Minggu, 07 Juni 2026 | 18:11
Ruang Menulis

Cerita Bersambung Seri 1: Langit Suram di Rumah Keluarga Ibrahim

Cerita Bersambung Seri 1: Langit Suram di Rumah Keluarga Ibrahim
Dwi Taufan Hidayat

Oleh: Dwi Taufan Hidayat

ASKARA - Pagi itu, angin dingin bertiup lembut di desa Karangjati. Di sebuah rumah kayu sederhana, terdengar suara samar tangisan seorang perempuan. Rania, istri dari Ibrahim, duduk terisak di sudut dapur yang remang-remang. Piring-piring kotor menumpuk di wastafel, aroma nasi hangus memenuhi udara.

Di ruang tengah, Ibrahim, seorang lelaki paruh baya dengan sorot mata tegas namun lelah, duduk termenung sambil memegang segelas teh yang sudah dingin. Konflik kecil yang tadi pagi terjadi masih membekas. Semua bermula dari masalah sederhana—keinginan Ibrahim untuk Rania lebih sering mengikuti kajian di mushala.

“Rania, hidup ini terlalu singkat untuk tidak mencari ilmu agama. Apa salahnya sesekali datang ke mushala?” ujar Ibrahim tadi pagi, dengan nada sedikit menekan.

“Tapi, Mas, aku sibuk dengan urusan rumah. Kalau aku sering keluar, siapa yang akan urus anak-anak?” Rania menjawab, suaranya bergetar menahan emosi.

Namun, bagi Ibrahim, ini bukan sekadar soal waktu atau tanggung jawab. Ia merasa ada jarak antara Rania dan pemahaman agama yang menurutnya sangat penting.

Setelah percakapan itu berakhir dingin, Ibrahim pergi ke mushala tanpa sarapan, meninggalkan Rania dalam diam yang memuncak menjadi tangis. Di tengah keheningan rumah, suara langkah kecil terdengar dari arah kamar. Siti, anak perempuan mereka yang berusia tujuh tahun, berjalan mendekati ibunya sambil membawa sebuah buku catatan kecil berwarna biru.

“Bu, kenapa Ibu menangis?” tanya Siti polos, wajahnya penuh kekhawatiran.

Rania menghapus air mata di pipinya dengan cepat, mencoba tersenyum. “Tidak apa-apa, Sayang. Ibu hanya sedang capek.”

Siti menyerahkan buku catatannya. “Lihat, Bu. Ini doa yang aku pelajari di mushala tadi malam. Kata Ustaz Salman, kalau kita berdoa sungguh-sungguh, Allah pasti dengar.”

Rania membuka buku itu. Di halaman pertama, tertulis:

“Ya Allah, berikanlah keluargaku kebahagiaan dan jauhkan kami dari perpecahan.”

Mata Rania berkaca-kaca lagi. Ia memeluk Siti erat-erat, merasa ada sesuatu yang menyentuh hatinya. Dalam pelukan itu, ia berbisik, “Ibu akan coba lebih baik, Nak. Doakan Ibu, ya.”

Di mushala Al-Hidayah, Ibrahim sedang berdiskusi dengan Ustaz Salman, seorang pria muda yang karismatik dengan kemampuan bicara yang memikat. Mushala itu lebih dari sekadar tempat ibadah; di sana juga terdapat koperasi kecil yang menjual kebutuhan pokok dan hasil tani warga.

“Pak Ibrahim, bagaimana kondisi di rumah? Saya lihat tadi pagi wajah Bapak terlihat sedikit murung,” tanya Ustaz Salman sambil menyusun kitab-kitab di rak.

Ibrahim menghela napas panjang. “Kadang saya merasa Rania terlalu sibuk dengan urusan rumah sampai lupa pada pentingnya mendalami agama. Saya hanya ingin dia punya waktu untuk itu.”

Ustaz Salman tersenyum tipis. “Doa adalah kunci, Pak. Tidak ada hati yang tidak bisa Allah lembutkan. Tapi ingat, doa saja tidak cukup tanpa usaha dan kelembutan.”

Ibrahim terdiam, merenungkan kata-kata itu.

Sementara itu, di sudut lain mushala, kelompok ibu-ibu sedang sibuk membahas rencana penggalangan dana untuk pengembangan koperasi. Di antara mereka, ada tokoh sentral yang cukup vokal: Bu Ratna, seorang ibu rumah tangga yang dikenal dengan kepiawaiannya dalam berbicara dan menggerakkan massa.

“Pembangunan mushala ini harus kita prioritaskan. Kalau bukan kita, siapa lagi? Kita tidak bisa terus bergantung pada donatur luar,” kata Bu Ratna tegas.

Namun, di balik keramahan dan ketegasannya, Bu Ratna diam-diam menyimpan ambisi lain. Ia adalah salah satu pendukung utama Hadi, calon kepala desa yang akan bertarung dalam pemilihan mendatang.

“Kalau Hadi menang, koperasi ini bisa kita perluas. Tapi kalau lawannya, Pak Arifin, yang menang, saya tidak yakin,” gumamnya pada salah satu pengurus koperasi.

Konflik kecil mulai terlihat di mushala itu, meskipun masih tersembunyi di balik senyum dan kata-kata manis.


Pemilihan kepala desa di Karangjati semakin mendekat, dan suasana mulai terasa panas. Hadi adalah seorang pengusaha muda yang ambisius, sementara Arifin adalah pria yang lebih tua dengan latar belakang pendidikan agama yang kuat. Pendukung kedua belah pihak mulai menunjukkan rivalitas mereka, termasuk di mushala.

Ibrahim, yang lebih condong mendukung Arifin, merasa tidak nyaman dengan cara kampanye Hadi yang terkesan menggunakan janji-janji besar tanpa dasar yang jelas. Namun, sebagian warga lebih tertarik pada visi Hadi yang modern.

“Saya mendengar koperasi ini akan mendapat bantuan besar kalau Hadi menang,” ujar salah satu warga saat rapat di mushala.

“Tapi ingat, bukan semua yang berkilau itu emas. Jangan sampai kita hanya mengejar janji kosong,” jawab Ibrahim.

Percakapan itu berakhir tanpa solusi, tetapi bibit konflik sudah mulai tertanam di antara mereka.

Akhir Seri 1: Doa di Tengah Kekacauan
Malam itu, Rania akhirnya memberanikan diri mengunjungi mushala untuk ikut kajian. Dengan hati yang masih ragu, ia melangkah masuk. Di dalam, Ibrahim tersenyum tipis melihat kehadirannya, meskipun tidak berkata apa-apa.

Setelah kajian selesai, Ustaz Salman memimpin doa bersama. Di tengah doa, Rania menutup matanya rapat-rapat, hatinya bergetar oleh kata-kata yang dipanjatkan.

“Ya Allah, jadikanlah mushala ini tempat yang penuh keberkahan, jauhkan kami dari perpecahan, dan satukan hati-hati kami dalam kebaikan.”

Namun, di luar mushala, suara bisikan penuh intrik mulai terdengar. Bisikan itu membawa nama-nama calon kepala desa, rencana kampanye, dan tuduhan-tuduhan yang semakin liar.

Bersambung ke Seri 2: Jejak Konflik di Mushala Al-Hidayah...

Komentar