Kamis, 04 Juni 2026 | 10:17
NEWS

Survei Jakpat: Mayoritas Orang Tua Khawatir Anak Kurang Tata Krama dan Terlibat Perundungan

Survei Jakpat: Mayoritas Orang Tua Khawatir Anak Kurang Tata Krama dan Terlibat Perundungan
Ilustrasi ibu dan anak (Dok Pixabay)

ASKARA – Menjadi orang tua adalah perjalanan penuh suka cita, tantangan, dan proses belajar yang tidak ada habisnya. Setiap individu memiliki pendekatan berbeda dalam mengasuh anak, dipengaruhi oleh nilai-nilai pribadi, lingkungan, hingga ekspektasi sosial. Hal ini tercermin dalam survei terbaru yang dilakukan oleh Jakpat terhadap 983 responden di Indonesia.

Dalam survei tersebut terungkap, alasan utama seseorang memiliki anak adalah untuk meneruskan keturunan (66%) dan keyakinan bahwa anak dapat melengkapi keluarga (63%). Khusus bagi Gen X, sebanyak 62% meyakini bahwa kehadiran anak juga membuka pintu rezeki.

Persiapan Finansial Jadi Prioritas

Sebanyak 81% responden menempatkan persiapan finansial sebagai hal utama sebelum memiliki anak. Selain itu, aspek lain seperti kesiapan mental, pengetahuan pola asuh, pendidikan anak, dan kesiapan emosional juga dianggap penting oleh lebih dari 70% responden.

“Stabilitas emosional menjadi faktor kunci dalam pola asuh anak, karena anak-anak menyerap energi dan respons dari orang tuanya,” ujar Septiana Widi Sugiastuti, Research Lead di Jakpat, Kamis (10/4).

Ibu Lebih Rentan Alami Stres

Terkait pengalaman mengasuh anak, survei menemukan bahwa 3 dari 5 ibu merasa peran sebagai orang tua cukup berat, terutama dalam hal kelelahan dan stres. Sebaliknya, 1 dari 4 ayah justru menganggap peran ini relatif mudah dan menyenangkan.

Media Sosial Pengaruhi Pola Asuh

Sebanyak 64% responden mengaku terpengaruh media sosial dalam menerapkan pola asuh. Referensi utama yang mereka ikuti adalah akun para ahli seperti dokter atau psikolog (74%), pengguna media sosial dengan pola asuh menarik (73%), serta akun atau situs khusus parenting (73%).

Kekhawatiran Terbesar: Etika dan Perundungan

Isu moral dan sosial menjadi perhatian utama orang tua. Sebanyak 94% responden mengaku khawatir jika anaknya tumbuh menjadi pribadi yang tidak sopan. Lebih dari 90% juga merasa cemas jika anak mereka terlibat dalam kasus perundungan, baik sebagai korban maupun pelaku. Kekhawatiran ini bahkan melampaui isu akademik, seperti anak tidak naik kelas, yang disebutkan oleh 77% responden.

“Hasil survei menunjukkan bahwa orang tua kini semakin sadar terhadap isu sosial yang dihadapi anak, seperti bullying dan perkelahian, dibanding sekadar prestasi akademik. Orang tua harus lebih peka, karena perundungan bisa terjadi di sekolah, lingkungan sekitar, bahkan secara daring,” pungkas Septiana.

 

 

Komentar