Senin, 20 Juli 2026 | 02:59
COMMUNITY

Paus Fransiskus di Mata Menag: Pemimpin yang Mengajarkan Cinta Tanpa Sekat

Paus Fransiskus di Mata Menag: Pemimpin yang Mengajarkan Cinta Tanpa Sekat
Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar, MA, ketika menyampaikan kata pembuka dial9g antar agama yang diselenggarakan Vox Point Indonesia (Dok Askara)

ASKARA - Langit Jakarta bersinar terang, Rabu (28/5). Di bawah kubah megah Masjid Istiqlal, tokoh lintas agama berkumpul dalam suasana penuh keteduhan spiritual. Tak ada suara yang meninggi, tak ada perbedaan yang mengeras menjadi sekat. Yang mengalir hanyalah dialog, penghormatan, dan kesadaran akan pentingnya menjadi manusia seutuhnya yang mencintai dan dicintai.

Di tengah forum bertajuk "The Servant Leadership of Pope Francis," Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar, MA, berdiri dengan penuh ketenangan. Ia memulai pidatonya bukan dengan retorika kebangsaan, tetapi dengan hati. Dengan suara yang berat namun lembut, ia menyebut nama yang kini telah menjadi simbol kemanusiaan global, Paus Fransiskus.

"Kepemimpinan Paus Fransiskus itu, menurut saya, adalah the real servant leadership, kepemimpinan pelayan yang sejati," ujar Nasaruddin.

Bagi Menag, Paus bukan sekadar pemimpin umat Katolik. Ia adalah figur lintas batas yang melampaui doktrin, melintasi tradisi, dan mengakar pada satu nilai universal, kasih.

Pertemuan yang Menggetarkan Jiwa

Dalam pidatonya, Menag Nasaruddin mengenang sebuah momen yang ia sebut sebagai pertemuan spiritual, perjumpaannya dengan Paus Fransiskus. Tanpa menjelaskan secara detil, ia menggambarkan pertemuan itu sebagai pengalaman batin yang mendalam, dimana cinta kasih tidak mengenal nama agama, dan penghormatan tidak memerlukan seragam keyakinan.

"Orang baik itu tidak pernah mati," katanya perlahan. "Secara biologis mungkin telah wafat, tapi secara spiritual, mereka tetap hidup dalam jiwa kita."

Tak sulit membayangkan bahwa bagi Nasaruddin, Paus Fransiskus adalah contoh manusia yang baik itu, yang hidup tidak hanya untuk dirinya, tetapi menjadi cahaya bagi sesama, bahkan dalam diam.

Bukan Tembok, Tapi Terowongan

Pidato itu bukan semata penghormatan simbolik. Menag membawa gagasan besar ke dalam ruang konkret, tentang bangunan fisik yang menyimbolkan persaudaraan iman. Ia menunjuk pembangunan terowongan penghubung antara Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral sebagai contoh arsitektur perdamaian.

"Paus berkata, jangan bangun tembok. Karena tembok itu simbol ketidakmanusiawian. Di Istiqlal, kita membangun terowongan, jalan penghubung," ungkap Nasaruddin.

Ini bukan sekadar metafora. Dalam dunia yang sering kali terbelah oleh fanatisme dan intoleransi, jembatan seperti itu adalah tanda bahwa manusia bisa memilih jalan cinta, bukan curiga; jalan damai, bukan prasangka.

Menanam Cinta Sejak Dini

Bicara agama di Indonesia sering menjadi ranah sensitif. Namun Menag tidak gentar menyuarakan pentingnya reformasi dalam pendidikan agama. Ia mengingatkan bahaya indoktrinasi kebencian sejak usia dini dan menyerukan agar pendidikan agama menjadi ruang menanamkan cinta kasih.

"Jangan ada guru agama mengajarkan kebencian kepada anak-anak. Sejak dini, ajarkan bahwa perbedaan adalah rahmat," ujarnya tegas.

Lebih dari itu, Nasaruddin menawarkan ide segar, mengubah pendekatan teologi. Ia menyebut teologi kita terlalu maskulin, terlalu normatif, bahkan terlalu keras. "Tuhan kita adalah Tuhan yang penuh kasih. Maka, mari kita ciptakan sistem teologi yang lebih feminin, yang lebih memeluk daripada menekan," serunya.

Dialog yang Menyatukan

Acara yang digelar Vox Point Indonesia di Masjid Istiqlal itu bukan hanya pidato satu arah. Hadir pula para pemuka agama dari berbagai latar belakang, seperti Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, OSC (Ketua KWI), Pdt. Jacklevyn Fritz Manuputty, Rm. Agustinus Heri Wibowo, Prof. Philip K. Widjaja, Johanes B Handoyo (Ketua Umum Vox Point Indonesia) dan lain-lain. Mereka duduk sejajar, bukan saling menilai, melainkan saling mendengar.

Moderator, Dr. Goris Lewoleba, memandu acara dengan tenang dan reflektif, sementara penutup yang hangat datang dari Romo Kolonel (Sus) Yos Bintoro, Pr, sosok yang juga menjabat sebagai Wakil Uskup di lingkungan TNI-Polri. Penutupan itu tak hanya menjadi akhir dari sebuah dialog, tapi juga ajakan untuk memulai langkah nyata dalam membangun kebersamaan di tengah keberagaman.

Akhir yang Baru

Dialog itu mungkin hanya berlangsung satu hari. Tapi gaungnya terasa lebih panjang. Di tengah riuhnya dunia yang kadang lupa untuk diam dan mendengar, kata-kata Menag dan semangat Paus Fransiskus menjadi pengingat, bahwa menjadi pemimpin bukan tentang siapa yang paling keras bersuara, melainkan siapa yang paling dalam mencintai.

"Dan dalam cinta itulah, dinding perbedaan bisa diubah menjadi jembatan penghubung, seperti terowongan kecil antara Istiqlal dan Katedral, yang menuntun kita menuju cahaya yang sama," kata Romo Kolonel (Sus) Yos Bintoro, Pr.

 

 

 

Komentar