Ki Dadigaro: Indonesia di Ambang Pengulangan Sejarah Majapahit?
ASKARA - Praktisi spiritual dan pemerhati sejarah Nusantara, Ki Dadigaro, memberikan pandangan bahwa situasi Indonesia saat ini mencerminkan tanda-tanda yang pernah terjadi pada akhir kejayaan Majapahit. Menurutnya, jika bangsa ini tidak segera mengambil pelajaran dari sejarah, maka potensi kejatuhan seperti yang dialami kerajaan besar itu bisa menjadi kenyataan.
"Majapahit adalah kerajaan yang besar, kuat, dan disegani. Namun, mereka lupa bahwa kehancuran bisa datang bukan dari luar, melainkan dari dalam. Indonesia kini berada dalam siklus yang sama," ujar Ki Dadigaro dalam sebuah diskusi, Kamis (10/4).
Salah satu penyebab utama runtuhnya Majapahit adalah perebutan kekuasaan yang tajam di antara elit politiknya. Perang Paregreg (1405–1406) menjadi pemicu melemahnya kerajaan, karena konflik internal lebih banyak menguras energi dibandingkan menghadapi ancaman eksternal. Saat ini, Indonesia pun mengalami polarisasi politik yang semakin dalam, di mana pertarungan kekuatan lama dan baru terus memanas.
Selain itu, bangkitnya kekuatan baru yang mengancam tatanan lama juga menjadi faktor yang mempercepat kejatuhan Majapahit. Saat kerajaan Hindu-Buddha ini melemah, muncul kekuatan Islam di pesisir yang akhirnya menggantikan pengaruhnya. Kini, lanskap kekuasaan di Indonesia juga mengalami pergeseran, baik dalam politik maupun ekonomi, dengan munculnya aktor-aktor baru serta pengaruh global yang semakin kuat.
Dari sisi ekonomi, kemerosotan dan ketidakstabilan sosial di akhir Majapahit terjadi akibat perang berkepanjangan serta ketidaktegasan dalam pengelolaan perdagangan. Indonesia saat ini pun menghadapi tantangan yang serupa—daya beli masyarakat menurun, ketidakpastian ekonomi meningkat, dan kebijakan yang sering berubah-ubah justru memperburuk keadaan.
Lebih lanjut, ketidakpuasan rakyat yang terus meningkat juga menjadi pertanda buruk bagi stabilitas suatu negara. Ki Dadigaro menyoroti bahwa di masa akhir Majapahit, banyak daerah yang mulai memberontak karena merasa pusat kerajaan gagal mengelola pemerintahan dengan baik. Kini, gelombang kritik terhadap pemerintah semakin besar, ditambah dengan maraknya aksi demonstrasi dan ketidakpuasan terhadap kebijakan yang dianggap tidak berpihak pada rakyat.
Ki Dadigaro juga menyoroti pergeseran nilai dan identitas bangsa sebagai faktor penting dalam siklus sejarah. Jika dulu Majapahit runtuh di tengah perubahan dari budaya Hindu-Buddha ke Islam, kini Indonesia menghadapi tantangan akibat globalisasi, teknologi, serta pergeseran ideologi yang semakin tajam. Menurutnya, jika tidak ada upaya untuk menjaga akar budaya bangsa, maka fondasi negara bisa rapuh.
Namun, bukan berarti Indonesia harus menerima nasib serupa Majapahit. Ki Dadigaro mengingatkan bahwa dari kehancuran Majapahit, muncul kekuatan baru seperti Demak yang lebih adaptif dengan zaman. Artinya, perubahan memang tak terelakkan, tetapi harus diarahkan ke jalan yang benar agar tidak menjadi kehancuran total.
"Sejarah selalu berulang bagi mereka yang tidak belajar darinya. Jika kita ingin Indonesia tetap tegak, maka pemimpin harus bijak, rakyat harus bersatu, dan nilai-nilai kebangsaan harus dijaga," tegasnya.
Di akhir pernyataannya, Ki Dadigaro menekankan bahwa Indonesia masih punya kesempatan untuk bangkit. Namun, keputusan ada di tangan para pemimpin dan rakyatnya—apakah akan jatuh seperti Majapahit, atau justru bangkit dengan wajah baru? Waktu yang akan menjawab.

Komentar