Senin, 15 Juni 2026 | 21:55
NEWS

Diskusi FGD Bahas Perjuangan Herman Fernandez dari Bayah hingga Yogyakarta

Diskusi FGD Bahas Perjuangan Herman Fernandez dari Bayah hingga Yogyakarta
Penyerahan buku Herman Fernandez karya Thomas B Ataladjar (Dok SMSI)

ASKARA – Focus Group Discussion (FGD) bertajuk "Herman Fernandez: Dari Perlawanan Bawah Tanah di Bayah hingga Gugur di Yogyakarta" berlangsung di Hotel Aston Serang beberapa waktu lalu. Acara ini menghadirkan sejumlah tokoh pers nasional dan peneliti sejarah sebagai narasumber, diprakarsai oleh Pokja Konstituen Dewan Pers Banten yang melibatkan PWI, SMSI, dan SPS.

Diskusi terbatas ini diawali dengan sambutan dari Ketua SMSI Banten, Lesman Bangun, dan Ketua PWI Banten, Rian Nopandra. Dalam kesempatan tersebut, mereka menekankan pentingnya mengenang perjuangan tokoh-tokoh sejarah yang memiliki kontribusi besar bagi bangsa.

Peneliti sejarah sekaligus penulis buku biografi Herman Yosep Fernandez, Thomas B. Ataladjar, menjelaskan perjuangan Herman dimulai saat ia bekerja sebagai pekerja tambang di Kecamatan Bayah. Di sana, Herman bertemu dengan tokoh revolusioner Tan Malaka dan berupaya mengumpulkan dana untuk pendidikan rekan-rekannya di Yogyakarta.

"Saat bekerja di tambang batubara di Bayah, Herman bertemu Tan Malaka dan bersama-sama mengumpulkan uang untuk membiayai pendidikan rekan-rekannya di Yogyakarta," ujar Thomas dalam keterangan yang diterima, Rabu (23/10).

Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik, dan Persandian (Diskomsantik) Banten, Nana Suryana, yang mewakili Pj Gubernur Banten, juga turut menyampaikan pandangannya. Ia menegaskan bahwa pers memiliki peran penting dalam menyajikan berita yang benar untuk meluruskan sejarah.

Sementara itu, Ketua Forum Masyarakat Indonesia Emas, Yohanes Handoyo Budi Sejati, menekankan pentingnya menghargai tokoh-tokoh sejarah seperti Herman Fernandez. "Kita harus menghargai perjuangan mereka yang telah berkontribusi untuk perubahan. Kami dari masyarakat akan meminta kepada pemerintah untuk menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada Herman Fernandez," tuturnya.

Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Pusat, Firdaus, juga menyoroti sikap toleransi masyarakat Banten. Menurutnya, meski dikenal sebagai daerah yang Islami, Banten tetap bisa menerima Herman Fernandez yang merupakan seorang misionaris.

"Keberadaan Herman Fernandez di Banten yang dikenal sebagai daerah Islami namun tetap bisa menerima seorang misionaris menunjukkan bahwa Banten adalah daerah yang sangat toleran," kata Firdaus.

Ketua Umum PWI Pusat, Zulmansyah Sekedang, menekankan peran pers sesuai dengan UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers, yaitu untuk memberikan edukasi kepada masyarakat. Ia pun mendorong seluruh elemen pers untuk terus mengangkat perjuangan Herman Fernandez agar diakui sebagai pahlawan nasional.

"Teman-teman, mari kita terus mempublikasikan perjuangan Herman Fernandez untuk mendapat pengakuan sebagai pahlawan nasional," pungkas Zulmansyah. 

 

 

Komentar