Selasa, 21 Juli 2026 | 22:47
NEWS

Ekonom Faisal Basri Wafat, Prof Rokhmin Dahuri: Banyak Kontribusi Untuk Kemajuan Bangsa Ini

Ekonom Faisal Basri Wafat, Prof Rokhmin Dahuri: Banyak Kontribusi Untuk Kemajuan Bangsa Ini
Prof Dr Ir Rokhmin Dahuri dan Faisal Basri saat diskusi bersama

ASKARA - Ekonom senior UI dan pendiri Institute for Development of Economics & Finance (Indef), Faisal Basri wafat pada Kamis (5/9), pukul 03.50 dinihari di Rumah Sakit Mayapada Kuningan Jakarta. Rumah duka almarhum Faisal Basri berada di Komplek Gudang Peluru Blok A 60 Jakarta Selatan.

Cendekiawan Muslim, Prof Dr Ir Rokhmin Dahuri MS, lewat akun Instagram nya @rokhmindahuriid, dikutip Jumat (6/9) menyampaikan ucapan duka kepada sahabat nya.

"Innalilahi wainnailaihi roji'un, telah berpulang ke Rahmatullah, sahabat saya Faisal Basri, seorang ekonom Indonesia yang telah banyak berkontribusi bagi kemajuan negeri ini," ujarnya.

Menurut Guru Besar IPB University tersebut, kebaikan dan dedikasinya dalam memperjuangkan ekonomi yang berkeadilan, ketahanan pangan, dan harga diri bangsa akan terus dikenang.

"Semoga amal ibadah almarhum diterima disisi Allah SWT, dan keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan ketabahan," pungkas anggota DPR RI terpilih periode 2024 - 2029 itu.

Firasat Sebelum Wafat

Sebelum wafat,  Faisal Basri menegaskan jangan berharap Indonesia Emas, yang ada sekarang kalau kita potret Indonesia Cemas. 

"Artinya saya cemas dengan nasib kalian. Pertama, lapangan kerja yang tercipta makin tidak bermutu, lebih banyak pekerja erja informal daripada pekerja formal. Kemudian, utang yang menumpuk. "Kalian yang bayar yang utang kami," ujar Faisal Basri dalam unggahan videonya beberapa hari lalu.

Lalu, sambungnya, lingkungan dirusak. Lihat kita rasakan sendiri kan lingkungan dirusak. Jelas, pemerintah mengakui penyebab utamanya adalah pembangkit listrik, tenaga batu bara.

Hal ini, katanya, jelas usia anda makin pendek akibat pengaruh dari racun semua itu. Dan umur rata rata orang Indonesia namanya life expentancy at birth . Jadi angka harapan hidup waktu lahir kita tinggal 67 tahun.

Terus kekayaan alam sudah digaruk semua sama generasi sekarang. Kalian diam saja, nasib kalian akan sengsara di masa akan datang. Maka bersuaralah menyampaikan pandangan subjektif anda tentang masa depan. 

"Nah, oleh karena itu tidak sepantasnya saya yang bicara. Kalian harus bicara dong. Saya sudah mau dipanggil oleh Allah Subhanahu Wata'ala. Saya mah nggak menderita banyak. Kalian yang hidup 40, 50, 60 tahun lagi. Terus pakai apa hidup ini. Bersuaralah atas ketamakan generasi sekarang ke ugal-ugalan generasi sekarang yang membuat anda menderita," tegasnya mengakhiri.

Komentar