Senin, 15 Juni 2026 | 17:35
NEWS

FGD Cendekia Iklim Indonesia: Prof Rokhmin Dahuri Ungkap Tantangan Indonesia Di Masa Depan

FGD Cendekia Iklim Indonesia: Prof Rokhmin Dahuri Ungkap Tantangan Indonesia Di Masa Depan
Prof Rokhmin Dahuri (nomor 2 kanan)

ASKARA - Anggota DPR RI 2024 – 2029,  Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri, M.S, menekankan pentingnya pembangunan berkelanjutan Indonesia yang berada di persimpangan jalan. Ia menjelaskan bahwa Indonesia menghadapi tantangan besar dalam meningkatkan pembangunan ekonomi sambil menjaga kelestarian lingkungan. 

Di satu sisi, Indonesia perlu meningkatkan intensitas pembangunan ekonomi, memanfaatkan sumber daya alam (SDA) dan jasa lingkungan (JASLING) untuk mengatasi pengangguran, kemiskinan, stunting, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan kesejahteraan rakyat. Tujuan utamanya adalah mewujudkan Indonesia Emas pada 2045.

"Namun, di sisi lain, Indonesia juga menghadapi berbagai tantangan lingkungan seperti pencemaran, overfishing, deforestasi, degradasi ekosistem alam, hilangnya keanekaragaman hayati, dan berbagai dampak negatif akibat perubahan iklim global. Hal ini membuat Indonesia seolah-olah harus mengurangi laju pemanfaatan SDA dan JASLING," ujar Prof Rokhmin Dahuri dalam Zoom Meeting FGD "Telaah Ekonomi Berkelanjutan Indonesia: Antara Ambisi Pertumbuhan dan Realitas Krisis Ekologi" yang diselenggarakan oleh Cendekia Iklim Indonesia pada Kamis, 27 Februari 2025.

Dalam kesempatan itu, Prof. Rokhmin Dahuri mengemukakan beberapa isu penting terkait pembangunan berkelanjutan di Indonesia dalam webinar dengan tema "Pembangunan Berkelanjutan: Mengharmoniskan Pertumbuhan Ekonomi dan Pelestarian Lingkungan Menuju Indonesia Emas 2045".

Beliau kemudian menguraikan tiga paradigma pembangunan ekonomi yang berbeda dalam perspektif ekologi dan ekonomi, yaitu:

Deep Environmentalist: 1. Zero economic growth, 2. No-take zones, 3. Low utilization of natural resources and environmental services, 4. Zero population growth

Pembangunan Berkelanjutan: 1. “Development to meet the needs of the present generation without compromising the needs of future generations.” (WCED, 1987), 2. Pembangunan untuk menghasilkan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan bagi seluruh manusia secara adil, ramah lingkungan, tidak melampaui daya dukung lingkungan, dan berkelanjutan.

Growth Mania: 1. Unlimited growth, 2. Profit Maximization, 3. Selfish, 4. “Get rich dirty, clean up later”, 5. As far as “Not in my own backyard, you can pollute”.

Kunci Sukses Pembangunan 

Prof. Rokhmin Dahuri menjelaskan bahwa untuk mencapai kesuksesan pembangunan sebuah bangsa, ada beberapa kunci utama yang harus diperhatikan:

1. Punya Rencana yang Komprehensif dan Tepat

Setiap negara harus memiliki rencana pembangunan yang jelas, seperti roadmap atau blueprint yang baik dan benar. Rencana tersebut harus diimplementasikan secara berkesinambungan agar hasilnya dapat terlihat dalam jangka panjang.

2. Sumber Daya Manusia (SDM) Unggul
   
Setiap komponen bangsa harus menyumbangkan kemampuan terbaiknya untuk kemajuan dan kesejahteraan negara. Menurut Prof. Rokhmin, penting ada critical mass, yaitu minimal 60% dari total penduduk yang terdiri dari SDM unggul yang mampu berkontribusi maksimal.

3. Kerjasama yang Sinergis antar Komponen Bangsa

Pembangunan suatu bangsa memerlukan kerjasama yang baik antar berbagai elemen, seperti pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan sektor lainnya. Sinergi antar komponen ini akan mempercepat tercapainya tujuan pembangunan.

4. Pemimpin yang Kompeten dan Kuat

Kepemimpinan yang baik adalah salah satu faktor kunci dalam pembangunan. Prof. Rokhmin menekankan pentingnya pemimpin yang kompeten, mampu memimpin dengan baik, kuat, dan juga memiliki integritas yang tinggi untuk mencapai tujuan pembangunan yang diinginkan.

Keempat prinsip ini, jika diterapkan dengan baik, bisa membawa suatu negara menuju kemajuan, kesejahteraan, dan kedaulatan bangsa yang lebih baik.

Empat Modal Pembangunan

Banyak faktor yang menyebabkan Indonesia sebagai negara yang kaya SDA, tetapi belum mampu keluar dari middle-income trap dan menjadi negara maju, adil-makmur, dan berdaulat. Pada tataran praksis, penyebab itu karena kita belum punya Rencana Pembangunan Nasional yang holistik, tepat, dan benar serta diimplementasikan secara berkesinambungan. Sejak awal era Reformasi, setiap ganti presiden, Menteri, gubernur, dan bupati/walikota; kebijakan dan program nya berganti pula. Jadi, kita ibarat membangun ‘istana pasir’ atau ‘tarian pocopoco’. Tidak ada kemajuan pembangunan yang akumulatif dan berkelanjutan.

Etos kerja, produktivitas, daya inovasi, dan akhlak kita sebagai bangsa pun tergolong rendah. Dan, kita mengalami defisit pemimpin bangsa (Presiden, anggota DPR, Menteri, dan Kepala Daerah) yang capable (berkemampuan), kompeten, memiliki IMTAQ (Iman dan Taqwa) yang kokoh, berkahlak mulia, dan negarawan. “Dewasa ini, sebagian besar pemimpin bangsa sangat transaksional, ikut berbisnis, melakukan NKK (Nepotisme, Kolusi, dan Korupsi), dan hanya mementingkan diri, keluarga atau kelompok nya. Mayoritas mereka menjadi pemimpin karena pencitraan diri yang dibiayai oleh oligarki melalui para ‘buzzer’ nya,” kata Honorary Ambassador of Jeju Islands dan Busan Metropolitan City, South Korea itu.

Prof. Rokhmin Dahuri dalam kesempatan tersebut menekankan beberapa modal dasar penting yang dapat mendukung pembangunan Indonesia ke depan. Menurutnya, Indonesia merupakan salah satu dari sedikit negara di dunia yang memiliki empat potensi (modal dasar) pembangunan yang sangat besar dan lengkap untuk menjadi negara-bangsa yang maju, sejahtera (adil-makmur), dan berdaulat.

1. Jumlah Penduduk dan Bonus Demografi

Jumlah penduduk Indonesia mencapai 281,6 juta orang (terbesar keempat di dunia) dengan  jumlah penduduk terbesar keempat di dunia setelah China, India, dan Amerika Serikat.  Indonesia mendapatkan bonus demografi dari tahun 2020 hingga 2040, yang meningkatkan potensi human capital dan pasar domestik yang luar biasa besar.

"Ini berarti Indonesia memiliki potensi pasar domestik yang sangat besar, terbesar keempat di dunia," terang Ketua Dewan Pakar Masyarakat Perikanan Nusantara (MPN) itu.

Indonesia memiliki jumlah penduduk sekitar 278,4 juta orang, yang menjadikannya negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia. Dengan terus meningkatnya kelas menengah dan adanya bonus demografi antara 2020 hingga 2040, Indonesia memiliki potensi luar biasa dalam hal human capital (daya saing) dan pasar domestik yang sangat besar. Namun, potensi ini belum dimanfaatkan secara optimal.

Dari perspektif ekonomi dan bisnis, artinya segenap komoditas, produk, dan jasa yang dihasilkan (diproduksi) oleh berbagai perusahaan dan sektor ekonomi akan mudah dipasarkan di dalam negeri, dibandingkan dengan negara-negara lain dengan penduduk yang kecil.

2. Posisi Geoekonomi yang Strategis

Posisi Geoekonomi dan Geopolitik
Indonesia berada di posisi yang sangat strategis, di jantung perdagangan global (Global Supply Chain System), diapit oleh dua samudera (Pasifik dan Hindia) dan dua benua (Asia dan Australia).

Dengan letak strategis di antara dua benua dan dua samudera, sekitar 45% dari seluruh komoditas dan produk yang diperdagangkan di dunia yang bernilai 15 triliun dolar AS setiap tahunnya dikapalkan melalui Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI). 

Selain itu, Selat Malaka (ALKI-1) merupakan jalur transportasi laut tersibuk di dunia, dengan lebih dari 200 kapal melintas setiap harinya. 

"Selat Malaka (ALKI-1) merupakan jalur transportasi laut terpadat di dunia dengan sekitar 200 kapal per hari," ungkap Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) itu.

Prof. Rokhmin menyebutkan bahwa Indonesia seharusnya memanfaatkan posisi ini untuk menjadi negara produsen dan pengekspor utama di dunia agar dapat menciptakan surplus neraca perdagangan yang berkelanjutan. Namun, sejak 2010 hingga 2019, neraca perdagangan Indonesia justru mengalami defisit.

3. Kekayaan Sumber Daya Alam (SDA)

Indonesia kaya akan berbagai jenis sumber daya alam, baik yang ada di darat maupun di laut. Potensi ini seharusnya dimanfaatkan secara maksimal untuk mendorong kemajuan ekonomi negara. SDA tersebut terdiri dari. 

SDA Terbarukan (Renewable Resources): Ekosistem hutan, lahan pertanian, mangrove, terumbu karang, perikanan, dan material industri bioteknologi.

SDA Tidak Terbarukan (Non-Renewable Resources): Minyak, gas bumi, batubara, emas, tembaga, nikel, bauksit, bijih besi, mangan, mineral tanah jarang (rare earth), dan mineral lainnya.

"Artinya, Indonesia memiliki potensi produksi (supply capacity) berbagai macam komoditas, produk, dan jasa yang dibutuhkan bukan hanya oleh bangsa Indonesia (pasar dalam negeri), tetapi juga oleh bangsa-bangsa lain di dunia (pasar ekspor, global)," ujarnya.

4. Tantangan dari Bencana Alam
   
Namun, Prof. Rokhmin melihat bahwa tantangan ini dapat menjadi pembentuk etos kerja unggul, yang mendorong inovasi, kreativitas, dan semangat kewirausahaan dalam masyarakat Indonesia.

"Meskipun merupakan tantangan, kondisi ini dapat membentuk etos kerja unggul (inovatif, kreatif, dan entrepreneur) serta akhlak mulia bangsa," kata Ketua Dewan Pakar Asosiasi DPRD Kabupaten Seluruh Indonesia (ADKASI) itu.

Faktor rawan bencana ini dapat menjadi tantangan bersama untuk meningkatkan kualitas diri, sehingga bangsa Indonesia menjadi lebih produktif, berdaya saing, maju, dan sejahtera secara berkelanjutan.

Prof. Rokhmin Dahuri menekankan bahwa dengan modal dasar pembangunan yang sangat besar dan lengkap ini, Indonesia memiliki potensi yang luar biasa untuk menjadi negara yang maju, sejahtera, dan berdaulat. "Dengan potensi pembangunan yang sangat besar dan lengkap di atas, sejatinya potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 10% per tahun," ujar Prof. Rokhmin Dahuri sebagaimana dikutip dari McKinsey, 2012 dan Goldman Sachs, 2020.

Meskipun Indonesia memiliki banyak potensi luar biasa, Prof. Rokhmin mengungkapkan bahwa potensi tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan untuk kemajuan ekonomi dan kesejahteraan rakyat. Untuk itu, perlu ada langkah-langkah konkret dalam mengelola dan memaksimalkan potensi tersebut agar Indonesia dapat mencapai kemajuan yang lebih besar di masa depan.

Menurutnya, peta jalan pembangunan bangsa juga mesti mempertimbangkan potensi dan permasalahan bangsa. Kendati demikian, Indonesia memiliki potensi pembangunan (modal dasar) yang besar dan lengkap  untuk menjadi negara maju, adil-makmur, dan berdaulat (Indonesia Emas) pada 2045.

Status Pembangunan dan Permasalahan Indonesia

Prof Rokhmin memaparkan sejumlah permasalahan dan tantangan pembangunan kelautan dan perikanan. Antara lain: 1.Pertumbuhan Ekonomi Rendah (< 7% per tahun), 2. Pengangguran dan Kemiskinan, 3. Ketimpangan ekonomi terburuk ke-3 di dunia, 4. Disparitas pembangunan antar wilayah, 5. Fragmentasi sosial: Kadrun vs Cebong, dll, 6. Deindustrialisasi, 7. Kedaulatan pangan, farmasi, dan energy rendah, 8. Daya saing & IPM rendah, 9. Kerusakan lingkungan dan SDA, 10. Volatilitas globar (Perubahan iklim, China vs As, Industry 4.0).

Status pembangunan dan permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini.

1. GDP In Current Prices, 2023

Dari 200 negara anggota PBB di dunia, hanya 19 negara yang memiliki Produk Domestik Bruto (PDB) lebih dari 1 triliun dolar AS. 

2. Angka Kemiskinan

Perhitungan angka kemiskinan atas dasar garis kemiskinan versi BPS (2024) adalah pengeluaran Rp 582.932/orang/bulan. Garis kemiskinan ini adalah jumlah uang yang cukup untuk memenuhi 5 kebutuhan dasar dalam sebulan.

Sedangkan, menurut garis kemiskinan Bank Dunia (3,2 dolar AS/orang/hari atau 96 dolar AS/orang/bulan atau Rp 1.440.000/orang/bulan), pada 2023, Indonesia memiliki sekitar 111 juta jiwa yang hidup di bawah garis kemiskinan, yang mencakup sekitar 37% dari total penduduk Indonesia.

3. Permasalahan yang Dihadapi

Sejak krisis multidimensi 1997 – 1998, Indonesia mengalami deindustrialisasi, yakni suatu kondisi perekonomian negara, dimana kontribusi sektor manufakturing (pengolahan) nya sudah menurun, tetapi GNI (Gross National Income) per kapitanya belum mencapai 12.536 dolar AS (status negara makmur).

“Pada 1996 kontribusi sektor manufacturing terhadap PDB Indonesia sudah mencapai 29%, tapi tahun 2020 kontribusinya hanya sebesar 19%Padahal, seperti sudah saya sebutkan diatas, GNI perkapita Indonesia tahun lalu hanya 3.870 dolar AS,” tandasnya.

Sejak Mei 2024, Indonesia menghadapi deflasi, di mana pasokan barang lebih banyak daripada permintaan, yang berdampak pada perekonomian negara.

Yang sangat mencemaskan adalah bahwa 30% anak-anak kita mengalami stunting, 17,7% bergizi buruk, dan 10,2% berbadan kurus akibat kurang makanan bergizi (Kemenkes dan BKKBN, 2022). 

"Apabila masalah krusial ini tidak segera diatasi, maka generasi penerus kita akan menjadi generasi yang lemah fisiknya dan rendah kecerdasannya (a lost generation)," tegasnya.

Fenomena tingginya PHK, penurunan kelas menengah, serta generasi muda yang mencari peluang kerja di luar negeri (fenomena #KaburAjaDulu) menambah tantangan dalam menciptakan lapangan kerja dan mewujudkan masyarakat yang sejahtera.

Maraknya Generasi Emas yang mencari pekerjaan layak di negara lain karena terbatasnya lapangan kerja dan tergerusnya azas “meritokrasi”.

Tidak kalah mirisnya, maraknya masyarakat yang terjerat pinjaman online (PINJOL) dan judi online (JUDOL).

Utang Luar Negeri semakin membengkak, membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan menggerus kapasitas pembangunan bangsa.

Masalah lainnya, Prof. Rokhmin Dahuri mengatakan, kekurangan rumah yang sehat dan layak huni dari 45 Juta rumah tangga masih 61,7 % rumah tidak layak huni. Padahal, perumahan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia (human basic needs) yang dijamin dalam Pasal 28, Ayat-h UUD 1945. “Hingga 2021, Indeks Pembangunan Manusia Indonesia berada diurutan ke-114 dari 191 negara, atau peringkat ke-5 di ASEAN,” katanya.

Dengan demikian, Indonesia menghadapi berbagai tantangan besar dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan yang harmonis antara pertumbuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan. 

Prof. Rokhmin menekankan pentingnya keberlanjutan, penguatan sektor industri, dan pembangunan yang lebih merata agar Indonesia bisa mencapai cita-cita "Indonesia Emas 2045".

Selanjutnya, Prof. Rokhmin Dahuri, yang pernah menjabat sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan dari tahun 2001 hingga 2004, memaparkan road map pembangunan berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045. 

Beliau menjelaskan bahwa untuk mencapai tujuan tersebut, Indonesia perlu mengharmoniskan pertumbuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan.

Road Map Pembangunan Berkelanjutan Menuju Indonesia Emas 2045:

Persyaratan dari Negara Middle-Income menjadi Negara Maju, Adil-Makmur dan Berdaulat:  Pertama, Pertumbuhan ekonomi berkualitas rata-rata 7% per tahun selama 10 tahun. Kedua, Investasi + Ekspor > Konsumsi + Impor. Ketiga, Koefisien Gini < 0,3 (inklusif). Keempat, Ramah lingkungan dan berkelanjutan (sustainable).

Definisi Transformasi Struktural Ekonomi
 
Transformasi ekonomi struktural melibatkan:
1. Realokasi faktor produktif dari pertanian tradisional menuju pertanian modern, industri manufaktur, dan jasa.
 2. Realokasi faktor-faktor produktif tersebut ke dalam kegiatan sektor manufaktur dan jasa.
3. Pergeseran faktor produktif dari sektor dengan produktivitas rendah ke sektor dengan produktivitas tinggi.
4. Membangun kemampuan bangsa untuk mendiversifikasi struktur produksi nasional, menghasilkan kegiatan ekonomi baru, memperkuat hubungan ekonomi dalam negeri, dan membangun teknologi serta inovasi dalam negeri (PBB, 2008).

Pedoman Pembangunan untuk Sektor ESDM (Non-renewable Resources)

Lokasi kegiatan (proyek) harus sesuai RTRW yang benar dan sah.

Didahului dengan AMDAL dan kajian lingkungan hidup lainnya.

Bahan baku (raw materials) ESDM harus diproses sampai menjadi immediate-products dan final products (hilirisasi dan industrialisasi).

Semua kegiatan, dari tahap eksplorasi, eksploitasi (produksi), pengolahan (manufacturing), hingga distribusi raw materials dan final products harus dikerjakan secara ramah lingkungan.

Pemanfaatan dan pengelolaan ESDM harus berdasarkan pada Pasal 33, UUD 1945, yakni oleh Negara (BUMN), sehingga keuntungan (berkah) nya untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat: Pembangunan SDM (Kesehatan, Pendidikan, Pelatihan, dan Penyuluhan), Riset & Inovasi, Pembangunan Infrastruktur, dan Pembangunan Renewable Resources (Pertanian, Kelautan dan Perikanan, dan Kehutanan).

Potensi Ekonomi dari SDA

Prof. Rokhmin Dahuri mengungkapkan bahwa jika kekayaan alam Indonesia dikelola sesuai dengan Pasal 33 UUD 1945, potensi pendapatan kotor dari SDA sebesar Rp. 20,655,696 triliun dan menghasilkan pendapatan bersih (untuk APBN) sebesar Rp. 7,279,49 triliun per tahun. Hal ini akan membuat anggaran APBN lebih dari tiga kali lipat APBN 2024 yang sebesar Rp 3.000 triliun dan seharusnya dapat melunasi hutang negara hanya dalam waktu tiga tahun.

Karakter Ekonomi Modern

Anggota Dewan Penasihat Ilmiah Internasional Pusat Pengembangan Pesisir dan Lautan, Universitas Bremen, Jerman itu menjelaskan bahwa ekonomi modern yang produktif, efisien, berdaya saing, ramah lingkungan, dan berkelanjutan memiliki karakteristik sebagai berikut:

1. Ukuran unit usaha memenuhi economy of scale.
2. Menerapkan ISCMS (Integrated Supply Chain Management System).
3. Menggunakan teknologi mutakhir (inovasi) pada setiap mata rantai Supply Chain System.
4. Mengikuti prinsip-prinsip Sustainable Development: RTRW, Sustainable Utilization of Natural Resources, Pollution Control, Conservation, Design & Construction with Nature, and Mitigation & Adaptation for Global Climate Change and other Natural Hazards.

"Dengan panduan dan roadmap yang jelas, Indonesia diharapkan dapat mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan dan mewujudkan Indonesia Emas 2045. Semoga semua pihak dapat bekerja sama untuk mencapai visi tersebut," kata Prof Rokhmin Dahuri.

Komentar