Bung Karno Pelita Bangsa: Literasi sebagai Pilar Nasionalisme
ASKARA — Perpustakaan Proklamator Bung Karno di Blitar menggelar forum diskusi terbuka bertajuk Bung Karno Pelita Bangsa pada 12–13 April 2025. Kegiatan ini dirancang sebagai ruang bersama untuk memperkuat kesadaran literasi dan kebangsaan melalui warisan pemikiran Ir. Soekarno serta para tokoh sejarah bangsa.
Kegiatan yang digelar rutin setiap akhir pekan ini menempatkan diskusi sebagai medium utama. Semua peserta memiliki hak suara yang setara; tidak ada panggung utama, dan tidak ada batasan usia atau latar belakang. Pustakawan bertindak sebagai fasilitator, bukan narasumber tunggal. Konsepnya: belajar bersama.
Filosofi Pelita: Cahaya yang Memantik Kesadaran
Secara filosofis, “Pelita” dimaknai sebagai cahaya—simbol pencerahan yang muncul dari hati nurani, kejujuran, dan integritas. Dalam konteks ini, Bung Karno Pelita Bangsa tidak sekadar menjadi nama kegiatan, melainkan juga pernyataan sikap: menjadikan pemikiran Soekarno sebagai pelita dalam membangun peradaban bangsa.
Konsep ini sejalan dengan misi lahirnya Perpustakaan Proklamator Bung Karno yang didirikan bukan hanya sebagai ruang arsip dan dokumentasi sejarah, tetapi juga sebagai pusat pemberdayaan pemikiran kebangsaan.
Merekam Ulang Jejak Bung Karno
Diskusi pada Sabtu, 12 April, difasilitasi oleh Budi Kastowo dan diikuti 25 peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari guru, mahasiswa, hingga pelajar SMP. Topik yang dibahas mencakup latar belakang keluarga Bung Karno, riwayat pendidikan, peran dalam pergerakan nasional, hingga fase-fase krusial sebagai Presiden pertama Republik Indonesia.
Sorotan utama adalah bagaimana Bung Karno, sebagai pemimpin, juga membentuk fondasi kebudayaan dan identitas bangsa. Diskusi turut mengulas tragedi G30S sebagai titik balik kejatuhan kekuasaan Soekarno, masa penahanannya, hingga wafat dan dimakamkan di Blitar.
Materi diskusi juga menyentuh sejarah berdirinya Perpustakaan Bung Karno sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan intelektual Sang Proklamator.
Perempuan dalam Bingkai Emansipasi dan Nasionalisme
Diskusi berlanjut pada Minggu, 13 April, dengan Indrawan Gambiro sebagai fasilitator. Tema yang diangkat adalah Perjuangan Perempuan di Masa Soekarno, bertepatan dengan peringatan Bulan Kartini. Materi diskusi menyoroti peran perempuan dalam sejarah pergerakan nasional, seperti Ratu Shima, Tribhuwana Tunggadewi, Cut Nyak Dien, hingga S.K. Trimurti dan Maria Ulfah.
Pemikiran Bung Karno mengenai emansipasi juga menjadi bahan refleksi. Dalam bukunya Sarinah (1947), ia menempatkan perempuan sebagai tiang negara dan pelopor kemajuan. Bagi Soekarno, perjuangan perempuan adalah bagian tak terpisahkan dari perjuangan nasional. Hal ini ditegaskan lewat Keputusan Presiden No. 108 Tahun 1964 yang menetapkan 21 April sebagai Hari Kartini.
Diskusi turut menyinggung bagaimana kolonialisme membawa ideologi patriarki asing yang meminggirkan peran perempuan. Sebelum penjajahan, perempuan Indonesia memiliki ruang sosial yang luas, bahkan dapat menduduki posisi kepemimpinan. Bagi Bung Karno, emansipasi harus berpijak pada budaya dan jatidiri bangsa Indonesia, bukan semata meniru model Barat.
Membuka Ruang, Menjaga Api
Kegiatan Bung Karno Pelita Bangsa akan terus berlanjut setiap akhir pekan dengan tema diskusi yang beragam dan disesuaikan. Masyarakat umum diperbolehkan hadir tanpa pendaftaran, serta dapat mengajukan diri sebagai narasumber sukarelawan.
Format diskusi yang terbuka dan partisipatif memungkinkan keterlibatan masyarakat dari berbagai kalangan. Bahkan, diskusi dapat diselenggarakan di luar perpustakaan selama tempatnya memungkinkan. Dengan pendekatan ini, Perpustakaan Bung Karno menjadi lebih dari sekadar pusat literasi; ia menjadi ruang hidup untuk membangun kesadaran sejarah, politik, dan budaya bangsa.
Kegiatan ini menegaskan pentingnya literasi sebagai pilar kebangsaan. Literasi bukan sekadar membaca dan menulis, melainkan juga memahami, mengolah, dan merespons realitas sosial dengan kesadaran sejarah dan semangat kebangsaan.

Komentar