Kabasarnas Ungkapkan Duka Mendalam atas Gugurnya Dua Rescuer di Medan
ASKARA – Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Kabasarnas), Marsdya TNI Kusworo, menyampaikan rasa duka mendalam atas gugurnya dua rescuer Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Medan, yang menjadi korban saat bertugas. Hal ini disampaikan Kusworo dalam pengarahan secara daring kepada seluruh pegawai Basarnas pada Kamis (24/10/2024) sore.
“Kehilangan besar bagi Basarnas. Satu nyawa saja, tidak ternilai harganya. Sedih sekali rasanya harus kehilangan dua rescuer sekaligus. Di luar takdir dari Yang Maha Kuasa, saya minta seluruh pegawai Basarnas, baik di pusat maupun daerah, melaksanakan evaluasi menyeluruh terkait musibah ini,” ujar Kusworo dalam keterangan yang diterima, Jumat (25/10).
Sebagai langkah lanjut, Kusworo memerintahkan seluruh kepala kantor SAR, terutama di Medan, untuk membentuk tim investigasi dan melakukan analisa mendalam terkait penyebab musibah ini. Evaluasi diharapkan mencakup semua aspek teknis, mulai dari pedoman penyelenggaraan SAR, Standard Operating Procedure (SOP), kapabilitas rescuer, hingga sarana prasarana yang digunakan.
“Hasil analisa ini diharapkan bisa menghasilkan rekomendasi yang konstruktif sebagai acuan untuk penyelenggaraan SAR di masa depan. Tidak hanya di Medan, tetapi untuk seluruh kantor SAR yang mungkin menghadapi kondisi serupa,” lanjut Kusworo. Ia juga menegaskan agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan, sembari berharap bahwa ini adalah insiden terakhir di Basarnas yang menelan korban jiwa.
Diketahui, kedua rescuer yang gugur adalah Tengku Rahmatsyah Putra (36) dan Dodi Prananta (38). Setelah delapan hari pencarian, mereka ditemukan dalam keadaan meninggal dunia di area bendungan PT Wampu Electric Power (WEP) di Desa Rih Tengah, Kecamatan Kutabuluh, Kabupaten Tanah Karo pada Rabu (23/10/2024).
Kedua pahlawan ini gugur saat menjalankan operasi pencarian Jeplenta Sebayang (36), warga Desa Limang, Kecamatan Tiga Binanga, Kabupaten Karo yang dilaporkan hanyut saat memancing. Dalam proses pencarian, perahu karet yang dinaiki kedua rescuer bersama empat personel lainnya terbawa arus deras di sungai yang menyempit, hingga akhirnya terbalik akibat menabrak kayu. Empat personel selamat, sementara kedua rescuer tersebut serta korban hanyut, Jeplenta Sebayang, ditemukan meninggal dunia pada Sabtu (19/10/2024).
Kejadian ini menjadi pengingat akan risiko besar yang dihadapi para rescuer dalam menjalankan tugas kemanusiaan.

Komentar