Kamis, 04 Juni 2026 | 10:48
NEWS

Jadi Pembicara di FGD Hulunisasi Rumput Laut

Prof Rokhmin Dahuri Ungkap Potensi Rumput Laut Menjadi Game Change Menuju Indonesia Emas 2045.

Prof Rokhmin Dahuri Ungkap Potensi Rumput Laut Menjadi Game Change Menuju Indonesia Emas 2045.
Prof Dr Ir Rokhmin Dahuri MS

ASKARA - Anggota DPR RI 2024 – 2029, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS, menegaskan bahwa komoditas rumput laut memiliki potensi besar untuk menjadi game changer (sumber pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, kesejahteraan, dan ketahanan pangan secara berkelanjutan) dalam mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia menuju Indonesia Emas 2045. 

Hal itu disampaikan Prof Rokhmin Dahuri saat menjadi narasumber pada acara Forum Group Discussion (FGD) “Hulunisasi Rumput Laut dan Potensi Rumput Laut sebagai Penyerap Karbon” INDOPOSCO dan Yayasan Samudera Indonesia Timur, yang digelar secara daring pada Senin, 3 Februari 2025.

Pembicara lain dalam FGD tersebut yakni Ir. Nono Hartanto (Direktur Rumput Laut di Kementerian Kelautan dan Perikanan), Prof. Dr. Charlotha Irenny (akademisi dan peneliti karbon dari Universitas Pattimura), Dr. Ir. Irzal Effendi, M.S (dosen IPB University), Dr. Ir. Aji Sularso (praktisi perikanan dan kelautan). Bertindak sebagai moderator Nelly Marinda Situmorang dan MC, Amel Sannie. 

"Dengan mengoptimalkan potensi rumput laut, Indonesia dapat mencapai pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, penciptaan lapangan kerja, peningkatan kesejahteraan, dan ketahanan pangan menuju Indonesia Emas 2045," ujar Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan - IPB University mengambil tema "Teknologi Budidaya Dan Manajemen
Sistem Rantai Pasok: Kunci Sukses industrialisasi Rumput Laut".

Pertama, Pertumbuhan Ekonomi: Rumput laut dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru dengan meningkatnya permintaan global dan potensi ekspor yang besar.
   
Kedua, Penciptaan Lapangan Kerja: Budidaya dan pengolahan rumput laut menciptakan banyak lapangan kerja, terutama di daerah pesisir dan pulau-pulau kecil.
   
Ketiga, Kesejahteraan Masyarakat: Dengan pendapatan yang stabil dari budidaya rumput laut, kesejahteraan masyarakat pesisir dapat meningkat, mengurangi kemiskinan dan disparitas ekonomi antar wilayah.
   
Keempat, Ketahanan Pangan: Rumput laut sebagai bahan baku industri makanan membantu mendukung ketahanan pangan nasional.
   
Kelima, Kemandirian Energi: Rumput laut dapat diolah menjadi biofuel, mendukung transisi energi dari fosil ke energi terbarukan.
   
Keenam, Ramah Lingkungan: Budidaya rumput laut membantu mitigasi perubahan iklim dengan menyerap karbon dioksida lebih banyak dibandingkan tumbuhan darat dan menjaga kesehatan ekosistem laut.

"Dengan potensi dan manfaat yang begitu besar, rumput laut benar-benar dapat menjadi pilar utama dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan dan mewujudkan Indonesia Emas 2045," ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Prof Rokhmin Dahuri memaparkan, Indonesia adalah produsen budidaya rumput laut terbesar kedua di dunia pada tahun 2022, setelah Cina. Ada banyak provinsi di Indonesia yang memiliki potensi besar untuk pengembangan rumput laut. 

Menurutnya, industrialisasi rumput laut dapat menjadi andalan dalam memperkuat ekonomi masyarakat menuju Indonesia Emas 2045. Dengan kawasan potensi pengembangan rumput laut yang sangat luas, Indonesia memiliki peluang besar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, menciptakan lapangan kerja, dan mencapai ketahanan pangan dan energi.

Potensi dan Manfaat Rumput Laut 

Prof Rokhmin Dahuri mengungkapkan, Indonesia memiliki potensi yang luar biasa dalam sektor budidaya rumput laut, menjadikannya salah satu negara dengan kontribusi terbesar di pasar global. Berikut adalah beberapa poin penting terkait potensi dan manfaat rumput laut bagi pembangunan ekonomi Indonesia:

Beberapa faktor kunci yang mendukung potensi besar rumput laut sebagai game changer menuju Indonesia Emas 2045:

1. Potensi Produksi Rumput Laut yang Besar

Indonesia adalah salah satu produsen rumput laut penghasil karagenan (Eucheuma spp) dan penghasil agarosa (Gracillaria spp) terbesar di dunia. Pada tahun 2023, produksi rumput laut Indonesia mencapai 9,7 juta ton, dengan nilai ekspor mencapai Rp 28,36 triliun. Hal ini menempatkan Indonesia sebagai produsen rumput laut terbesar kedua di dunia (FAO, 2024), yang menunjukkan posisi strategis Indonesia di pasar global.

2. Bahan Baku untuk Berbagai Industri
Rumput laut merupakan bahan baku utama bagi banyak industri pengolahan, termasuk makanan dan minuman,  farmasi, kosmetik, biomaterial, dan biofuel.  Potensi ini mendukung kedaulatan pangan, energi, dan farmasi di Indonesia, serta membuka peluang diversifikasi produk dan industri berbasis rumput laut.

3. Permintaan yang Terus Meningkat

Seiring dengan pertambahan jumlah penduduk baik di Indonesia maupun dunia, permintaan terhadap komoditas rumput laut dan produk turunannya akan terus meningkat. Hal ini menciptakan prospek bisnis yang cerah, meningkatkan peluang ekspor, serta mendukung ekonomi yang lebih kuat dan berkelanjutan.

4. Usaha Budidaya yang Menguntungkan

Usaha budidaya rumput laut memiliki modal yang terjangkau dan keuntungan yang menjanjikan. Dengan masa panen yang relatif pendek (45 hari) dan teknologi yang sederhana, budidaya rumput laut bisa menjadi solusi penciptaan lapangan kerja dan mengurangi kemiskinan di wilayah pesisir dan daerah terpencil.

5. Potensi Mengurangi Disparitas Pembangunan

Budidaya rumput laut banyak dilakukan di  wilayah pesisir, pulau-pulau kecil, pedesaan, dan luar Jawa, yang pada umumnya kurang berkembang dibandingkan dengan wilayah Jawa. Hal ini memberikan kesempatan untuk mengurangi disparitas pembangunan antar wilayah dan mengurangi biaya logistik yang tinggi, yang selama ini menghambat efisiensi ekonomi nasional.

“Hal ini bagus untuk mengurangi permasalahan kronis bangsa berupa disparitas Pembangunan antar wilayah yang telah menyebabkan biaya logistik yang sangat mahal dan inefisiensi serta rendahnya daya saing perkenomian bangsa,” paparnya.

6. Dampak Positif terhadap Lingkungan

Rumput laut memiliki kemampuan luar biasa dalam menyerap karbon dioksida (CO2) hingga 20 kali lipat dibandingkan dengan tumbuhan darat (seperti hutan). Hal ini membuat rumput laut menjadi salah satu solusi yang efektif dalam mitigasi perubahan iklim global, yang juga berkontribusi pada upaya pengurangan pemanasan global.

7. Tidak Ada Konflik Ruang dengan Tanaman Pangan

Berbeda dengan kelapa sawit, yang sering menimbulkan konflik ruang dengan tanaman pangan, rumput laut dibudidayakan di perairan laut dan tambak yang tidak bersinggungan dengan lahan pertanian. Ini menjadikannya pilihan yang ramah terhadap ruang dan lingkungan.

8. Keberlanjutan Ekosistem Laut

Budidaya rumput laut memiliki dampak positif bagi kesehatan ekosistem laut*, seperti mengurangi eutrofikasi dan menjaga keanekaragaman hayati laut. Ini mendukung prinsip-prinsip ekonomi biru, yang bertujuan untuk konservasi laut dan menjaga kelestarian sumber daya alam laut.

9. Sumber Daya Alam Terbarukan

Rumput laut adalah sumber daya alam terbarukan (renewable resource) yang dapat terus dimanfaatkan tanpa mengancam kelestariannya. Dengan demikian, rumput laut mendukung pembangunan berkelanjutan yang sejalan dengan prinsip-prinsip pembangunan jangka panjang yang ramah lingkungan.

"Dengan memanfaatkan potensi rumput laut secara optimal, Indonesia dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, memperkuat ekonomi, dan mengurangi ketimpangan antar wilayah, sambil tetap menjaga keberlanjutan lingkungan," ujar Ketua Umum MAI (Masyarakat Akuakultur Indonesia) itu.

Keuntungan Yang Unik

Prof. Rokhmin Dahuri mengungkapkan bahwa rumput laut memiliki sejumlah keuntungan unik yang sangat menguntungkan bagi Indonesia. Keuntungan-keuntungan tersebut mencakup kemampuan produksi yang signifikan dan peranannya dalam berbagai industri, seperti industri makanan, farmasi, dan bahan bakar nabati.

“Biaya awal yang rendah untuk budidaya rumput laut, potensi besar untuk penciptaan lapangan kerja, manfaat lingkungan yang luar biasa, seperti penyerapan karbon, serta kemampuannya untuk meningkatkan ketahanan pangan dan kemandirian energi, membuatnya menjadi komoditas yang sangat bernilai,” paparnya.

Namun, Prof. Rokhmin juga menegaskan pentingnya inovasi teknologi yang terus berkembang, serta manajemen yang sistematis dan upaya kolaboratif dari seluruh pihak yang terlibat untuk memanfaatkan potensi rumput laut secara optimal. 

"Semua itu harus dilakukan untuk pembangunan ekonomi berkelanjutan di Indonesia, terutama dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045 yang lebih mandiri dan berdaya saing tinggi," tegas anggota Dewan Penasihat Ilmiah Internasional Pusat Pengembangan Pesisir dan Laut, Universitas dari Bremen, Jerman itu.

Prof. Rokhmin Dahuri mengungkapkan bahwa budidaya rumput laut di Indonesia memiliki banyak kekuatan dan potensi besar. Indonesia memiliki sekitar 782 spesies rumput laut yang sangat potensial untuk dikembangkan. Selain itu, potensi areal budidaya laut juga sangat luas, sekitar 12 juta hektare, yang memberikan ruang besar untuk ekspansi budidaya rumput laut di masa depan. Iklim tropis Indonesia juga sangat mendukung pertumbuhan rumput laut, yang memberikan kelebihan tersendiri dibandingkan dengan negara lain.

“Peluang untuk mengembangkan budidaya rumput laut masih sangat besar, karena ada sekitar 98 persen areal budidaya laut yang dapat dimanfaatkan. Selain itu, pangsa pasar untuk produksi olahan berbasis rumput laut juga sangat besar, membuka peluang usaha baru dan penyerapan tenaga kerja yang cukup banyak,” ujarnya.

Prof. Rokhmin juga menekankan bahwa biaya produksi budidaya rumput laut cukup murah dengan jangka waktu panen yang relatif singkat, sekitar 45 hari, yang memberikan keuntungan dalam hal waktu dan produktivitas.

Enam Syarat Utama 

Berikut adalah rincian tentang peran strategis rumput laut dalam pembangunan ekonomi dan enam syarat utama untuk mencapai Indonesia Emas 2045:

Pertama, Pertumbuhan Ekonomi Rata-rata 7 – 8 % Per Tahun

Untuk mencapai full employment dengan pendapatan yang mensejahterakan secara berkeadilan.

Pertumbuhan ekonomi yang berkualitas, inklusif, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.

Kedua, Swasembada Pangan

Produksi nasional harus melebihi konsumsi nasional.

Setiap warga negara di seluruh wilayah NKRI mampu mendapatkan pangan bergizi dan sehat dengan jumlah mencukupi setiap saat.

Ketiga, Swasembada Energi

Produksi nasional harus melebihi kebutuhan nasional.

Transisi energi dari energi fosil ke energi bersih dan terbarukan sesuai target emisi GRK - NDC.

Keempat, Ekonomi dan Industri Manufaktur Berbasis Inovasi

Transformasi struktural ekonomi dari berbasis SDA dan buruh murah ke berbasis industri manufaktur dan inovasi.

Kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB lebih dari 30%.

Kelima, Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM)

Peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dari 71 menjadi 90; nilai PISA; daya inovasi; dan produktivitas.

Pengurangan angka stunting dan gizi buruk.

Peningkatan pelayanan kesehatan, pendidikan, pelatihan & penyuluhan, R&D, dan agama.

Keenam, Good Governance & POLHUKAM Kondusif

Pemerintahan yang smart, clean, professional, efisien, transparan, akuntabel, partisipatif, dan melayani.

Kehidupan berbangsa yang meritokratif, demokratis, stabil, dan damai.

Dari data GDP (Gross Domestic Product) dalam harga pasar (current prices) tahun 2023, diketahui bahwa di antara 200 negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), hanya 19 negara yang memiliki PDB lebih dari 1 triliun dolar AS. Negara-negara ini termasuk negara-negara besar dan maju secara ekonomi, yang memainkan peran penting dalam perekonomian global. Beberapa di antaranya adalah Amerika Serikat, Tiongkok, Jepang, Jerman, India, Inggris, dan lainnya.

PDB yang lebih dari 1 triliun dolar AS menunjukkan ukuran ekonomi yang sangat besar, dengan sektor-sektor utama seperti industri, jasa, dan teknologi yang sangat berkembang. Pencapaian ini biasanya mencerminkan tingkat produktivitas, inovasi, dan daya saing negara tersebut di pasar global.

Penting untuk dicatat bahwa meskipun Indonesia termasuk dalam negara dengan PDB yang cukup besar di kawasan Asia Tenggara, negara ini masih berada di bawah angka 1 triliun dolar AS, dan pencapaian tersebut menunjukkan tantangan serta potensi ekonomi yang perlu dikelola secara cermat untuk menuju kemajuan dan daya saing yang lebih tinggi di kancah internasional.

Perbandingan Pertumbuhan Ekonomi, Pengangguran, Kemiskinan, dan Koefisien GINI antara sebelum dan Masa Pandemi Covid-19.

Pandemi memperburuk keadaan kemiskinan, dengan jumlah orang miskin meningkat signifikan. Pada 2023, menurut garis kemiskinan Bank Dunia (USD 3,2 per orang per hari atau sekitar Rp 1.440.000/bulan), jumlah orang miskin mencapai sekitar 111 juta jiwa, atau 37% dari total penduduk Indones

Perhitungan angka kemiskinan atas dasar garis kemiskinan versi BPS (2024), yakni pengeluaran Rp 582.932/orang/bulan. Garis kemiskinan = Jumlah uang yang cukup untuk seorang memenuhi 5 kebutuhan dasarnya dalam sebulan.

"Menurut garis kemiskinan Bank Dunia (3,2 dolar AS/orang/hari atau 96 dolar AS/orang/bulan (Rp 1.440.000)/orang/bulan), jumlah orang miskin pada 2023 sebesar 111 juta jiwa (37% total penduduk)," sebutnya.
 
Keadaan ekonomi Indonesia yang mengalami berbagai tantangan dalam sepuluh tahun terakhir sedang tidak baik-baik saja. Berdasarkan survei kesehatan ekonomi Indonesia pada 2023, beberapa masalah utama yang muncul adalah:

1. Deindustrialisasi.
2. Deflasi (suplai barang lebih besar dari pada permintaan atau
pembelian) sejak Mei 2024 sampai sekarang.
3. Gelombang PHK semakin meningkat
4. Penurunan kelas menengah
5. Banyak warga negara yang terjerat PINJOL (Pinjaman Online) dan JUDOL (Judi Online)
6. Utang LN yang semakin membengkak, semakin membebani APBN (ruang fiskal), sehingga menggerus kapasitas pembangunan bangsa.

Deindustrialisasi adalah fenomena di mana kontribusi sektor manufaktur dalam perekonomian suatu negara mengalami penurunan yang signifikan. Hal ini sering terjadi seiring dengan meningkatnya kontribusi sektor jasa atau sektor lainnya, seperti sektor keuangan, teknologi, atau pariwisata. Sebelum Gross National Income (GNI) per kapita mencapai US$ 12.536, beberapa negara mengalami deindustrialisasi sebagai bagian dari proses transisi ekonomi yang lebih luas.

Prof. Rokhmin Dahuri  menyampaikan pentingnya perbaikan status gizi dan kesehatan masyarakat Indonesia untuk mencegah terjadinya generasi yang fisiknya lemah dan kecerdasannya rendah, yang sering disebut sebagai "a lost generation". Ini adalah ancaman serius bagi masa depan bangsa, karena kualitas SDM yang buruk akan menghambat kemajuan dan kemakmuran suatu negara.

Status gizi dan kesehatan masyarakat Indonesia memang menjadi isu penting yang perlu segera diatasi. 

Oleh karena itu, penting bagi semua pihak—baik pemerintah, masyarakat, maupun sektor swasta—untuk bekerja sama dalam menyediakan akses yang lebih baik terhadap makanan bergizi bagi seluruh rakyat Indonesia.

Biaya untuk membeli makanan bergizi seimbang di Indonesia adalah sekitar Rp 22.126 per hari atau Rp 663.791 per bulan, berdasarkan standar komposisi gizi Healthy Diet Basket (HDB) dari FAO tahun 2020. Dengan demikian, banyak orang mungkin kesulitan untuk mendapatkan asupan gizi yang memadai.

Selain itu, berdasarkan data Litbang Kompas tahun 2022, sekitar 183,7 juta orang (sekitar 68% dari total penduduk Indonesia) menghadapi masalah gizi. Ini menunjukkan betapa seriusnya masalah ini dan perlunya tindakan cepat dan efektif untuk mengatasinya.

Perumahan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang dijamin dalam Pasal 28A UUD 1945. Namun, data dari Bappenas tahun 2019 menunjukkan bahwa dari 65 juta rumah tangga di Indonesia, sekitar 61,7% atau 40 juta rumah tangga masih tinggal dalam kondisi rumah yang tidak layak huni.

Kondisi ini tentu sangat mengganggu kesejahteraan masyarakat, termasuk kesehatan fisik dan mental mereka. Rumah yang tidak layak huni dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, seperti penyakit pernapasan, penyakit kulit, dan stres.

Menurut Prof. Rokhmin Dahuri, dari tahun 2018 hingga 2022, indeks daya saing Indonesia menurun dan pada tahun 2022, Indonesia berada di urutan ke-44 dari 141 negara, atau peringkat ke-4 di ASEAN.  Ini menunjukkan adanya tantangan yang perlu dihadapi oleh Indonesia dalam meningkatkan daya saingnya di kancah global.

Peran Strategis Rumput Laut 

Rumput laut memiliki potensi besar untuk menjadi game changer (sumber pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, kesejahteraan, dan ketahanan pangan secara berkelanjutan) dalam mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.

Indonesia memiliki potensi besar untuk meningkatkan kontribusinya dalam pasar rumput laut dan agar-agar global. Dengan meningkatnya permintaan rumput laut dan agar-agar dunia, Indonesia dapat memperluas kapasitas produksinya dan meningkatkan nilai ekspor untuk meraih posisi yang lebih strategis dalam pasar global, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Permintaan global terhadap rumput laut terus meningkat dengan rata-rata pertumbuhan sekitar 10,4% per tahun. Pada tahun 2022, nilai pasar rumput laut global mencapai USD 3,71 miliar, dan Indonesia menyuplai sekitar 16,2% dari total pasar ini.

Salah satu pemain utama dalam impor rumput laut dunia adalah Tiongkok, yang menjadi importir terbesar dengan total nilai impor mencapai USD 0,80 miliar atau sekitar 21,6% dari total impor rumput laut global pada tahun 2022. Meskipun Tiongkok adalah negara penghasil rumput laut terbesar di dunia, mereka masih mengimpor rumput laut untuk memenuhi kebutuhan industri dalam negeri, terutama untuk industri karaginan, salah satu produk olahan rumput laut yang banyak digunakan di sektor makanan dan kosmetik.

Meningkatnya permintaan dan produksi rumput laut ini menunjukkan potensi ekonomi yang besar, terutama bagi negara-negara produsen seperti Indonesia. Rumput laut tidak hanya memiliki nilai ekonomi yang tinggi tetapi juga berkontribusi dalam usaha mitigasi perubahan iklim melalui penyerapan karbon dioksida.

Agar-agar adalah salah satu produk turunan rumput laut yang memiliki pasar global yang cukup besar, digunakan dalam industri pangan, farmasi, dan kosmetik. Berdasarkan data terbaru, pasar agar-agar global didominasi oleh dua negara besar: Jepang dan Amerika Serikat, yang menguasai sekitar 30% dari total pangsa pasar agar-agar dunia. Kedua negara ini merupakan konsumen utama agar-agar, baik untuk kebutuhan domestik maupun untuk keperluan industri.

Tiongkok tetap mendominasi sebagai eksportir agar-agar terbesar dunia dengan kontribusi sebesar 38% dari total ekspor agar-agar global. Di sisi lain, Indonesia hanya memiliki kontribusi sebesar 4,9% dalam pasar ekspor agar-agar. Meskipun Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan industri pengolahan rumput laut, pasar agar-agar dunia masih masih dikuasai oleh Tiongkok.

Pada tahun 2022, Indonesia menjadi eksportir terbesar rumput laut kering dengan nilai ekspor mencapai USD 0,40 miliar, yang mencatatkan kenaikan sebesar 78,7% dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini menunjukkan betapa pentingnya peran Indonesia dalam pasar rumput laut global, meskipun masih ada potensi yang belum dimanfaatkan secara optimal.

Analisis Swot Budidaya Rumput Laut

Budidaya rumput laut memiliki potensi besar untuk dikembangkan, namun juga dihadapkan pada berbagai tantangan yang perlu diperhatikan agar dapat memberikan kontribusi.

• Masih tersedia 98% areal budidaya laut yang dapat dimanfaatkan
• Pangsa pasar produksi olahan berbasis rumput laut besar
• Terbukanya kesempatan berusaha dan penyerapan tenaga kerja
• Pola hidup masyarakat yang lebih sehat
• Terbukanya pengembangan diversifikasi produk berbasis rumput laut.
• Biaya produksi budidaya rumput laut yang murah
• Jangka waktu panen yang relatif pendek (45 hari).
• Ramah lingkungan, emisi rendah karbon, mereduksi polutan, dan
berpotensi sebagai renewable resources
• Serangan hama dan penyakit
• Budidaya tidak bisa dilakukan sepanjang tahun
karena dipengaruhi oleh musim
• Degradasi kualitas lingkungan akibat pencemaran
aktivitas daratan dan pencemaran di laut
• Harga rumput laut yang fluktuatif
• Persaingan dengan negara lain
• Proses perizinan terlalu lama dan tidak terpusat
Sumber: KKP (2023)
• Potensi areal budidaya laut ±12 juta ha
• Iklim tropis mendukung budidaya rumput laut
• Indonesia memiliki sekitar 782 spesies rumput laut
yang potensial dikembangkan
• Banyaknya produk turunan rumput laut
• Tersedianya SDM untuk pengembangan industri
rumput laut.
• Penguasaan teknologi pengembangan budidaya
rumput laut.
• Dukungan kebijakan pemerintah dalam
pengembangan industri rumput laut
• Pemanfaatan lahan budidaya rumput laut belum optimal
(budidaya dilakukan tidak jauh dari pantai);
• Kualitas hasil produksi budidaya yang masih rendah
• Penataan unit budidaya rumput laut yang belum optimal
• Kelembagaan usaha dalam mengakses permodalan yang masih kurang;
• Komitmen SDM dalam penerapan SOP budidaya rumput laut masih rendah;

Berikut adalah strategi penguatan dan pengembangan industri rumput laut Indonesia:

1. Peningkatan Produktivitas dan Kualitas Bahan Baku

Meningkatkan hasil panen dengan teknologi budidaya yang lebih efisien.

Memperbaiki kualitas rumput laut agar sesuai dengan standar pasar global.

2. Penguatan & Pengembangan Industri Pengolahan

Mengembangkan industri pengolahan rumput laut setengah jadi dan produk siap konsumsi untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk.

Perluasan pengembangan produk seperti agar-agar, karagenan, dan bio-plastik.

3. Optimalisasi Tata Kelola Supply Chain dan Mitigasi Risiko

Integrasi antara pembudidaya, pengolah, dan eksportir untuk memastikan kontinuitas pasokan.

Mengurangi risiko rantai pasok.

4. Penguatan SDM dan Kelembagaan

Peningkatan kapasitas SDM dan pemberdayaan kelembagaan untuk meningkatkan kompetensi pembudidaya dan pelaku industri.

5. Peningkatan Akses Permodalan dan Investasi

Modal usaha menjadi kendala utama bagi pembudidaya dan industri pengolahan.

Diperlukan skema kredit khusus dan insentif investasi.

6. Diversifikasi Produk dan Pasar

Meningkatkan variasi produk seperti biofuel, pupuk organik, dan bahan pangan berbasis rumput laut untuk memperluas pasar.

7. Penguatan Pasar Domestik dan Ekspor

Meningkatkan branding produk rumput laut Indonesia serta membuka pasar ekspor baru, khususnya di Eropa dan Amerika.

8. Pengembangan Teknologi Budidaya Berbasis Inovasi

Pemanfaatan kultur jaringan untuk menghasilkan bibit unggul dan meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan.

9. Penguatan Regulasi dan Kebijakan Pemerintah

Pemerintah perlu mempercepat pengesahan kebijakan yang mendukung keberlanjutan industri, termasuk perizinan dan tata ruang laut.

10. Implementasi Konsep Blue Economy*
- Implementasi ekonomi biru di Pulau Lemukutan menunjukkan peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir hingga pertumbuhan relatif 220,50% dalam 50 hari (Pamela et al., 2022).

Dengan strategi ini, diharapkan industri rumput laut Indonesia dapat berkembang lebih baik, meningkatkan produktivitas dan kualitas produk, serta memberikan dampak positif bagi perekonomian nasional dan kesejahteraan masyarakat.

Terpadu Dan Berkelanjutan 

Peta Jalan Pembangunan Industri Rumput Laut Terpadu dan Berkelanjutan (Disempurnakan dari Kemenko Marves, 2024)

Peta jalan ini menggarisbawahi langkah-langkah strategis yang perlu dilakukan untuk mengembangkan industri rumput laut Indonesia secara terpadu dan berkelanjutan, dengan fokus pada seluruh rantai nilai dari seedling, farming, harvesting, processing, hingga market generation. Kolaborasi antara berbagai pihak (pemerintah, swasta, perguruan tinggi, dan lembaga internasional) menjadi kunci untuk mewujudkan potensi besar industri ini.

1. Seedling (Pembibitan dan Benih Unggul)
 
Menghasilkan bibit dan benih rumput laut unggul dengan produktivitas tinggi tahan penyakit, serta resilien terhadap perubahan iklim.

Kolaborasi antara berbagai pihak untuk meningkatkan produksi bibit dan benih rumput laut berkualitas.

Inovasi teknologi untuk budidaya rumput laut yang produktif, efisien, dan sustainable.

Penerapan Best Aquaculture Practices* (BAP) untuk memastikan kualitas dan keberlanjutan.

Zonasi usaha budidaya, dengan penempatan perusahaan besar dan UMKM pada area yang tepat.

2. Farming (Budidaya Rumput Laut)
 
Kerjasama sinergis antara perusahaan besar dan UMKM untuk mengoptimalkan produksi.

Inovasi Teknologi Budidaya Rumput Laut

Budidaya rumput laut terus berkembang dengan penerapan berbagai Inovasi teknologi yang dirancang untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas, serta mengatasi tantangan yang ada dalam budidaya rumput laut.

1. Polybag Rumput Laut
 
Polybag rumput laut diperkenalkan untuk mengatasi masalah kualitas dan produktivitas pada lpembibitan rumput laut. Dengan menggunakan polybag, bibit rumput laut dapat tumbuh dengan lebih optimal dan lebih terjaga kualitasnya, meningkatkan hasil budidaya. Ini adalah salah satu inovasi yang mendukung pertumbuhan industri rumput laut yang lebih berkelanjutan. Sumber: seaweednetwork.id (2023)

2. Metode Long-line Floating dan Off-bottom

Dua metode utama untuk budidaya rumput laut adalah long-line floating dan off-bottom methods. Metode long-line floating lebih cocok diterapkan ketika terumbu karang dan lamun ada di perairan, memberikan solusi dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut sekaligus meningkatkan hasil budidaya rumput laut.  Sumber:*l The Nature Conservancy (2019)

3. Draught Regulating Spar Buoy (DSPar)

DSPar adalah alat canggih yang digunakan untuk menstabilkan kedalaman budidaya rumput laut di perairan terbuka, khususnya di perairan yang bergelombang. Alat ini menjaga posisi rumput laut dan melindunginya dari gelombang tinggi, mengurangi kerusakan, dan meningkatkan efisiensi serta keberhasilan budidaya rumput laut. Teknologi ini membantu memastikan stabilitas sistem budidaya dalam kondisi laut yang dinamis.  Sumber: Seawiser (2025)

4. Inovasi AUV (Autonomous Underwater Vehicle) untuk Monitoring

AUV atau kendaraan bawah laut otonom menjadi salah satu teknologi terbaru yang digunakan untuk monitoring budidaya rumput laut. Sistem inspeksi otomatis ini dirancang untuk menggantikan metode konvensional seperti penyelaman manual dan pengumpulan data dengan kapal, yang memerlukan biaya tinggi dan berisiko. Teknologi seperti sonar sidescan*digunakan untuk memantau kondisi tali dan pelampung serta memetakan lokasi budidaya, yang membantu meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan dalam budidaya rumput laut. Sumber: Stevanus et al. (2022) dan Valdez (2023)

Inovasi teknologi harvesting yang efisien dan ramah lingkungan.

Desiminasi teknologi dan sosialisasi kepada pembudidaya agar mereka menggunakan teknologi yang sudah terbukti efektif.

3. Harvesting (Panen)
 
Pengembangan sistem logistik rumput laut yang mencakup seluruh rantai pasok, mulai dari produksi, transportasi, hingga penyimpanan.

Inovasi harvesting untuk meningkatkan efisiensi dan mengurangi kerugian pasca-panen.

4. Processing (Pengolahan)
 
Pemberian insentif dan kemudahan perizinan bagi investasi di industri pengolahan rumput laut.
Alokasi kawasan industri khusus untuk pengolahan rumput laut dan perbaikan infrastruktur dasar di wilayah budidaya.

Penyusunan KBLI (Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia) dan *standar* untuk produk-produk rumput laut baru.

5. Market Generation (Pengembangan Pasar)
 
Inovasi produk hilir berbasis rumput laut, seperti:
 
Makanan: Kolaborasi dengan industri makanan melalui forum business matching.
 
Pertanian: Pengembangan biostimulan pupuk rumput laut* melalui pilot project bersama Kementerian Pertanian (Kementan) atau BUMN.

Komentar