Selasa, 21 Juli 2026 | 22:56
NEWS

Azas Tigor Nainggolan: Apakah Hakim Indonesia Kurang Sejahtera?

Azas Tigor Nainggolan: Apakah Hakim Indonesia Kurang Sejahtera?
Ilustrasi palu sidang pengadilan (Dok Pixabay)

ASKARA – Rencana mogok kerja yang akan dilakukan oleh para hakim Indonesia pada tanggal 7-11 Oktober 2024 memicu banyak perdebatan. Para hakim mengklaim bahwa aksi ini merupakan bentuk protes terhadap kurangnya perhatian pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan mereka. Namun, pandangan kritis datang dari Azas Tigor Nainggolan, seorang advokat di Jakarta, yang mempertanyakan keabsahan keluhan tersebut.

“Apakah memang hakim Indonesia kurang sejahtera? Apakah Hakim Indonesia kelaparan?” tanya Tigor dalam pernyataannya, Minggu (29/9).

Menurutnya, banyak hakim saat ini yang hidup dalam kemewahan dan bahkan berlebihan. Ia mengungkapkan, ada banyak hakim yang ditangkap karena terlibat dalam kejahatan jual beli putusan dan korupsi, termasuk hakim agung dan pejabat tinggi di Mahkamah Agung.

"Bahkan, Sekjen Mahkamah Agung ditangkap KPK akibat jual beli putusan," ujarnya.

Lebih jauh lagi, Tigor mengkritik gaya hidup mewah yang dijalani sebagian hakim, di mana beberapa di antaranya memiliki penghasilan "gelap" dan memanfaatkan kekayaan mereka untuk memiliki lebih dari satu istri. Ia mempertanyakan kelayakan para hakim untuk mengeluh mengenai kesejahteraan mereka di tengah gaya hidup yang berlebihan ini.

"Apakah layak para hakim mengatakan bahwa mereka kurang sejahtera? Padahal gaji mereka sekarang berkisar antara Rp 30 juta hingga Rp 75 juta, belum termasuk tunjangan lain yang jumlahnya sangat besar. Mereka mendapatkan rumah dinas, kendaraan dinas, dan pelayanan kesehatan kelas VIP," jelasnya.

Tigor juga menyoroti adanya tunjangan penanganan perkara, yang menurutnya seharusnya tidak diperlukan mengingat hakim sudah digaji untuk menangani perkara tersebut. Namun, ia menyayangkan adanya hakim yang justru memanfaatkan posisi mereka untuk menjual putusan perkara kepada pencari keadilan.

Tigor menyebut para hakim yang mengancam mogok kerja ini seolah-olah tidak memiliki rasa malu. “Sudah dapat gaji besar, tunjangan berlebih, fasilitas hebat dari uang rakyat, serta secara serakah menjual putusan perkara kepada pencari keadilan. Sekarang mereka mengeluh tidak sejahtera?” ujarnya.

Mengakhiri pernyataannya, Tigor memberikan kritik tajam kepada para hakim yang merasa kurang sejahtera. “Lebih baik jika kalian merasa kurang sejahtera jadi hakim, berhenti saja dan cari pekerjaan lain yang mungkin bisa membuat kalian lebih sejahtera. Masih banyak rakyat Indonesia yang berintegritas dan pantas menjadi hakim menggantikan kalian yang korup,” tegasnya.

Tigor pun mengajak para hakim untuk introspeksi. “Coba kalian para hakim sekarang berdiri di depan cermin, lihat diri kalian dan bertanya: pantaskah saya menjadi hakim? Pantaskah saya mengeluh sebagai hakim di Indonesia yang kurang sejahtera? Pantaskah saya mengatakan bahwa pemerintah, dalam hal ini rakyat Indonesia, tidak menghidupi kalian dengan kesejahteraan yang baik?” tutupnya.

Pernyataan Azas Tigor Nainggolan ini menggarisbawahi kontroversi di balik mogok kerja hakim yang direncanakan, memberikan perspektif tajam mengenai moralitas dan integritas profesi hakim di Indonesia.

 

 

Komentar