Rabu, 17 Juni 2026 | 05:04
Ruang Menulis

Cerita Bersambung Seri 6: Hari Penentuan

Cerita Bersambung Seri 6: Hari Penentuan
Dwi Taufan Hidayat

Oleh: Dwi Taufan Hidayat 

ASKARA - Hari yang dinantikan akhirnya tiba. Desa Karangjati diselimuti oleh suasana tegang yang tak terbendung. Warga mulai berdatangan ke tempat pemungutan suara sejak pagi, membawa harapan dan kekhawatiran yang bercampur aduk. Pemilihan kepala desa kali ini bukan hanya tentang memilih pemimpin, tetapi juga tentang masa depan desa yang mulai retak oleh perpecahan.

Di Tempat Pemungutan Suara

Tempat pemungutan suara yang berlokasi di balai desa dipenuhi oleh warga yang antre dengan tertib. Namun, tatapan tajam antara pendukung kedua calon kepala desa tidak dapat disembunyikan. Tim sukses Pak Hadi dan Pak Arifin terlihat sibuk memantau situasi, memastikan bahwa tidak ada kecurangan yang terjadi.

Di sudut balai desa, Ibrahim terlihat berbincang dengan beberapa tokoh desa lainnya. Meski ia berusaha untuk tetap netral, posisinya sebagai tokoh masyarakat membuatnya terus diawasi oleh kedua belah pihak.

“Pak Ibrahim, bagaimana menurut Bapak? Siapa yang kira-kira menang?” tanya Pak Hasan dengan nada menggoda.

Ibrahim tersenyum tipis. “Yang menang adalah yang terbaik untuk desa ini, Pak Hasan. Kita semua harus siap menerima hasilnya.”

Jawaban itu membuat Pak Hasan menghela napas, lalu berlalu dengan wajah yang sulit ditebak.

Rania dan Mushala yang Sepi

Di mushala Al-Hidayah, Rania dan beberapa ibu-ibu lainnya sibuk membersihkan dan merapikan mushala. Hari itu, mushala terasa lebih sepi dari biasanya. Hanya ada beberapa anak-anak yang belajar mengaji di sudut ruangan.

“Saya merasa aneh, Bu Rania. Biasanya mushala ini ramai, tapi hari ini seperti kehilangan nyawanya,” kata Bu Lina sambil menyapu lantai.

Rania berhenti sejenak, memandang ke arah pintu mushala yang terbuka lebar. Ia bisa melihat warga lalu-lalang menuju balai desa.

“Mungkin ini memang hari yang berat bagi kita semua,” jawab Rania. “Tapi mushala ini akan kembali hidup. Kita hanya perlu bersabar.”

Dalam hati, Rania merasa bahwa mushala ini harus memainkan peran penting untuk menyatukan kembali warga desa setelah pemilihan. Ia berdoa agar apa pun hasilnya nanti, mushala tetap menjadi tempat yang netral dan damai.

Ketegangan di Balai Desa

Siang itu, suasana di balai desa mulai memanas. Beberapa warga mulai berdebat tentang dugaan adanya kecurangan. Tim sukses Pak Hadi menuduh ada oknum yang mencoblos lebih dari sekali, sementara pendukung Pak Arifin menuding bahwa tim lawan membagi-bagikan uang di malam sebelumnya.

“Ini sudah tidak bisa dibiarkan! Kita harus protes!” teriak salah satu pendukung Hadi dengan wajah memerah.

Pendukung Arifin tidak tinggal diam. “Jangan tuduh sembarangan! Kalau kalian berani, buktikan!”

Petugas keamanan desa segera turun tangan untuk meredakan situasi. Namun, ketegangan tetap terasa di udara.

Doa dan Khutbah Ustaz Salman

Sore harinya, sebelum hasil pemilihan diumumkan, Ustaz Salman mengadakan doa bersama di mushala Al-Hidayah. Ia mengundang seluruh warga untuk hadir, berharap dapat meredakan ketegangan yang semakin membara.

Di depan jemaah yang hadir, Ustaz Salman menyampaikan khutbah singkat.

“Saudara-saudaraku, ingatlah bahwa pemilihan ini adalah bagian dari perjalanan kita sebagai sebuah desa. Apa pun hasilnya nanti, kita tetap satu keluarga. Jangan biarkan perbedaan pilihan memutus tali persaudaraan yang telah kita bangun selama ini.”

Kata-kata itu menyentuh hati banyak warga yang hadir. Beberapa bahkan menitikkan air mata, menyadari betapa jauh konflik ini telah memecah belah mereka.

Rania yang duduk di saf perempuan merasa tergetar. Ia menyadari bahwa mushala ini memiliki kekuatan besar untuk menyatukan warga, dan ia ingin menjadi bagian dari perjuangan itu.

Pengumuman Hasil Pemilihan

Menjelang malam, warga berkumpul di balai desa untuk mendengarkan hasil pemungutan suara. Suasana sunyi senyap, hanya terdengar suara jangkrik yang mengiringi malam.

Ketua panitia pemilihan naik ke atas panggung kecil, membawa secarik kertas yang berisi hasil akhir.

“Saudara-saudara sekalian,” katanya dengan suara berat, “berdasarkan hasil perhitungan suara, kepala desa Karangjati yang baru adalah… Pak Arifin!”

Sorak-sorai langsung pecah dari pendukung Pak Arifin, sementara pendukung Pak Hadi terdiam dengan wajah kecewa. Beberapa terlihat langsung meninggalkan lokasi dengan tergesa-gesa.

Pak Arifin naik ke atas panggung, menyampaikan pidato singkat yang penuh kerendahan hati.

“Saya ucapkan terima kasih atas kepercayaan yang telah diberikan. Tapi ingatlah, ini bukan kemenangan saya. Ini adalah kemenangan kita semua sebagai warga desa Karangjati. Mari kita bersatu kembali, membangun desa ini bersama-sama.”

Namun, di tengah pidato itu, beberapa pendukung Hadi mulai bersuara lantang, menyebut hasil pemilihan tidak adil. Suasana yang semula penuh kegembiraan berubah menjadi tegang.

Akhir Seri 6: Malam yang Berbadai

Malam itu, di rumahnya, Ibrahim duduk termenung di ruang tamu. Ia tahu bahwa konflik ini belum berakhir. Pemilihan telah usai, tetapi luka yang ditinggalkannya masih terasa dalam.

Rania mendekatinya, membawa secangkir teh hangat. “Mas, menurutmu, apa yang akan terjadi setelah ini?” tanyanya pelan.

Ibrahim menatapnya dengan mata lelah. “Entahlah, Rania. Tapi satu hal yang pasti, kita harus tetap berusaha menjaga desa ini. Kalau tidak, retakan ini akan semakin melebar.”

Di luar rumah, angin bertiup kencang, membawa awan gelap yang menggantung di atas desa Karangjati. Malam itu terasa panjang, seolah menjadi pertanda bahwa perjalanan mereka masih jauh dari kata selesai.

Bersambung ke Seri 7: Luka yang Terbuka

Komentar