Mafia Emas Hitam: Neraka di Tengah Laut (Seri 4)
Oleh: Dwi Taufan Hidayat
ASKARA - Raka merasakan lantai kapal bergoyang di bawah tubuhnya. Ia masih terengah-engah setelah pertarungan singkat di ruang mesin bersama Ardi. Tangan dan kakinya terasa lemah, tetapi mereka tidak bisa berhenti sekarang.
"Ardi, kita harus keluar dari sini," bisiknya.
Ardi mengangguk sambil memeriksa sisa peluru di magazinnya. "Mereka sudah tahu kita ada di sini. Kita tak punya banyak waktu."
Dari luar, suara langkah kaki semakin mendekat. Para anak buah Gozali tidak akan membiarkan mereka melarikan diri begitu saja.
Tiba-tiba, suara ledakan menggema dari luar kapal. Dentuman keras itu mengguncang seluruh lambung kapal, membuat semua orang kehilangan keseimbangan.
"Apa itu?" Raka bertanya, berpegangan pada dinding.
Ardi mengintip keluar. Dari celah pintu, ia melihat api mulai berkobar di salah satu sisi kapal. "Sepertinya ada yang menyerang kapal ini dari luar."
"Kita bisa manfaatkan kekacauan ini untuk kabur," kata Raka.
Namun, sebelum mereka bisa bergerak, pintu ruang mesin didobrak dengan paksa. Lima orang bersenjata masuk, menodongkan senjata ke arah mereka.
"Tidak ada yang ke mana-mana," kata salah satu dari mereka dengan suara dingin.
Raka dan Ardi saling bertukar pandang. Situasi mereka semakin buruk.
Di Atas Dek Kapal
Sementara itu, di atas dek, Gozali menggeram marah. Ledakan yang baru saja terjadi berasal dari salah satu tangki bahan bakar di sisi kiri kapal. Asap hitam membubung tinggi, dan api mulai merambat ke beberapa kontainer berisi BBM ilegal.
"Siapa yang melakukan ini?!" bentaknya pada anak buahnya.
Salah satu pria bersenjata berlari mendekat. "Tuan, sepertinya ada pihak luar yang mencoba menyerang kita!"
Gozali mengepalkan tinjunya. Tidak mungkin polisi bisa bergerak secepat ini. Ini pasti ulah kelompok lain yang mengincar bisnisnya.
"Kita harus segera berangkat dari sini!" serunya. "Bakar kapal itu jika perlu, tapi pastikan tak ada yang keluar hidup-hidup!"
Kembali ke Ruang Mesin
Raka dan Ardi masih dalam posisi terkepung. Kelima pria bersenjata itu tampak semakin gelisah setelah ledakan tadi.
Salah seorang pria berbadan besar mendekati mereka. "Kalian berdua seharusnya tidak ikut campur dalam urusan ini."
Ardi menyipitkan mata. "Sepertinya kami sudah terlalu dalam untuk mundur."
Pria itu terkekeh. "Sayang sekali. Karena sebentar lagi, kapal ini akan menjadi kuburan kalian."
Tiba-tiba, terdengar suara tembakan dari luar. Salah satu pria bersenjata itu tersentak, darah mengalir dari dadanya sebelum ia jatuh ke lantai.
"Serangan!" seseorang berteriak.
Memanfaatkan momen itu, Ardi dengan cepat bergerak. Ia menendang salah satu pria bersenjata ke dinding dan merebut senjatanya. Raka, meski masih terikat, menjatuhkan dirinya ke lantai dan menggulingkan tubuhnya ke belakang mesin besar untuk berlindung.
Ardi melepaskan tembakan ke arah para penjaga, menumbangkan dua orang lagi sebelum sisanya kabur.
Ardi segera memotong ikatan di tangan Raka. "Kita harus naik ke dek dan cari jalan keluar!"
Raka mengangguk, meski tubuhnya masih terasa lemah. Mereka berdua bergerak cepat keluar dari ruang mesin.
Pertempuran di Dek
Saat mereka tiba di dek, situasi semakin kacau. Anak buah Gozali sedang baku tembak dengan sekelompok orang bersenjata yang tidak mereka kenali.
"Apa yang sebenarnya terjadi di sini?" tanya Raka.
Ardi mengamati para penyerang itu. Mereka tidak memakai seragam polisi, tetapi jelas terlatih.
"Kemungkinan ini kelompok lain yang ingin merebut bisnis Gozali," jawabnya.
Di kejauhan, mereka melihat Gozali berusaha melarikan diri ke sebuah speedboat.
"Kita tak bisa biarkan dia kabur!" seru Ardi.
Mereka bergegas ke arah Gozali, menghindari tembakan yang berseliweran di sekitar mereka.
Namun, sebelum mereka bisa mendekat, seseorang menghadang mereka—salah satu tangan kanan Gozali yang bernama Johan.
"Tak ada yang bisa mengejar bosku tanpa melewati aku dulu," katanya sambil mengangkat senjatanya.
Ardi dan Raka segera berlindung di balik kontainer.
"Kau punya rencana?" tanya Raka.
Ardi menghela napas. "Satu-satunya cara adalah menghadapinya langsung."
Dengan cepat, mereka berdua bergerak keluar dari persembunyian dan mulai menyerang.
Tembakan demi tembakan dilepaskan. Johan adalah petarung yang tangguh, tetapi Ardi lebih cepat. Dalam hitungan detik, sebuah peluru mengenai bahu Johan, membuatnya terjatuh.
Namun, pertarungan belum selesai.
Gozali sudah hampir mencapai speedboatnya.
"Kita harus cepat!" teriak Raka.
Mereka berlari sekuat tenaga, tetapi Gozali sudah melompat ke atas speedboat dan menyalakan mesinnya.
Ardi mengangkat senjatanya dan menembak ke arah mesin speedboat.
DOR!
Peluru itu mengenai mesin, membuat speedboat itu meledak sebagian. Gozali berteriak saat api menjilat kapal kecilnya.
Dalam kepanikan, ia melompat ke laut.
"Dia tak akan bisa lari jauh," kata Ardi.
Sementara itu, para penyerang tak dikenal mulai mundur. Ledakan lain terdengar, dan api semakin membesar di kapal kargo.
Raka dan Ardi tahu bahwa mereka tak bisa tinggal lebih lama di sini.
"Kita harus keluar dari kapal ini sebelum semuanya meledak!"
Mereka segera mencari sekoci penyelamat dan melompat ke dalamnya. Dengan cepat, mereka menjauh dari kapal yang semakin tenggelam dalam kobaran api.
Dari kejauhan, mereka melihat kapal itu perlahan tenggelam ke dalam laut, membawa seluruh rahasia bisnis haram yang tersembunyi di dalamnya.
Namun, mereka tahu ini belum selesai.
Masih ada dalang besar di balik semua ini.
Dan mereka akan mencarinya.
(Bersambung ke Seri 5: Perburuan di Balik Bayangan)

Komentar