Rabu, 17 Juni 2026 | 21:25
NEWS

Pesan Idulfitri: Menegakkan Keadilan sebagai Fitrah Masyarakat

Pesan Idulfitri: Menegakkan Keadilan sebagai Fitrah Masyarakat
Salat Idulfitri di halaman Masjid At Tabayyun, Taman Villa Meruya, Jakarta Barat (Dok Marah Sakti)

ASKARA - Idulfitri bukan sekadar momen kembali ke fitrah pribadi, tetapi juga kesempatan untuk menegakkan keadilan dalam kehidupan bermasyarakat. Hal ini disampaikan oleh salah satu imam Masjid Istiqlal, Ustadz Muhdori Abdur Razak, M.Pd, dalam khutbahnya usai salat Idulfitri di halaman Masjid At Tabayyun, Taman Villa Meruya, Jakarta Barat, Selasa (1/4).

Dalam khutbahnya yang dihadiri sekitar 1.000 jemaah, Ustadz Muhdori menekankan bahwa amanah keadilan masih sering terabaikan. Ia mengutip hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan Imam Bukhari: "Jika amanah telah disia-siakan, maka tunggulah kehancuran (kiamat)." Menurutnya, kondisi saat ini menunjukkan masih adanya ketimpangan hukum dan kepentingan segelintir pihak yang menghambat keadilan.

“Kita menyaksikan berbagai tantangan, dari melonjaknya harga kebutuhan pokok hingga ketimpangan dalam hukum. Keputusan yang diambil seharusnya berorientasi pada kemaslahatan bersama, bukan hanya untuk kepentingan kelompok tertentu,” ujarnya.

Ustadz Muhdori juga mengutip pemikiran ulama besar Ibn Taimiyyah yang menyatakan bahwa Allah akan menolong negara yang adil meskipun penduduknya kafir, namun tidak akan menolong negara yang zalim meskipun penduduknya Muslim. Ia juga merujuk sejarawan Will Durant dan Arnold Toynbee yang menegaskan bahwa ketidakadilan adalah penyebab utama runtuhnya peradaban.

Seruan untuk Menegakkan Keadilan

Dalam khutbahnya, Ustadz Muhdori mengajak masyarakat untuk berani menyuarakan kebenaran. Ia mengingatkan pesan Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin: "Jika manusia diam terhadap kezaliman, maka orang zalim akan mengira bahwa dirinya berada di atas kebenaran." Menurutnya, keadilan harus menjadi pegangan agar bangsa ini tidak mengalami kemunduran.

“Hukum tidak boleh hanya tegas kepada rakyat kecil, tetapi lemah terhadap mereka yang berkuasa. Inilah tantangan besar yang harus kita hadapi bersama,” katanya.

Ia juga menegaskan bahwa Idulfitri harus menjadi momentum untuk memperjuangkan nilai-nilai kebenaran. Ustadz Muhdori mengutip firman Allah dalam Surat Hud ayat 113 yang memperingatkan agar umat Islam tidak cenderung kepada orang-orang zalim agar tidak tersentuh api neraka.

Doa untuk Bangsa dan Pemimpin

Di akhir khutbah, Ustadz Muhdori memimpin doa bagi bangsa Indonesia, umat Islam, serta Presiden Prabowo Subianto. Ia berharap kepemimpinan Prabowo dapat membawa keadilan bagi seluruh rakyat.

“Ya Allah, limpahkanlah taufik dan hidayah-Mu kepada hamba-Mu, Bapak Presiden Prabowo Subianto. Bimbinglah hatinya dengan cahaya hikmah, teguhkanlah langkahnya dalam menegakkan keadilan, dan lembutkanlah hatinya agar menjadi penolong bagi yang lemah serta pembela bagi yang terzalimi,” doanya.

Ia juga berdoa agar Indonesia dijauhkan dari perpecahan dan diberikan keberkahan serta kedamaian. “Limpahkanlah keberkahan dan rahmat-Mu kepada negeri ini, serta jadikanlah negeri ini aman dan damai,” pungkasnya.

Khutbah Idulfitri tahun ini menjadi pengingat bagi umat Islam bahwa perjuangan menegakkan keadilan adalah bagian dari fitrah kehidupan yang harus dijaga, sebagaimana kesucian hati setelah Ramadan.

 

 

Komentar