Kamis, 04 Juni 2026 | 09:19
NEWS

Wawancara Radio Taiwan: Prof. Rokhmin Dahuri Paparkan Kerjasama Blue Economy Antara Taiwan dan Indonesia

Wawancara Radio Taiwan: Prof. Rokhmin Dahuri Paparkan Kerjasama Blue Economy Antara Taiwan dan Indonesia
Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri MS

ASKARA - Radio Taiwan Internasional (RTI), melakukan wawancara khusus Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan - IPB University, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS, belum lama ini dalam rangka memperkuat kerjasama Indonesia dan Taiwan dalam Bidang Kelautan dan Perikanan.

Dalam wawancara yang dipandu Tony Thamsir, pakar kemaritiman tersebut memaparkan secara rinci kerjasama Blue Economy antara Taiwan dan Indonesia, yang dapat dilakukan.

"Meliputi di antaranya: Pertama , Pembangunan infrastruktur: pelabuhan (pelabuhan); bandara; konektivitas digital; dan pembangkit listrik tenaga biru (blue power plant), khususnya yang berbasis kelautan dan energi terbarukan lainnya termasuk pasang surut, ombak, biofuel dari ganggang laut, angin, surya, dan OTEC (Ocean Thermal Energy Conversion)," ujar Prof. Rokhmin Dahuri, pada kanal YouTube RTI Siaran Indonesia, dikutip Jum'at (28/10).

Kedua, pembangunan ekonomi: perikanan tangkap (fishing), budidaya perairan pesisir dan laut, industri pengolahan ikan dan makanan laut, industri bioteknologi kelautan, pariwisata bahari, industri dan jasa maritim (misalnya galangan kapal, alat penangkapan ikan, teknik pesisir dan lautan), transportasi laut, dll. 

Ketiga, pengembangan bersama pariwisata pesisir dan bahari. Keempat, perdagangan komoditas, hasil bumi, mesin dan peralatan serta jasa-jasa yang berkaitan dengan perekonomian dan industri kelautan. Taiwan harus membantu Indonesia untuk meningkatkan kemampuannya di bidang manufaktur dan proses yang bernilai tambah.

Kelima, program bersama dalam pemberantasan IUU (Ilegal, Unregulated, and Unreported) fishing, perampokan, pembajakan, imigran gelap, perdagangan narkoba, perdagangan manusia, dan kegiatan kriminal lainnya di laut.

"Keenam, perlindungan lingkungan, konservasi keanekaragaman hayati, dan penerapan Ekonomi Biru untuk menjamin pembangunan kelautan yang berkelanjutan," tegas Prof. Rokhmin Dahuri yang kini menjabat anggota DPR RI periode 2024 - 2029.

Ketujuh, peningkatkan dan mengembangkan Nelayan dan Pelaut Indonesia yang bekerja di kapal pariwisata, kapal angkut, dll. Bekerja sama dengan SPPI, pemerintah Indonesia harus melakukan peningkatan kapasitas (pengetahuan, keterampilan, dan etos kerja) bagi nelayan dan pelaut Indonesia agar kualitasnya menjadi yang terbaik. yang teratas, sebelum mereka datang dan bekerja di Taiwan.

Kedelapan, mengembangkan langkah-langkah mitigasi dan adaptasi terhadap Perubahan Iklim Global, tsunami, dan bencana alam lainnya.

Kesembilan, kolaborasi R&D (Research and Development) dalam berbagai aspek terkait kelautan untuk menghasilkan informasi ilmiah dan inovasi untuk pembangunan ekonomi biru berkelanjutan.

Kesepuluh, pendidikan dan pelatihan mata pelajaran yang berhubungan dengan PESISIR dan LAUT: pertukaran pelajar dan profesor (Dosen), Beasiswa Taiwan untuk Pelajar Indonesia untuk belajar (BSc, MSc, dan Ph.D) di Taiwan.

“Begitu pula dengan pemerintah dan perusahaan Taiwan juga harus memperlakukan nelayan dan pelaut Indonesia secara manusiawi termasuk gaji yang baik, kesejahteraan, keselamatan jiwa, dan hak asasi manusia,” kata Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) itu.
 
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Rokhmin Dahuri mengaku kunjungan ke Taiwan pada tahun ini merupakan yang keempat kalinya, tepatnya pada awal Juni lalu.

Menteri Kelautan dan Perikanan periode 2001-2004 itu, mengutarakan kunjungan kali ini guna memberikan kuliah bertema “Pembangunan Berkelanjutan Ekonomi Biru Dalam Triple Krisis Ekologi, Meningkatnya Ketegangan Geopolitis, Dan Era Disrupsi Teknologi Untuk Dunia Yang Sejahtera, Damai, Dan Berkelanjutan”, di National Taiwan Ocean University (NTOU) Taiwan.

Mitra Dagang Terbesar ke -13

Seperti diketahui, Indonesia merupakan mitra dagang terbesar ke-13 bagi Taiwan pada tahun 2022, merupakan sumber impor terbesar ke-11 bagi Taiwan dan pasar ekspor terbesar ke-18. 

Produk ekspor utama Taiwan ke Indonesia: sirkuit terpadu, produk rajutan dan kaitan, kain serat sintetis, suku cadang dan aksesoris mobil, mesin, baja canai dingin/panas, etilen, minyak bumi, produk minyak mentah, tuna mata besar, dan lain-lain; Impor utama dari Indonesia: batu bara, logam yang mengandung emas, gas alam cair, minyak mentah, produk setengah jadi dari baja tahan karat, tembaga, timah, kayu, amonia anhidrat, pulp, dan lain-lain.

Taiwan akan berinvestasi sebesar Rp 15 triliun ($1,07 miliar) di Indonesia melalui tiga perusahaan Taiwan dan satu perusahaan Indonesia. Investasi tersebut akan digunakan untuk pengembangan smelter nikel, perikanan, dan perdagangan karbon. “Perusahaan Taiwan juga tertarik berinvestasi di Ibu Kota Nusantara (IKN), ibu kota baru Indonesia,” terangnya.

Kemudian, Investor asal Taiwan kembali berinvestasi pada industri perikanan di Bitung, Indonesia. Hal ini mengikuti keberhasilan investasi Taiwan di masa lalu yang terhenti karena perubahan kebijakan. Bahkan Walikota Bitung menyambut baik minat baru ini dan berharap untuk memperkuat rencana tersebut dengan kunjungan ke Kantor Perdagangan dan Ekonomi Taipei di Jakarta.

Komentar