Senin, 15 Juni 2026 | 23:14
NEWS

Viral! Gubernur Papua Barat Daya Berpidato dalam Bahasa Arab di Acara Halal Bihalal

Viral! Gubernur Papua Barat Daya Berpidato dalam Bahasa Arab di Acara Halal Bihalal
Gubernur Papua Barat Daya, Elisa Kambu saat memberikan sambutan

ASKARA – Momen tak biasa terjadi saat acara Halal Bihalal pasca Idul Fitri 1446 H di Pondok Pesantren Hidayatullah SP3, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya pada 11 April 2025. Gubernur Papua Barat Daya, Elisa Kambu, S.Sos., mencuri perhatian publik dengan menyampaikan pidato dalam bahasa Arab dan viral di media sosial!

Dalam pidatonya, Elisa Kambu menegaskan bahwa Papua Barat Daya adalah rumah bagi semua agama, di mana masyarakat hidup rukun dan menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi.  

“Kami hidup rukun, menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi semua agama,” ujar Elisa Kambu. Pernyataan ini mencerminkan komitmen pemerintah daerah dalam memperkuat persatuan dan kerukunan antarumat beragama.  

Respon Positif dan Viral di Media Sosial

Pidato Elisa Kambu mendapat apresiasi luas dari masyarakat. Penggunaan bahasa Arab oleh seorang gubernur dinilai sebagai bentuk kedekatan dengan masyarakat Muslim sekaligus simbol komitmen terhadap keberagaman. Momen ini pun menjadi viral di berbagai platform media sosial.  

Acara tersebut juga dihadiri oleh Wakil Gubernur Ahmad Nausrauw dan para tokoh agama, serta masyarakat sekitar  Suasana hangat dan penuh kebersamaan terasa kental dalam kegiatan yang sarat makna ini.

Acara ditutup dengan doa bersama lintas agama, sebagai harapan untuk Papua Barat Daya yang semakin damai, makmur, dan toleran. Momentum ini sekaligus menegaskan peran strategis pemerintah dalam mempererat hubungan sosial dan keagamaan di tengah keberagaman masyarakat.

Kegiatan Halal Bihalal ini menjadi simbol nyata komitmen pemerintah dan masyarakat Papua Barat Daya dalam menjaga keharmonisan dan keberagaman. Penggunaan bahasa Arab oleh kepala daerah non-Muslim menjadi sorotan positif dan simbol bahwa toleransi bukan sekadar slogan, tapi juga tindakan nyata. 

Aksinya menggunakan bahasa Arab di depan para santri bukan hanya simbol, tapi cermin dari kepemimpinan yang merangkul semua. Elisa Kambu membuktikan bahwa menjadi pemimpin bukan soal asal-usul, tapi soal keberanian, dedikasi, dan komitmen untuk semua rakyat.

Masyarakat memuji tindakan Elisa sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi umat Islam dan komitmen kuat dalam membangun harmoni sosial. Semoga semangat toleransi ini terus terjaga, menjadikan Papua Barat Daya sebagai contoh persatuan di tengah keberagaman.

Perjalanan Karier Elisa Kambu

Nama Elisa Kambu, S.Sos., kini menjadi sorotan nasional setelah aksinya yang viral berpidato dalam bahasa Arab di acara Halal Bihalal. Tapi jauh sebelum itu, pria kelahiran 12 Mei 1964 ini sudah dikenal sebagai politikus tangguh dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), dengan kiprah panjang dari Kabupaten Asmat hingga ke kursi Gubernur Papua Barat Daya.

Elisa memulai karier politiknya di Pilkada Asmat 2015 bersama Thomas Eppe Safanpo. Duet ini berhasil menang dengan 53% suara sah, dan resmi menjabat sebagai Bupati dan Wakil Bupati Asmat tahun 2016. Kepemimpinan mereka terbukti solid, hingga akhirnya kembali dipercaya rakyat pada Pilkada 2020, bahkan dengan dukungan dari 9 partai besar, termasuk PDI Perjuangan, PKB, Gerindra, hingga Partai Demokrat. Kali ini, mereka menang lebih meyakinkan dengan 55% suara sah.

Usai dua periode sukses di Asmat, Elisa mengambil langkah besar dengan maju sebagai Calon Gubernur Papua Barat Daya dalam Pilkada 2024. Ia menggandeng Ahmad Nasrauw, tokoh Muslim dan Ketua MUI Provinsi Papua Barat. Pasangan ini mencerminkan semangat kolaborasi lintas agama dan budaya, dan diusung oleh Gerindra, PAN, dan PKB.

Kini, sebagai Gubernur terpilih Papua Barat Daya, Elisa bertekad membawa semangat inklusivitas, pembangunan berkelanjutan, serta toleransi beragama yang kuat. Dalam sambutannya, Elisa menegaskan:

“Papua Barat Daya adalah rumah bagi semua agama. Kami hidup rukun dan menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi,” tegas Elisa Kambu.

Komentar