Fenomena Demi Viral: Di Mana Letak Rasa Malu Kita?
ASKARA - Dalam era digital yang semakin maju, banyak individu berlomba-lomba menciptakan konten demi popularitas di media sosial. Demi mendapatkan like, followers, dan subscribe, tak jarang seseorang rela melakukan apa saja tanpa mempertimbangkan norma dan etika. Lantas, bagaimana posisi nilai-nilai keislaman dalam fenomena ini? Bukankah rasa malu adalah bagian dari keimanan?
Di tengah gempuran tren media sosial, muncul kekhawatiran akan lunturnya nilai-nilai akhlak dalam kehidupan masyarakat, terutama dalam menjaga rasa malu. Banyak orang yang mengabaikan batasan moral hanya demi mendapatkan perhatian publik di dunia maya. Sayangnya, tidak sedikit dari mereka yang mengaku sebagai seorang Muslim, tetapi justru melakukan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran Islam, hanya demi viral.
Islam sangat menekankan pentingnya rasa malu sebagai bagian dari akhlak yang luhur. Dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"الْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ"
"Malu merupakan bagian dari keimanan." (HR. Muslim, no. 161)
Hadits ini menegaskan bahwa rasa malu bukanlah kelemahan, melainkan karakteristik utama seorang mukmin yang menjaga dirinya dari perbuatan tercela. Rasa malu akan mencegah seseorang dari melakukan kemaksiatan dan dosa, serta mendorongnya untuk tetap berada di jalan kebaikan.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda:
"الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ"
"Iman itu ada 70 atau 60 sekian cabang. Yang paling tinggi adalah perkataan ‘laa ilaha illallah’ (tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah), yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalanan, dan sifat malu merupakan bagian dari iman." (HR. Bukhari no. 9 dan Muslim no. 35)
Dari hadits ini, kita memahami bahwa rasa malu adalah bagian dari identitas seorang Muslim. Seseorang yang memiliki rasa malu tidak akan melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma agama dan moral, seperti berjoget ria tanpa batas, mengumbar aurat, atau membuat konten yang melanggar kesopanan hanya untuk mengejar ketenaran sesaat.
Lebih lanjut, dalam hadits lain, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"إِنَّ لِكُلِّ دِينٍ خُلُقًا، وَخُلُقُ الْإِسْلَامِ الْحَيَاءُ"
"Setiap agama memiliki akhlak dan akhlak Islam adalah malu." (HR. Ibnu Majah : 4182, disahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahih : 940)
Hadits ini menunjukkan bahwa rasa malu adalah karakteristik utama dalam Islam. Oleh karena itu, seorang Muslim sejati harus memiliki rasa malu dalam segala aspek kehidupannya—malu untuk melakukan dosa, malu untuk berbuat maksiat, dan malu ketika meninggalkan kebaikan.
Fenomena menghalalkan segala cara demi ketenaran di media sosial seharusnya menjadi refleksi bagi kita semua. Sebagai seorang Muslim, sudah seharusnya kita menjaga martabat dan marwah diri dengan menjunjung tinggi rasa malu. Jangan sampai demi konten, kita kehilangan identitas sebagai seorang yang beriman.
Semoga Allah membimbing kita untuk selalu menjaga akhlak dan menjauhi perbuatan yang tidak berfaedah. Ya Allah, bekalilah kami dengan sifat malu yang mulia ini dan beri kami taufiq untuk menjauhi segala bentuk maksiat dan dosa. Aamiin. (Dwi Taufan Hidayat)
