Cerita Bersambung Seri 5: Ketegangan di Malam Pemilihan
Oleh: Dwi Taufan Hidayat
ASKARA - Malam itu, Karangjati dipenuhi kegelisahan. Warga desa seperti terbagi menjadi dua kubu yang tak lagi bisa disatukan. Esok hari adalah hari pemilihan kepala desa, dan suasana di mushala Al-Hidayah, yang seharusnya menjadi tempat damai, ikut dirasuki ketegangan.
Di mushala, Ustaz Salman memimpin salat Isya berjemaah dengan khusyuk. Namun, suasana jemaah terasa berbeda. Beberapa warga duduk berkelompok di sudut mushala, berbicara dengan bisik-bisik yang mencerminkan ketegangan yang tak bisa disembunyikan.
Rania duduk di saf perempuan bersama beberapa ibu-ibu. Meski telah mencoba berkali-kali menenangkan hatinya dengan doa, ia tak mampu mengusir perasaan gelisah. Ia tahu, pemilihan kepala desa ini lebih dari sekadar memilih pemimpin. Ini adalah ujian bagi persatuan desa mereka, termasuk keluarganya.
Ibrahim dan Dilema Mushala
Setelah salat, Ibrahim dipanggil oleh Pak Surya dan Pak Hasan ke ruang belakang mushala. Di sana, mereka memulai diskusi yang penuh ketegangan.
“Pak Ibrahim, mushala ini harus membuat sikap tegas. Kalau kita mendukung Pak Hadi, mushala akan mendapat dana untuk renovasi dan pengembangan kegiatan,” kata Pak Hasan, suaranya tegas namun terkesan memaksa.
Pak Surya langsung menyela. “Itu ide yang salah! Mushala bukan alat politik. Kalau kita mulai mendukung satu pihak, mushala ini akan kehilangan kepercayaan warga.”
Ibrahim hanya bisa memijat pelipisnya. Ia telah berusaha keras menjaga netralitas mushala, tetapi tekanan dari berbagai pihak membuatnya semakin sulit bertahan.
“Pak Hasan, Pak Surya,” ujar Ibrahim akhirnya, “mushala ini milik semua warga, bukan hanya milik pendukung salah satu calon. Saya mohon, jangan paksa mushala ini untuk berpihak.”
Pak Hasan mendengus kecewa. “Kalau begitu, jangan salahkan kami kalau mushala ini ketinggalan perkembangan, Pak Ibrahim.”
Intrik Malam Hari
Di rumahnya, Pak Hadi mengadakan pertemuan tertutup dengan tim suksesnya. Mereka menyusun strategi terakhir untuk memastikan kemenangan besok.
“Saya sudah dengar bahwa pendukung Arifin mulai mencoba menggoyahkan keyakinan warga di mushala. Kita tidak bisa membiarkan itu terjadi,” ujar Pak Hadi dengan nada serius.
Salah satu anggota timnya mengusulkan rencana untuk mendistribusikan paket sembako secara diam-diam malam ini, memastikan warga memihak pada mereka.
“Biar besok pagi, mereka ingat siapa yang benar-benar peduli,” katanya sambil tersenyum.
Di sisi lain desa, Pak Arifin juga tengah berdiskusi dengan keluarganya. Namun, suasana jauh lebih sederhana. Ia hanya berbicara dengan istri dan anak-anaknya, menguatkan hati mereka untuk menerima apa pun hasil pemilihan esok hari.
“Kita hanya bisa berusaha sebaik mungkin. Hasilnya, biar Allah yang menentukan,” ujar Pak Arifin dengan tenang.
Ketegangan di Mushala
Menjelang tengah malam, mushala Al-Hidayah masih menyala. Beberapa warga yang merupakan pendukung Hadi dan Arifin tak sengaja bertemu di sana. Mereka saling melontarkan pandangan tajam, seolah-olah ingin melampiaskan emosi yang terpendam selama berminggu-minggu.
“Pak Arifin itu cuma bisa ngomong. Lihat saja, apa yang dia lakukan selama ini? Tidak ada yang nyata,” kata salah satu pendukung Hadi dengan nada keras.
Pendukung Arifin tidak tinggal diam. “Setidaknya dia tidak menggunakan uang untuk membeli suara. Apa kalian tidak malu menjual harga diri desa?”
Percakapan yang awalnya hanya saling sindir itu berubah menjadi adu mulut. Beberapa warga mencoba melerai, tetapi emosi sudah memuncak. Suara mereka semakin keras hingga terdengar ke luar mushala.
Di saat itulah, Ustaz Salman masuk dengan langkah tenang. Ia berdiri di antara mereka dan mengangkat tangannya.
“Cukup!” serunya, suaranya menggelegar memenuhi ruangan.
Semua orang terdiam. Wajah Ustaz Salman yang biasanya lembut kini terlihat penuh dengan kekecewaan.
“Apakah ini yang kalian inginkan? Memecah belah desa ini hanya karena perbedaan pilihan? Apakah mushala ini, tempat suci ini, pantas menjadi arena pertengkaran kalian?”
Kata-kata itu menghujam hati semua yang hadir. Sebagian menundukkan kepala, merasa malu atas tindakan mereka.
“Pulanglah,” lanjut Ustaz Salman, suaranya lebih lembut namun tetap tegas. “Berdoalah di rumah masing-masing. Esok adalah hari yang besar, tetapi kita tidak boleh melupakan siapa diri kita. Kita adalah saudara, bukan musuh.”
Satu per satu warga meninggalkan mushala dengan wajah muram.
Rania dan Pilihan Hidupnya
Di rumah, Rania duduk di teras sambil memandang langit malam. Ia mendengar apa yang terjadi di mushala dari Ibrahim yang baru saja pulang.
“Mas, kenapa semuanya jadi seperti ini?” tanyanya dengan suara lirih.
Ibrahim duduk di sampingnya, menghela napas panjang. “Karena kita lupa bahwa pemilihan ini bukan soal kemenangan, tapi soal tanggung jawab. Dan sekarang, kita semua terjebak dalam ego masing-masing.”
Rania terdiam, memikirkan peranannya selama ini. Ia merasa kecil di tengah konflik besar ini, tetapi dalam hatinya muncul tekad baru.
“Mas, besok aku akan ke mushala. Aku ingin membantu. Aku ingin melakukan sesuatu untuk desa ini,” ujarnya pelan, namun penuh keyakinan.
Ibrahim menatapnya dengan rasa bangga yang tak terucapkan. “Terima kasih, Rania. Mungkin inilah yang kita butuhkan. Langkah kecil untuk menyatukan kembali yang terpecah.”
Akhir Seri 5: Fajar yang Mengusik
Saat fajar menyingsing, desa Karangjati dipenuhi oleh aktivitas warga yang bersiap menuju tempat pemungutan suara. Di mushala, Rania dan beberapa ibu-ibu mulai membersihkan ruangan, menyiapkan tempat untuk berdoa bagi warga yang ingin meminta petunjuk sebelum memilih.
Di luar mushala, dua kubu pendukung calon kepala desa terlihat mulai berkumpul. Meskipun mereka mencoba bersikap tenang, aura persaingan tetap terasa.
Di kejauhan, Ustaz Salman memperhatikan semuanya dari pintu mushala. Dalam hatinya, ia hanya bisa berdoa agar hari ini berakhir tanpa membawa luka yang lebih dalam bagi desa Karangjati.
Bersambung ke Seri 6: Hari Penentuan

Komentar