Rabu, 17 Juni 2026 | 18:20
OPINI

Islam: Agama yang Mempersatukan Tuhan dan Manusia

Islam: Agama yang Mempersatukan Tuhan dan Manusia
Budi Kastowo, Sub Koordinator Kerjasama dan Promosi, UPT Perpustakaan Proklamator Bung Karno (Dok Pribadi)

Oleh: Budi Kastowo

ASKARA - Tulisan ini merangkum poin-poin pidato Presiden RI Ir. Sukarno pada 18 Maret 1961 di Lapangan Istana Negara, Jakarta, dalam peringatan Hari Raya Idul Fitri 1380 Hijriyah.

Ir. Sukarno menyampaikan sedikit tentang rencana pembangunan Masjid Istiqlal dengan daya tampung 25.000 orang di dalam ruangan dan 70.000 orang di halaman luar. Masjid ini bertujuan utama sebagai tempat ibadah, namun lebih dari itu, juga menjadi simbol kemegahan Islam di Indonesia dan dunia.

Hari Raya Idul Fitri adalah momentum untuk meminta maaf atas segala kesalahan, baik yang disengaja maupun tidak, disadari maupun tidak. Idul Fitri dapat dimaknai sebagai awal kehidupan baru yang dimulai dengan kesucian tanpa dosa. Manusia memiliki kesalahan terhadap tiga aspek utama, yaitu kepada Tuhan, kepada negara, dan kepada kehidupan lainnya. Negara memiliki kesalahan terhadap warganya, begitu pula sebaliknya.

Islam mengajarkan keseimbangan dalam hubungan antara manusia dan Tuhan. Islam tidak hanya mengajarkan khalwat (menyendiri) di gunung atau gua, tetapi juga menekankan persatuan antarmanusia. Contohnya adalah wukuf di Padang Arafah, yang mengajarkan kesetaraan dan kebersamaan. Umat Islam juga diwajibkan sholat lima kali sehari dengan menghadap Ka'bah, yang melatih kekompakan manusia dengan Tuhan serta sesama manusia.

Selain itu, Islam menanamkan nilai kolektivitas dan kebersamaan. Gerakan seragam dalam perbedaan menjadi bukti nyata bahwa Islam mengajarkan persatuan di tengah keberagaman suku, ras, bahasa, bangsa, politik, budaya, hobi, kedudukan sosial, serta tingkat ekonomi.

Dengan demikian, bangsa Indonesia harus teguh secara batin kepada Allah dan tegak secara jiwa dalam membangun karakter kebangsaan. Bangsa ini harus berdiri kokoh dalam mewujudkan tujuan nasional, yakni menciptakan masyarakat yang adil dan makmur dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Semua ini harus diwujudkan di tengah pergaulan dunia tanpa adanya exploitation de l’homme par l’homme—penindasan manusia atas manusia lainnya.

 

Rabu, 4 April 2025

Penulis adalah, Sub Koordinator Kerjasama dan Promosi, UPT Perpustakaan Proklamator Bung Karno

 

Komentar