Rabu, 22 Juli 2026 | 03:45
NEWS

Terungkap! Akibat Pagar Laut Sekitar 1.500 Nelayan Mengalami Kerugian Sekitar Rp 9 Miliar

Terungkap! Akibat Pagar Laut Sekitar 1.500 Nelayan Mengalami Kerugian Sekitar Rp 9 Miliar
Pagar laut ilegal di perairan Tangerang (int)

ASKARA - Pagar laut yang terbentang sepanjang 30,16 kilometer di perairan Kabupaten Tangerang telah menjadi sumber kontroversi, terutama karena dampaknya telah menyebabkan kerugian signifikan bagi nelayan setempat. Pagar ini diklaim sebagai upaya mitigasi abrasi dan tsunami, namun data menunjukkan bahwa struktur ini lebih banyak mendatangkan kerugian.

Salah satu masalah utama yang dihadapi adalah penghalang fisik yang dibentuk oleh pagar laut ini, yang memblokir akses mereka ke beberapa wilayah tangkapan yang kaya akan sumber daya ikan. 

Selain itu, hilangnya akses ke perairan yang kaya ikan juga dapat mempengaruhi keberlanjutan ekonomi mereka, yang bergantung pada hasil laut untuk memenuhi kebutuhan hidup. Menurut laporan, pendapatan nelayan di kawasan tersebut anjlok hingga 80 persen setelah keberadaan pagar laut tersebut.

Situasi ini menarik perhatian banyak pihak, termasuk Ombudsman, karena dampak sosial dan ekonomi yang ditimbulkan terhadap masyarakat nelayan. Berdasarkan data dari Ombudsman Republik Indonesia (RI), pendapatan nelayan menurun sekitar 80 persen karena akses mereka ke wilayah tangkapan ikan terbatas. Selain itu, biaya operasional nelayan meningkat dua kali lipat karena rute melaut menjadi lebih jauh. 

Anggota Ombudsman RI, Yeka Hendra Fatika, mengungkapkan bahwa pagar laut yang dibangun di perairan Tangerang telah menyebabkan kerugian ekonomi yang signifikan bagi nelayan setempat. Dalam tiga bulan terakhir, diperkirakan sekitar 1.500 nelayan mengalami kerugian sekitar Rp 9 miliar akibat adanya pemagaran laut tersebut.

Jika dihitung dengan asumsi jumlah nelayan terdampak mencapai 3.800 orang, kerugian yang terjadi tentu akan jauh lebih besar.

"Estimasi ini berdasarkan asumsi jumlah minimal 1.500 nelayan yang terdampak penurunan pendapatan rata-rata sebesar Rp 100.000 per hari. Dengan asumsi tersebut, jika mereka melaut selama 20 hari dalam sebulan, kerugian ekonomi mencapai Rp 9 miliar dalam tiga bulan," ungkap  Yeka Hendra Fatika, dalam keterangannya, dikutip Sabtu (18/1).

Kerugian ini disebabkan oleh berkurangnya akses nelayan ke laut untuk mencari ikan, sehingga mereka tidak dapat menangkap ikan sebanyak sebelumnya. 

Hal ini tentunya berdampak pada penghidupan nelayan yang sangat bergantung pada hasil tangkapan ikan. Pagar laut yang dipasang di pesisir Tangerang telah menghalangi jalur perahu nelayan untuk melaut, menyebabkan pendapatan mereka merosot drastis.

Dampak Negatif Pagar Laut 

Sementara itu, berdasarkan analisis ekonom dan pakar kebijakan publik dari UPN Veteran, Jakarta, Achmad Nur Hidayat, kerugian yang ditimbulkan akibat pemasangan pagar laut ilegal mencapai sekitar Rp116,91 miliar per tahun, yang terdiri dari penurunan pendapatan sebesar Rp93,31 miliar per tahun dan peningkatan biaya operasional sebesar Rp18,60 miliar per tahun. Kerusakan ekosistem laut juga menjadi dampak negatif lainnya dari pemasangan pagar laut.

“Keberadaan pagar laut di pesisir Tangerang dan Bekasi telah menciptakan kerugian ekonomi, sosial, dan ekologis yang signifikan. Proyek ini tidak hanya merugikan nelayan, tetapi juga gagal memberikan manfaat yang dijanjikan. Fakta-fakta di lapangan menunjukkan bahwa pembangunan pagar ini lebih banyak memberikan dampak negatif daripada positif,” kata Achmad, dikutip Republika, Kamis (16/1).

Achmad memerinci, kerugian sebesar Rp116,91 miliar tersebut terdiri dari penurunan pendapatan nelayan sebesar Rp93,31 miliar per tahun, peningkatan biaya operasional sebesar Rp18,60 miliar per tahun, dan kerusakan ekosistem laut senilai Rp5 miliar per tahun. Nilai kerugian yang merujuk pada data-data Ombudsman RI  serta analisis ekologis independen. Kerugian ini mencakup dampak terhadap pendapatan nelayan, peningkatan biaya operasional, serta kerusakan ekosistem laut.

Berdasarkan data Ombudsman RI, sekitar 3.888 nelayan di Tangerang dan Bekasi mengalami kerugian akibat terhambatnya akses ke wilayah tangkapan ikan. Achmad menilai pendapatan nelayan menurun rata-rata Rp100.000 per hari karena waktu melaut yang berkurang dan jarak melaut yang lebih jauh. 

"Dengan asumsi nelayan bekerja 20 hari per bulan, kerugian total mencapai Rp7,776 miliar setiap bulan atau Rp93,31 miliar per tahun," sebutnya.

Rugikan Nelayan 

Sebagaimana diketahui, telah ditemukan pembangunan pagar laut sepanjang 30,16 kilometer di pesisir utara Kabupaten Tangerang dan 8 kilometer di Bekasi yang tengah menjadi sorotan diduga tidak memiliki izin lingkungan yang jelas, telah menghambat akses nelayan ke area-area tangkapan ikan mereka.

Keberadaan pagar tersebut menyebabkan nelayan kesulitan untuk mencari ikan di perairan yang sebelumnya mereka manfaatkan. Akibatnya, banyak nelayan yang merasa dirugikan, dan pendapatan mereka menurun tajam.

Fenomena ini menunjukkan pentingnya perencanaan yang cermat dan dialog antara pemerintah, pengembang, dan masyarakat lokal agar tidak merugikan salah satu pihak, khususnya nelayan yang menjadi salah satu pilar ekonomi maritim di Indonesia. 

Berbagai upaya untuk menyelesaikan masalah ini terus dilakukan, termasuk mencari solusi yang dapat memperbaiki situasi bagi nelayan dan mengatasi permasalahan terkait pembangunan pagar laut tersebut.

Pemerintah dan pihak terkait diharapkan untuk menyelesaikan masalah ini secara adil dan mencari solusi yang memberikan manfaat bersama bagi semua pihak.

Komentar