Sekian Banyak Upaya Memperbaiki Lingkungan, Ada Satu Yang Luput: Hentikan Perang!
Oleh: Rheza Maulana, S.T., M.Si.
ASKARA - Dewasa ini, masyarakat dunia digencarkan dengan berbagai isu bencana alam. Semakin hari, semakin banyak bencana yang muncul mulai dari kekeringan, kebakaran, gagal panen, penyebaran penyakit baru, banjir, dan masih banyak lagi. Bila kita kerucutkan, bencana-bencana tersebut sebenarnya adalah “gejala” yang muncul dari “penyakit” utama yaitu lingkungan yang rusak. Salah satu pendorong kerusakan lingkungan adalah berlebihnya emisi karbon di atmosfer, yang mendorong terjadinya pemanasan global.
Bangsa-bangsa dunia saat ini tengah berpikir keras, berusaha menghasilkan cara-cara untuk mengurangi emisi karbon yang beredar dan menumpuk di atmosfer. Ilmuwan, pakar, dan ahli dengan bidang kemampuannya masing-masing merekomendasikan hal-hal yang dapat kita lakukan untuk mengurangi produksi emisi karbon, Diantara hal-hal tersebut adalah dengani beralih dari sumber energi fosil yang tidak terbarukan seperti minyak dan batu bara, ke sumber energi terbarukan atau energi bersih seperti air, angin, matahari, dan panas bumi.
Selain mengurangi produksi emisi karbon, emisi karbon berlebih yang sudah terlanjur menumpuk di atmosfer juga harus dikurangi. Cara terbaik untuk mencapai hal ini adalah memanfaatkan penyerap karbon terbaik, yaitu pepohonan di hutan. Maka, negara-negara dunia juga dianjurkan untuk memperbaiki hutan yang rusak, dan melakukan perluasan hutan. Semakin luas dan banyak hutan yang ada, maka semakin banyak pula emisi karbon yang terserap.
Namun, perlu diketahui bahwa sumber produksi emisi karbon bukan hanya dari pembakaran untuk keperluan sumber energi, transportasi, atau manufaktur pabrik saja. Ada satu sumber yang mungkin luput dipikirkan sebagian dari kita, dan sumber ini masih terus menerus dibiarkan menghasilkan emisi karbon dalam skala besar. Negara-negara dunia pun hingga kini belum menemukan kesepakatan untuk mengurangi atau menghentikan sumber emisi karbon yang satu ini. Sumber tersebut adalah perang! Dan pada saat ini, perang mana lagi yang lebih dahsyat dari perang yang dilancarkan bangsa Israel kepada Palestina?
Mari kita segarkan ingatan kita kembali, sedari tahun 1948, sekumpulan kelompok yang menjuluki dirinya bangsa Israel, melalui pendanaan dari sejumlah negara-negara tertentu, terus melancarkan serangan ke tanah Palestina. Serangan-serangan ini ditujukan sebagai bentuk okupansi, pemusnahan etnis, dan genosida. Tujuan akhir dari serangan-serangan ini pada dasarnya adalah untuk menggusur warga negara Palestina dan merebut tanah Palestina tersebut. Sejak 1948, setidaknya Israel telah melakukan belasan serangan dengan skala perang kepada Palestina. Serangan yang paling terkini dimulai pada Oktober 2023 yang hingga kini masih berlangsung.
Suatu studi yang berjudul “A Multitemporal Snapshot of Greenhouse Gas Emissions from the Israel-Gaza Conflict” yang dipublikasikan di the Social Science Research Network, menyatakan bahwa emisi karbon yang dilepaskan ke atmosfer dari hasil serangan Israel ke Palestina hanya dalam kurun waktu 2 bulan adalah 281.315 metrik ton. Banyangkan, jumlah emisi karbon yang dihasilkan dari serangan selama 2 bulan saja dapat dikatakan setara dengan pembakaran dari 75 pembangkit listrik tenaga batu bara yang beroperasi selama setahun penuh! Jumlah tersebut juga setara dengan emisi karbon 20 negara lainnya dalam setahun. Jumlah tersebut didapat dari perhitungan total emisi karbon dari berbagai kegiatan selama serangan Israel, seperti penggunaan pesawat tempur jenis F-16 dan F-35, pengiriman pasokan perang menggunakan pesawat Boeing 777-200, ledakan-ledakan yang dihasilkan oleh bom berbahan dasar trinitrotoluene (TNT), artileri darat, peluru, senjata, tank, dan berbagai macam kendaraan perang lainnya.
Bayangkan saja, jumlah emisi karbon sebesar itu dihasilkan hanya dalam kurum waktu 2 bulan dan kini serangan tersebut sudah berlangsung hampir 2 tahun! Itu pun baru dari serangan terbaru ini, bagaimana dengan bila kita hitung serangan-serangan sebelumnya selama puluhan tahun? Tak hanya emisi karbon akibat perang, Israel juga diketahui dengan sengaja memompa air laut untuk membanjiri terowongan-terowongan di jalur Gaza, Palestina. Konsekuensi dari tindakan tersebut adalah risiko pencemaran yang merusak kualitas tanah dan air di area sekitar. Dengan demikian, Israel bukan hanya Tengah melancarkan genosida, tetapi juga ekosida! Mengapa demikian? Karena dampak kerusakan lingkungan sedahsyat itu tentunya tidak hanya dirasakan oleh negara Palestina dan sekitarnya, tapi ke seluruh penjuru bumi ini.
Kenyataan ini tentunya sangat miris dan membuat kita semua kebingungan, mengingat bangsa-bangsa barat kini sangat gencar dengan suruhan, himauan, dan ajakan mengurangi kerusakan lingkungan. Namun, dapat dikatakan bangsa-bangsa tersebut tidak mampu menghentikan sumber kerusakan lingkungan dalam wujud serangan Israel. Padahal serangan tersebut telah terbukti menyebabkan kerusakan lingkungan yang sangat dahsyat, secara terus menerus tanpa henti selama bertahun-tahun. Apalagi baru-baru ini Presiden Amerika Serikat terpilih, Donald Trump, memutuskan untuk keluar dari Paris Agreement (perjanjian melawan dampak pemanasan global). Sebaliknya, Amerika Serikat justru mendanai serangan Israel ke Palestina sejumlah ratusan trilyun Rupiah! Ketimbang mengeluarkan dana ratusan triltun untuk memperbaiki lingkungan, dana tersebut justru digunakan untuk merusak lingkungan.
Kondisi ini layaknya perumpamaan “tong bocor”, kita dapat lakukan apapun tapi selama kebocoran tidak ditambal maka air akan terus bocor keluar dan masalah tidak akan selesai. Oleh karena itu, adalah tanggung jawab kita semua untuk menyadari kenyataan ini. Upaya mencegah kerusakan lingkungan tidak dapat dilakukan setengah-setangah, semua faktor haruslah dipertimbangkan. Maka, mencegah kerusakan lingkungan tidak akan dapat tercapai, tanpa mengentikan serangan Israel ke Palestina. Mendukung serangan Israel ke Palestina, sama saja seperti mendukung kerusakan bumi ini. Transisi ke energi bersih, restorasi dan perluasan hutan, beralih ke gaya hidup ramah lingkungan, itu semua harus tetap dilakukan dan ditambah satu lagi: hentikan perang!
Tentang Penulis:
Rheza Maulana, S.T., M.Si. adalah seorang peneliti dan aktivis lingkungan dengan latar belakang Magister Ilmu Lingkungan dari Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia. Ia aktif mengedukasi berbagai isu lingkungan, termasuk perlindungan habitat alami, konservasi satwa liar, perubahan iklim, serta upaya-upaya ramah lingkungan. Ia berupaya mendorong kesadaran masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan dan menciptakan masa depan yang lebih berkelanjutan.

Komentar