Sabtu, 13 Juni 2026 | 16:23
NEWS

Daya Beli Anjlok di Pasar Jagasatru, Prof. Rokhmin Dahuri: Ciptakan Lapangan Kerja, Bukan Sekadar Bantuan Sosial!

Daya Beli Anjlok di Pasar Jagasatru, Prof. Rokhmin Dahuri: Ciptakan Lapangan Kerja, Bukan Sekadar Bantuan Sosial!
Prof Rokhmin Dahuri mendengarkan keluhan Pedagang (Foto: Andi/CN))

ASKARA - Dalam kunjungan kerja ke Pasar Jagasatru, Kelurahan/Kecamatan Pekalipan, Kota Cirebon, Jawa Barat, pada Rabu (26/3), anggota Komisi IV DPR RI, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, M.S,  mendengar langsung keluhan para pedagang terkait penurunan daya beli masyarakat yang signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. 

Kedatangannya disambut oleh Direktur Operasional PD Pasar Maman Suryaman, Direktur Umum Dudung Abdul Rifa’i, Kabid Perdagangan Fajar, dan Kepala Pasar Jagasatru, Suwardi.

Para pedagang  mengeluhkan penurunan daya beli masyarakat yang signifikan menjelang Idul Fitri 2025. Kondisi ini sangat berbeda dibandingkan tahun sebelumnya, di mana transaksi lebih ramai dan pendapatan pedagang lebih stabil.  

Seorang pedagang daging sapi, Juju, mengungkapkan bahwa penurunan daya beli membuat pemasukannya berkurang drastis. “Modal belanja cukup besar, tapi daya beli masyarakat turun. Ini membuat kami merugi,” keluhnya.

Keluhan ini mencerminkan kondisi ekonomi riil yang lesu, di mana volume penjualan pedagang hanya mencapai 40 persen dibandingkan bulan puasa tahun lalu.

Penurunan Daya Beli dan Dampaknya

Dalam kunjungannya, Prof. Rokhmin Dahuri mengakui bahwa kenaikan harga jelang Idul Fitri adalah fenomena tahunan yang wajar. “Kenaikan harga bervariasi, maksimum 20 persen. Minyak goreng pun masih sesuai dengan harga eceran yang ditetapkan pemerintah,” jelasnya.

Prof. Rokhmin Dahuri menyoroti fakta bahwa penurunan daya beli bukan hanya terjadi di pasar, tetapi juga mencerminkan kondisi ekonomi nasional.

"Banyak pedagang mengeluhkan volume penjualan mereka hanya mencapai 40 persen dibandingkan Ramadhan tahun lalu. Ini menandakan kelesuan ekonomi yang bukan hanya terlihat di bursa saham atau nilai tukar rupiah, tapi juga ekonomi riil,"  ujar politisi PDI Perjuangan ini. 

Faktor Utama: Maraknya PHK

Prof. Rokhmin Dahuri menjelaskan bahwa salah satu penyebab utama penurunan daya beli adalah pemutusan hubungan kerja (PHK) yang marak terjadi di berbagai sektor industri. “Sudah ada ratusan ribu PHK karena daya saing industri kita kalah dengan Cina, bahkan dengan Bangladesh,” jelas Guru Besar IPB University itu.  

Sebagai solusi utama, Prof. Rokhmin Dahuri menekankan pentingnya penciptaan lapangan kerja untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

"Pemerintah harus lebih fokus pada membuka peluang kerja. Memberikan makanan bergizi gratis memang penting, tapi kalau orang tua punya pendapatan yang cukup, mereka tidak perlu diajari soal gizi," tandasnya.

Sebagai langkah konkret, Prof Rokhmin Dahuri juga meminta pemerintah untuk memperbaiki iklim investasi agar lebih menarik bagi investor. Negara maju mempermudah investasi. Dari tingkat bupati hingga presiden, semua harus membuka peluang agar modal asing masuk dan menciptakan lapangan kerja.

"Negara maju itu selalu mempermudah investasi. Mulai dari tingkat bupati hingga presiden, semua harus bisa membuka peluang agar modal asing masuk dan menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat kita," pungkasnya.  

Dengan kebijakan yang tepat, ia berharap daya beli masyarakat bisa kembali meningkat, sehingga roda ekonomi rakyat, terutama pedagang kecil di pasar tradisional, bisa kembali berputar dengan baik.

Komentar