI, menurutnya, harus mengevaluasi kerja mesin partai yang belum optimal menyasar ceruk suara kelas menengah ke bawah.

“Kita harus jujur, hubungan baik dengan Jokowi dan Kaesang saja tidak cukup kalau mesin partai tidak bekerja maksimal. Kita perlu mengorganisir, mendidik, dan membangun basis akar rumput yang kuat,” tuturnya.

Josephine juga menegaskan bahwa pendekatan “politik riang gembira” ala PSI belum tentu bisa diterjemahkan dengan baik oleh semua lapisan masyarakat. Ia menyarankan agar PSI memperkuat simpul organisasi dan memperluas daya jangkau ke kalangan masyarakat yang lebih luas.

“PSI harus mampu menjembatani idealisme anak muda dengan kebutuhan riil masyarakat. Kita perlu bersikap inklusif tanpa kehilangan arah perjuangan,” pungkasnya.

Rencananya, Kongres PSI akan digelar pada Juli 2025 di Solo, dan menjadi momentum penting untuk menentukan arah partai ke depan. Isu tentang kemungkinan Jokowi memimpin PSI pun diprediksi akan menjadi sorotan utama.

 

Komentar