May Day 2025 di Monas: Ribuan Buruh Suarakan Tuntutan, Presiden Prabowo Hadir, dan 8,7 Ton Sampah Tertinggal
ASKARA — Ribuan buruh dari berbagai organisasi dan federasi memadati kawasan Silang Monas, Jakarta Pusat, dalam peringatan Hari Buruh Internasional (May Day). Aksi ini diwarnai dengan orasi, poster-poster kritis, dan kehadiran Presiden Prabowo Subianto yang dijadwalkan memberikan pidato. Namun, perayaan ini juga meninggalkan 8,7 ton sampah di kawasan Monas.
Tuntutan Buruh:
Dalam aksi yang dipimpin oleh Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), para buruh menyuarakan enam tuntutan utama:
1. Cabut Omnibus Law UU Cipta Kerja.
2. Cabut Parliamentary Threshold 4 persen.
3. Sahkan RUU Pekerja Rumah Tangga (PRT).
4. Tolak RUU Kesehatan.
5. Reformasi Agraria dan Kedaulatan Pangan.
6. Pilih Presiden 2024 yang Pro Buruh dan Kelas Pekerja.
Presiden KSPI, Said Iqbal, menekankan bahwa aksi ini juga merupakan bentuk penolakan terhadap sistem outsourcing dan upah murah. Ia menyebutkan bahwa upah layak di Jakarta seharusnya mencapai Rp 5,2 juta per bulan, namun kenyataannya masih jauh dari angka tersebut.
Kehadiran Presiden Prabowo:
Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan hadir dan memberikan pidato dalam peringatan May Day di Monas. Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, menyatakan bahwa Presiden Prabowo menganggap buruh sebagai pilar ekonomi dan menekankan pentingnya kerja sama antara pemerintah, sektor swasta, dan buruh untuk mencapai kesejahteraan bersama.
Aksi dan Dampaknya:
Aksi May Day ini menyebabkan penutupan beberapa ruas jalan di sekitar Monas, termasuk Jalan Medan Merdeka Barat, Medan Merdeka Selatan, dan Jalan MH Thamrin. Polisi mengimbau masyarakat untuk menghindari kawasan tersebut dan mencari jalur alternatif.
Setelah aksi di Monas, sekitar 50 ribu buruh melanjutkan perjalanan menuju Stadion Madya Gelora Bung Karno (GBK) untuk melanjutkan peringatan May Day.
Dampak Lingkungan:
Peringatan May Day di kawasan Monas meninggalkan 8,7 ton sampah. Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Pusat, Slamet Riyadi, menyatakan bahwa sekitar 60 persen dari sampah tersebut adalah sampah anorganik, seperti sisa kemasan makanan. Pembersihan dilakukan oleh 100 personel satgas dari berbagai kecamatan dan menggunakan berbagai peralatan kebersihan.
Peringatan May Day 2025 di Monas mencerminkan dinamika hubungan antara buruh, pemerintah, dan masyarakat. Kehadiran Presiden Prabowo menunjukkan perhatian pemerintah terhadap isu-isu perburuhan. Namun, tuntutan buruh yang mencakup pencabutan UU Cipta Kerja dan sistem outsourcing menunjukkan masih adanya ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintah.
Dampak lingkungan dari aksi ini, berupa tumpukan sampah, menyoroti perlunya kesadaran bersama untuk menjaga kebersihan dalam setiap kegiatan massal. Koordinasi antara penyelenggara aksi dan pemerintah daerah menjadi kunci untuk memastikan bahwa aspirasi dapat disampaikan tanpa merugikan lingkungan dan masyarakat sekitar.
May Day 2025 di Monas menjadi momentum penting bagi buruh untuk menyuarakan aspirasinya. Kehadiran Presiden Prabowo memberikan harapan akan adanya dialog antara pemerintah dan buruh. Namun, tantangan tetap ada, baik dalam hal pemenuhan tuntutan buruh maupun dampak lingkungan dari aksi tersebut. Diperlukan kerja sama semua pihak untuk mewujudkan kesejahteraan buruh tanpa mengabaikan kepentingan masyarakat dan lingkungan. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar