Paus Fransiskus dan Romo Sutopanitro Pulang Bersama Cahaya Paskah
ASKARA - Vatikan dan dunia berduka. Paus Fransiskus, pemimpin umat Katolik sedunia, wafat pada Senin (21/4), usai menjalani Tri Hari Suci Paskah dengan penuh pengorbanan dan kasih. Meski dalam kondisi fisik yang melemah, beliau tetap menunjukkan dedikasi dan cinta kasihnya hingga akhir hayat.
Di hari Kamis Putih, Paus Fransiskus masih sanggup membasuh kaki para narapidana dalam ritual penuh makna, simbol kerendahan hati dan pelayanan. Dalam momen menggetarkan itu, Paus bahkan mencium kaki mereka, menghadirkan kehadiran Kristus di tengah yang terpinggirkan.
Pada Minggu Paskah, ribuan peziarah memenuhi Lapangan Santo Petrus. Dalam kondisi lemah, Paus Fransiskus masih sempat memberkati umat dari balkon Basilika Santo Petrus. Tangan yang gemetar itu tetap terangkat memberi damai, seakan menjadi salam perpisahan terakhir dari seorang gembala sejati.
Sementara itu, duka juga menyelimuti Gereja Katolik Indonesia. Romo Letkol Laut (Purn) Stanislaus Sutopanitro, Pr, wafat pada Jumat Agung, hari wafatnya Kristus, dan dimakamkan pada Senin (21/4), di hari yang sama dengan wafatnya Paus Fransiskus.
Romo Stanislaus dikenal sebagai sosok imam dan prajurit. Selama hidupnya, ia tak hanya setia pada altar tetapi juga mengabdi dalam tugas kenegaraan. Kedisiplinan militer berpadu dengan kelembutan pastoral menjadikannya teladan bagi banyak umat.
Kepergian dua tokoh ini dalam rentang waktu yang berdekatan menorehkan duka mendalam bagi umat Katolik di seluruh dunia. Namun, keduanya meninggalkan warisan iman, kasih, dan pengabdian yang akan terus dikenang lintas generasi.
Dunia mungkin kehilangan dua gembala, namun surga bersukacita menyambut mereka. Doa-doa pun bergema di seluruh penjuru dunia, mengiringi kepergian dua pelayan Tuhan menuju kehidupan kekal.

Komentar