Kuliah Umum Unand, Prof Rokhmin Dahuri: Siapkan Alumni Universitas Andalas Hadapi Dinamika Global
ASKARA - Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan-IPB University, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MSc mengingatkan Universitas Andalas (Unand) untuk menyiapkan alumni Universitas Andalas yang sukses, bahagia dunia – akhirat, dan berkontribusi signifikan dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.
Demikian disampaikan Prof Rokhmin Dahuri memberikan orasi ilmiah dengan materi berjudul “Menyiapkan Alumni Universitas Andalas Menghadapi Tantangan Pembangunan Nasional Dan Dinamika Global Untuk Mewujudkan Indonesia Emas 2045” disampaikan pada kuliah umum Wisuda IV Universitas Andalas (Unand) di Auditorium Kampus UNAND Limau Manis, Jumat, 31 Agustus 2024.
Dalam kesempatan tersebut, Prof Rokhmin Dahuri menyampaikan jenis-jenis pekerjaan terdiri: 1. ASN (Aparat Sipil Negara): Kementerian dan Lembaga Negara, Pemprov dan Pemkab/Pemkot, TK, SD, SLTP, SLTA, Perguruan Tinggi Negeri, BRIN dan BRIDA, dll.
2. BUMN dan BUMD, 3. Koperasi dan UMKM, 4. Yayasan, 5. Konsultan, 6. Perusahaan Swasta Nasional dan Internasional ,7. LSM lokal, nasional, dan internasiona,l 8. Wirausaha (entrepreneur) menciptakan lapangan kerja sendiri ,9. Dll,
“Ada 12 (duabelas) kelompok IPTEK, keterampilan (skills), dan keahlian (expertise) yang dibutuhkan di abad-21 ini,” ujar Menteri Kelautan dan Perikanan 2001–2004 itu.
Pertama, Teknologi dan Manajemen untuk memproduksi produk dan jasa bagi pemenuhan kebutuhan dasar manusia: pangan, sandang, rumah, kesehatan, pendidikan, dan rekreasi (wisata). Kedua, Pemenuhan kebutuhan sekunder dan tersier manusia: peralatan rumah tangga, komputer, kendaraan, dll..
Ketiga, Pembangunan infrastruktur seperti jalan, pelabuhan, jaringan listrik, gas, dan Telkom. Keempat, Transportasi, komunikasi, dan konektivitas digital. Kelima, Pertahanan dan keamanan, termasuk industri pertahanan.
Keenam, Eksplorasi, produksi, pengolahan, dan distribusi mineral dan bahan tambang. Ketujuh, Eksplorasi, produksi, pengolahan, dan distribusi berbagai jenis energi terbarukan dan tidak terbarukan. Kedelapan, Teknologi dan manajemen lingkungan untuk pembangunan ekonomi berkelanjutan.
Kesembilan, Mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim dan bencana alam lainnya. Kesepuluh, Teknologi Industry 4.0 dan Society 5.0 seperti IoT. Kesebelas, Manajemen ekonomi, investasi, bisnis, dan perdagangan. Keduabelas, Ilmu-ilmu dasar yang mendukung pengembangan kesebelas kelompok IPTEK terapan.
Selain itu, ada 8 yang dibutuhkan di Abad-21, antara lain: 1. Kompeten pada bidang IPTEK yang ditempuh selama pendidikannya, 2. Memiliki kemampuan analisis, sintesis, kritis, kreatif, inovatif, dan problem solving, 3. Menguasai dan terampil teknologi digital (menggunakan komputer, HP, dan platform lainnya).
4. Memiliki soft skills : memompa motivasi diri, bisa bekerjasama, teamwork, disiplin, dan leadership), 5. Menguasai sedikitnya satu bahasa asing (seperti Inggris, Arab, atau Mandarin, 6. Berakhlak mulia (jujur, amanah, fathonah/visioner, tabligh, berempati, kanaah, sabar, dan bersyukur),
7. Beriman dan taqwa kepada Tuhan YME menurut agama masing-masing, 8. Hidup harmonis penuh kedamaian dengan sesama insan.
Selanjutnya, Prof. Rokhmin Dahuri menjabarkan karakter soft skills, etos kerja, dan akhlak mulia yang dibutuhkan di abad-21, antara lain: Soft-skills tersebut mencakup: Kemampuan memahamo kekuatan dan kelemahan diri; Kemampuan memahami kemauan dan kesukaan orang lain (mitra);
Kemampuan terus memelihara dan memompa motivasi untuk menjadi yang terbaik; Kemamuan analisis dan memecahkan masalah; Kreatif dan inovatif; Kepemimpinan; Kewirausahaan; Kolaborasi; Kemampuan Bahasa asing (Inggris, Arab, Mandarin, dan lain-lain).
Lalu etos kerja mencakup: kerja keras; rajin; disiplin; tahan banting, tak mudah putus asa, dan pantang menyerah; antisipatif; adaptif; dan agile (lincah),” kata Ketua Dewan Pakar MPN (Masyarakat Perikanan Nusantara) itu.
“Adapun akhlak mulia terdiri dari: shidiq (jujur), Amanah (dapat dipercaya), fathonah (cerdas dan visioner), mampu menyampaikan dan berbagi kelebihan kepada orang lain, sabar dan syukur, qana’ah (sikap rela menerima dan merasa cukup atas hasil yang diusahakannya), tidak iri dan dengki, serta tidak pemarah dan pendendam,” tuturnya.
Kemudian, peningkatan kualitas SDM yang saat ini sudah bekerja, yakni: 1. Upskilling untuk jenis-jenis pekerjaan yang masih exis saat ini, tapi dengan perkembangan IPTEK baru, diperlukan peningkatan pengetahuan, skills (keterampilan), expertise (keahlian), dan etos kerja. Melalui training di perusahaan (tempat kerja) masing-masing, BLK (Balai Latihan Kerja), perusahaan konsultan, SMK, Perguruan Tinggi Vokasi, dan lainnya.
2. Reskilling untuk menambah (mengubah) pengetahuan, skills, expertise, dan etos kerja baru, seiiring dengan pesatnya perkembangan IPTEK di abad-21 ini, khususnya terkait dengan jenis-jenis teknologi Industry 4.0, seperti: Digital Coding, Big Data, IoT, AI, Blockchain, Cloud Computing, Robotics, Drone, Advanced Materials, Biotechnology, dan Nanotknologi.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Dosen Kehormatan Mokpo National University itu mengingatkan pentingnya Inovasi, antara lain: 1. Mengembangkan Keterampilan Adaptif dan Fleksibilitas. Tingkatkan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan lingkungan dan tantangan baru.
2. Menguasai Teknologi dan Literasi Digital. seperti kecerdasan buatan (AI), big data, dan Internet of Things (IoT). Literasi digital mencakup kemampuan menggunakan alat dan platform digital secara efektif.
3. Pendidikan Berkelanjutandan Lifelong Learning. Peningkatan Keterampilan (Upskilling) melalui kursus, sertifikasi, dan pelatihan, serta mengadopsi konsep pembelajaran berkelanjutan untuk memperoleh pengetahuan sesuai perkembangan global.
4. Meningkatkan Keterampilan Sosial dan Emosional. Kemampuan berkomunikasi, berkolaborasi, membangun hubungan kerja yang efektif, dan meningkatkan Inteligensi Emosional (EQ).
5. Berpikir Kritis dan Pemecahan Masalah. Asah kemampuan berpikir kritis dan ciptakan solusi inovatif untuk masalah yang kompleks.
6. Kewirausahaan dan Inovasi. Kembangkan mentalitas kewirausahaan dan dorong inovasi dalam setiap aspek pekerjaan.
7. MemperkuatJaringandan KolaborasiGlobal. Bangun dan perluas jaringan profesional serta kolaborasi internasional.
8. MemahamiIsuGlobal dan BudayaMultinasional. Memahami isu-isu global seperti perubahan iklim, krisis kemanusiaan, dinamika politik global, dan kemampuan beradaptasi dengan budaya multinasional.
9. Membangun Kesehatan Mental dan Fisik. Mengelola stres, menjaga keseimbangan antara kerja dan kehidupan pribadi, mengadopsi gaya hidup sehat dengan olahraga, diet seimbang, dan istirahat yang cukup.
10. Berpikir Visioner dan Berwawasan Jauh. Miliki visi jangka panjang dan rencanakan langkah strategis untuk masa depan.

Modal Dasar Pembangunan Indonesia
Prof. Rokhmin Dahuri menegaskan Indonesia memiliki modal dasar yang lengkap dan besar untuk menjadi bangsa maju, adilmakmur, dan berdaulat. Lalu, ia menguraikan modal dasar pembangunan Indonesia, antara lain:
Pertama, Bonus Demografi. Indonesia memiliki jumlah penduduk 281,6 juta orang (terbesar keempat di dunia) dengan jumlah kelas menengah yang terus bertambah, dan dapat bonus demografi dari 2020 – 2040 dengan potensi human capital (daya saing) dan pasar domestik yang luar biasa besar.
“Posisi geoekonomi yang sangat strategis ini harusnya dijadikan peluang bagi Indonesia sebagai negara produsen dan pengekspor barang dan jasa (goods and services) utama di dunia, sehingga menghasilkan neraca perdagangan yang positip (surplus) secara berkelanjutan. Sayangnya, potensi tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal,”ujar Anggota Dewan Pakar MN-KAHMI itu.
Kedua, kaya beragam jenis Sumber Daya Alam (SDA) baik di darat maupun di laut. Ketiga, posisi geoekonomi dan geopolitik yang sangat strategis, dimana 45% dari seluruh komoditas dan produk dengan nilai 15 triliun dolar AS/tahun dikapalkan melalui ALKI (Alur Laut Kepulauan Indonesia) (UNCTAD,2012). Selat Malaka (ALKI-1) merupakan jalur transportasi laut terpada di dunia, 200 kapal/hari.
“Posisi geoekonomi yang sangat strategis ini harusnya dijadikan peluang bagi Indonesia sebagai negara produsen dan pengekspor barang dan jasa (goods and services) utama di dunia, sehingga menghasilkan neraca perdagangan yang positip (surplus) secara berkelanjutan. Sayangnya, sejak 2010 hingga 2019 neraca perdagangan RI justru negatip terus,” ujarnya.
Keempat, rawan bencana alam (70% gunung berapi dunia, tsunami, dan hidrometri) semestinya dianggap sebagai tantangan yang membentuk etos kerja unggul (inovatif, kreatif, dan entrepreneur) dan akhlak mulia bangsa.
“Dengan jumlah penduduk yang sangat besar, kekayaan sumber daya alam darat dan laut yang melimpah serta posisi geoekonomi dan geopolitik Indonesia menjadi sangat strategis. Akan tetapi, potensi tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal,” ujar Prof. Rokhmin Dahuri.
Permasalahan Pembangunan Indonesia
Prof Rokhmin Dahuri memaparkan, sejak merdeka pada 17 Agustus 1945, alhamdulillah bangsa Indonesia dari tahun ke tahun terus mengalami perbaikan hampir di semua bidang kehidupan. “Contohnya, kalau pada 1945 – 1955 sekitar 70 persen rakyat Indonesia masih miskin, pada 1970 jumlah rakyat miskin menurun menjadi 60 persen,” ujar Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) itu, merujuk data BPS yang diolah oleh RD Institute (2023).
Selanjutnya, pada 2004 tingkat kemiskinan turun lagi menjadi 16 persen, tahun 2014 mejadi 12 persen, dan tahun 2019 tinggal 9,2 persen. Namun, dampak dari pandemi Covid-19, pada 2023 tingkat kemiskinan meningkat lagi menjadi 9,3% atau sekitar 26,4 juta orang.
“Menurut World Bank, ukuran ekonomi atau PDB (Produk Domestik Bruto) Indonesia saat ini mencapai 1,1 trilyun dolar AS atau terbesar ke-16 di dunia. Dari 200 negara anggota PBB, hanya 19 negara dengan PDB US$ > 1 triliun,” terangnya.
Kemudian, Prof. Rokhmin Dahuri menjelaskan permasalahan & tantangan pembangunan Indonesia. Pertama. Pertumbuhan ekonomi rendah (<7% per tahun). Kedua, Pengangguran & Kemiskinan. Ketiga, Ketimpangan ekonomi terburuk ke-3 di dunia. Keempat, Disparitas pembangunan antar wilayah. Kelima, Fragmentasi sosial: Kadrun vs Cebong, dll. Keenam, Deindustrialisasi. Ketujuh, Kedaulatan pangan, farmasi, dan energy rendah. Kedelapan, Daya saing & IPM rendah. Kesembilan, Kerusakan, lingkungan & SDA. Kesepuluh, Volatilitas global (perubahan iklim, China vs AS, Industry 4.0).
Indonesia menduduki peringkat ke-3 sebagai negara dengan tingkat kesenjangan ekonomi tertinggi (terburuk) di dunia, Menurut laporan Credit Suisse’s Global Wealth Report 2019, 1% orang terkaya di Indonesia menguasai 44,6% kue kemakmuran secara nasional, sementara 10% orang terkaya menguasai 74,1%. Kekayaan 4 orang terkaya (US$ 25 M = Rp 335 T) sama dengan total kekayaan 100 juta orang termiskin (40% penduduk) Indonesia. (Oxfam, 2017). “Sekitar 0,2% penduduk terkaya Indonesia menguasai 66% total luas lahan nasional (KPA, 2015),” ungkapnya.
Perhitungan angka kemiskinan atas dasar garis kemiskinan versi BPS (2024), yakni pengeluaran Rp 582.932/orang/bulan. Garis kemiskinan = Jumlah uang yang cukup untuk seorang memenuhi 5 kebutuhan dasarnya dalam sebulan. Menurut garis kemiskinan Bank Dunia (3,2 dolar AS/orang/hari atau 96 dolar AS/orang/bulan (Rp 1.440.000)/orang/bulan), jumlah orang miskin pada 2023 sebesar 111 juta jiwa (37% total penduduk).
Bahkan sekarang, sambungnya, 175 juta ha (93% luas daratan Indonesia) dikuasai oleh para konglomerat (korporasi) nasional dan asing (Institute for Global Justice, 2016). Pertumbuhan Ekonomi dan Kontribusi PDRB Menurut Pulau, 2023 dan 2024 TW I masih di dominasi oleh kelompok Provinsi Pulau Jawa yang memberikan kontribusi terhadap PDB 2023 sebesar 57,05% dan 2024 TW I Sebesar 57,70%.
Disisi lain, sambungnya, deindustrilisasi terjadi di suatu negara, manakala kontribusi sektor manufakturnya menurun, sebelum GNI (Gross National Income) perkapita nya mencapai US$ 12.536. “Hingga 2021, peringkat Global Innovation Index (GII) Indonesia berada diurutan ke-87 dari 132 negara, atau ke-7 di ASEAN,” kata Prof. Rokhmin Dahuri yang juga Dosen Kehormatan Mokpo National University Korea Selatan itu.
Masalah lainnya kekurangan rumah sehat dan layak huni. Dari 65 juta Rumah Tangga, menurut data BPS tahun 2019 dimana 61,7 persen tidak memiliki rumah layak huni. “Padahal, perumahan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia (human basic needs) yang dijamin dalam Pasal 28, Ayat-h UUD 1945,” terangnya.
Yang sangat mencemaskan, sambungnya, adalah bahwa 30% anak-anak kita mengalami stunting, 17,7% bergizi buruk, dan 10,2% berbadan kurus akibat kurang makanan bergizi (Kemenkes dan BKKBN, 2022). Satu dari tiga anak di Indonesia mengalami stunting.
Sedangkan batas toleransi menurut WHO adalah satu banding lima dari total balita. “Implikasinya, jika tidak segera diatasi maka generasi mendatang fisiknya lemah dan kecerdasannya rendah sehingga terancam a lost generation,” tegas Anggota Dewan Pakar ICMI Pusat itu.
Disisi lain, biaya yang diperlukan orang Indonesia untuk membeli makanan bergizi seimbang sebesar Rp 22.126/hari atau Rp 663.791/bulan. Harga tersebut berdasarkan pada standar komposisi gizi Healthy Diet Basket (HDB) (FAO, 2020). “Atas dasar perhitungan tersebut; ada yang tidak mampu memenuhi biaya tersebut 183,7 (68% total penduduk),” terang Prof. Rokhmin Dahur mengutip Litbang Kompas, 2022 di Harian Kompas, 9 Desember 2022.
Masalah lainnya, Prof. Rokhmin Dahuri mengatakan, kekurangan rumah yang sehat dan layak huni dari 45 Juta rumah tangga masih 61,7 % rumah tidak layak huni. Padahal, perumahan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia (human basic needs) yang dijamin dalam Pasal 28, Ayat-h UUD 1945. “Hingga 2021, Indeks Pembangunan Manusia Indonesia berada diurutan ke-114 dari 191 negara, atau peringkat ke-5 di ASEAN,” kata Ketua Dewan Pakar MPN (Masyarakat Perikanan Nusantara) itu.

Kondisi Perekonomian Indonesia Terkini
Kemudian Prof Rokhmin Dahuri menjelaskan kondisi perekonomian Indonesia terkici mengalami kecenderungan pertumbuhan ekonomi menurun. Pertumbuhan ekonomi – RI pada 2023 hanya 5,05% lebih rendah dari pada 2022 sebesar 5,31% (BPS, 2024). Pertumbuhan ekonomi pada 2024 dan 2025 diperkirakan sekitar 4,9% (Bank Dunia, 2024).
Tren penurunan pertumbuhan ekonomi itu disebabkan baik oleh faktorfaktor domestik (kenaikan harga barang pokok khususnya beras dan komoditas pangan utama lainnya, penurunan daya beli masyarakat, penurunan jumlah kelas menengah, deindustrialisasi, rendahnya daya saing, dan PHK) maupun oleh faktor- faktor eksternal (Perubahan Iklim Global dan ketegangan geopolitik) yang mengakibatkan terganggunya inevestasi dan ekspor Indonesia. Pertumbuhan Ekonomi = f (Investasi, Ekspor, Konsumsi, dan Impor). Bank Dunia dalam Global Economic Prospects edisi Januari 2024 menyoroti suramnya perekonomian global.
Pada 2022 pertumbuhan ekonomi global mencapai 2,9%. Kemudian, pada 2023 menurun menjadi 2,6%, dan pada 2024 diperkirakan akan menurun lagi menjadi sekitar 2,4%. Melemahnya pertumbuhan ekonomi global telah berdampak pada penurunan harga komoditas, khususnya Batubara dan CPO, sehingga berakibat pada penurunan nilai ekspor RI, melemahnya geliat industri manufaktur, dan melonjaknya PHK.
Sejak 2020 (Covid-19) hingga sekarang gelombang PHK terus meningkat. Pada 2022, PHK sebanyak 25.144 orang. Kemudian, pada 2023 PHK meningkat menjadi 64.855 orang, dan per Mei 2024, jumlah PHK mencapai 69.472 orang (Kemenaker, 2024). PHK Sebagian besar terjadi di industri tekstil dan produk tekstil (TPT).
Selanjutnya, Prof. Rokhmin Dahuri menguraikan kondisi perekonomian terkini (2024) Indonesia, yaitu Alarm Kinerja Industri Manufaktur. Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Managers’ Index = PMI) manufaktur bulan Juni 2024, yang dirilis S & P Global, mengalami penurunan, meskipun industri manufaktur masih dalam zona ekspansi (tercermin dari angka PMI yang masih diatas 50).
PMI bulan Juni sebesar 50,7, mendekati ambang batas menuju kontraksi industri manufaktur (PMI = 50). PMI Juni itu menurun 1,4 dari PMI Mei sebesar 52,1. Kemudian, pada Juli berada pada 49,3 (zona kontraksi, PMI < 50), turun 1.4 poin dari bulan sebelumnya (Juni). Kontraksi aktivitas manufaktur terjadi setelah mampu bertahan di zona (level) ekspansi selama 34 bulan berturut-turut. Angka PMI Juli merupakan PMI terendah sejak Nopember 2022.
“Padahal, sektor industri manufaktur merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia, yang menyumbangkan 18,7% PDB dan 72,24% total ekspor RI. Sektor ini juga menyerap banyak tenaga kerja,” tegas Anggota Dewan Penasihat Ilmiah Internasional Pusat Pengembangan Pesisir dan Laut, Universitas Bremen, Jerman itu.
Selanjutnya, penurunan kinerja sektor Industri Manufaktur berdampak negatip terhadap kinerja ekspor dan neraca perdagangan yang akhir-akhir ini mencemaskan; Ekspor produk manufaktur non-migas, yang terus meningkat sepanjang 2019 hingga 2022, sejak awal 2023 berbalik terkontraksi sebesar 11,95% akibat perlambatan ekonomi global dan rendahnya daya saing produk manufaktur RI (terutama tekstil dan produk tekstil);
Sementara itu, neraca perdagangan, meskipun masih menunjukkan tren surplus selama 49 bulan (4 tahun terakhir) secara berturut-turut, nilai surplusnya kian tergerus, lantaran semakin mengecilnya selisih nilai ekspor dan impor;
Pertumbuhan nilai ekspor yang double digit pada 2022, tidak berlanjut sejak awal 2023, karena sebelumnya ekspor RI banyak ditopang oleh komoditas alias raw materials (seperi CPO, batubara, nikel, rumput laut, dan udang);
Defisit perdagangan yang melebar akan memperparah twin deficit yang dialami Indonesia, yakni defisit neraca transaksi berjalan dan defisit APBN, yang pada gilirannya akan berdampak negatip terhadap ketahanan ekonomi makro (eksternal) Indonesia;
Penurunan kinerja industri manufaktur selain berdampak negatip pada nilai ekspor, neraca perdagangan, dan twin deficit, juga telah mengakibatkan gelombang PHK masal di seluruh wilayah Nusantara, khususnya Jawa, dan lebih khusus lagi di Jabar, Banten, dan Jatim;
Penurunan PMI bukan hanya dialami Indonesia, tetapi merupakan fenomena global. Namun, Indonesia menderita penurunan PMI yang paling signifikan. Oleh sebab itu, tidak hanya penurunan permintaan global yang menyebabkan penurunan tajam PMI RI, tetapi juga lantaran rendahnya daya saing produk manufaktur RI; Selain itu, kenaikan harga bahan baku lantaran melemahnya nilai tukar rupiah, kenaikan harga solar, dan tingginya biaya logistik juga menjadi penyebab turunnya PMI.
Disisi lain, utang pemerintah yang sangat besar dan terus meningkat dapat membahayakan perekonomian Indonesia. Menurutnya, tingkat utang pemerintah dan swasta yang semakin besar dapat mengikis kepercayaan para investor untuk berinvestasi di Indonesia.
Utang pemerintah yang tinggi akan membatasi ruang fiskal negara (karena sebagian APBN digunakan untuk bayar utang: cicilan pokok maupun bunganya), serta menghambat investasi publik dan swasta (Aaditya Mattoo, Kepala Ekonomi Kawasan Asia Timur dan Pasifik, Bank Dunia, 2024).
Setiap kenaikan utang sebesar 10% poin akan menurunkan laju pertumbuhan investasi sebesar 1,1% poin (East Asia – Pacific Economic Update April 2024 “ Firm Foundation of Growth”. World Bank, 2024).
Beban anggaran APBN untuk membayar cicilan pokok dan bunga utang Indonesia meningkat siginifikan dalam 10 tahun terakhir (Dua Periode Pemerintahan Presiden Jokowi). Di kawasan Asia - Pasifik, negara-negara yang mengalami peningkatan beban bunga utang paling signifikan pasca Pandemi Covid-19 adalah Indonesia, Laos, Papua Nugini, dan Mongolia.
Beban pembayarabn bunga utang (diluar pokok utang) dalam APBN 2024 sebesar Rp 497,3 trilyun. Angka ini nyaris menyamai dengan jumlah defisit APBN (proyeksi belanja negara yang akan dibiayai dengan utang) sebesar Rp 522,8 trilyun. Total utang RI saat ini Rp 8.444 trilyun (Kemenkeu, 2024).
Alokasi anggaran untuk membayar bunga utang itu merupakan yang kedua tertinggi dalam komponen belanja pemerintah pusat dalam APBN 2024. Yakni: anggaran Kesehatan Rp 187,5 trilyun, Perlinsos Rp 496,8 trilyun, Infrastruktur Rp 423,4 trilyun, dan Pendidikan Rp 665 trilyun.
Dalam sepuluh tahun terakhir terjadi penuruan kelas menengah Indonesia. Untuk kelas menengah ukurannya ialah pengeluarannya 3,5-17 kali garis kemiskinan (Rp 582.930/orang/bulan) atau pengeluarannya sekitar Rp 2,04 juta sampai 9,90 juta per kapita per bulan.
Kelas menengah rentan 1,5-3,5 kali garis kemiskinan atau senilai Rp 874,39 ribu sampai Rp 2,04 juta. Rentan miskin ialah 1-1,5 kali garis kemiskinan atau Rp 582,93 ribu sampai dengan Rp 874,39 ribu. Sedangkan, orang miskin adalah yang pengeluarannya < garis kemiskinan.
Pada 2019 jumlah kelas menengah di Indonesia mencapai 57,33 juta orang (21,45% total penduduk). Lalu, pada 2024 hanya tersisa menjadi 47,85 juta (17,13%). Artinya ada sebanyak 9,48 juta warga kelas menengah yang turun kelas.
Selain itu, kelompok masyarakat kelas menengah rentan (aspiring middle class) malah naik, dari 2019 hanya sebanyak 128,85 juta (48,20% total penduduk) menjadi 137,50 juta orang (49,22%). Kelompok masyarakat rentan miskin juga ikut membengkak dari 2019 sebanyak 54,97 juta orang (20,56%) menjadi 67,69 juta orang (24,23%) pada 2024. Artinya, banyak golongan kelas menengah yang turun kelas kedua kelompok itu.

Penyebab Ketertinggalan Indonesia
Prof Rokhmin Dahuri menyebutkan ada beberapa faktor yang menyebabkan Indonesia tertinggal dibandingkan sejumlah bangsa lain. “Penyebab ketertinggalan Indonesia itu ad fakror internal, ada pula faktor eksternal,” kata Prof Rokhmin Dahuri.
Ia menyebutkan, faktor internal tersebut yaitu belum ada “Road Map Pembangunan Nasional yang Komprehensif, Tepat, dan Benar” yang dilaksanakan secara berkesinambungan Kualitas SDM (knowledge, skills, expertise, kapasitas inovasi, dan etos kerja) relatif rendah Akhlak Bangsa belum baik (budaya “sms”, instan, susah kerjasama, tidak amanah, KKN, dan hedonis). ‘Selain itu, Negara kita belum ada pemimpin yang capable, negarawan, dengan IMTAQ kokoh dan akhlak mulia,” ujar Prof Rokhmin Dahuri.
Adapun faktor eksternal, kata dia, antara lain keserakahan bangsa-bangsa maju dan kapitalisme cenderung menjajah secara ekonomi negara berkembang. “Juga, disrupsi akibat kemajuan IPTEK yang sangat pesat, Global Warming, dan tensi geopolitik pertarungan ideologi,” paparnya.
Dalam kesempatan itu, Prof Rokhmin Dahuri menguraikan struktur tenaga kerja indonesia menurut tingkat pendidikan pada 2024. Antara lain, Lulusan pendidikan tinggi hanya 13%, Lulusan ≤ SD masih 37%.
Hasil survei Program International for Student Assessment (PISA) 2022, yang mengukur kemampuan membaca, matematika, dan sains pelajar kelas 3 SLTP seluruh dunia, Indonesia menduduki peringkat ke-69 dari 81 negara. Sedangkan dari hasil riset tingkat literasi Negara di dunia yang bertajuk World’s Most Literate Nations Ranked, dilakukan oleh Central Connecticut State University pada 2016, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca.
Hingga 2019, Global Entrepreneurship Index Indonesia berada diurutan ke-75 dari 137 negara atau peringkat ke-6 di ASEAN. Dari jumlah penduduk Singapura 9, Malaysia 5 Persen, Thailand 4 Persen,, Indonesia 3,5 Persen. Sedangkan menurut standar Bank Dunia, jumlah pengusaha minimal 7% dari jumlah penduduk.
Hingga 2023, peringkat GII (Global Innovation Index) Indonesia berada diurutan ke-61 dari 132 negara, atau ke-6 di ASEAN. Pada 2024, indeks daya saing Indonesia meningkat, diurutan ke27 dari 67 negara, atau peringkat ke-3 di ASEAN.
Sayangnya, kata Prof Rokhmin Dahuri, pada 2018-2022 indeks daya saing Indonesia semakin menurun, hingga 2022 diurutan ke-44 dari 141 negara, atau peringkat ke-4 di ASEAN. Hampir semua indikator yang terkait dengan kapasitas Iptek, riset, inovasi, dan kualitas SDM bangsa Indonesia masih rendah (tertinggal).
Implikasi dari rendahnya kualitas SDM, kapasitas riset, kreativitas, inovasi, dan entrepreneurship adalah proporsi ekspor produk manufaktur berteknologi dan bernilai tambah tinggi hanya 8,1 persen. Selebihnya, 91,9 persen berupa komoditas (bahan mentah) atau SDA yang belum diolah. “Sementara, Singapura mencapai 90 persen, Malaysia 52 persen, Vietnam 40 peren, dan Thailand 24 persen,” urai Rokhmin mengutip data UNCTAD dan UNDP, 2021.
Key Global Trends
Pada prinsipnya, menurut Prof. Rokhmin Dahuri, ada 5 kecenderungan global (key global trends) yang mempengaruhi kehidupan dan peradaban manusia di abad-21, yakni: (1) jumlah penduduk dunia yang terus bertambah; (2) Industri 4.0 (Revolusi Industri Keempat); (3) Perubahan Iklim Global (Global Climate Change); (4) Dinamika Geopolitik; (5) Era Post-Truth. “Kelima kecenderungan global diatas mengakibatkan kehidupan dunia bersifat VUCA (Volatile, Uncertain, Complex, and Ambiguous), bergejolak, tidak menentu, rumit, dan membingungkan (Radjou and Prabhu, 2015),” ujarnya.
Oleh sebab itu, Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia tersebut menekankan agar sistem dan lembaga Pendidikan Tinggi harus mampu mendesain dan memberikan kapasitas kepada para mahasiswanya dan bangsa Indonesia yang dapat mengelola atau mengatasi fenomena VUCA tersebut. Melalui kegiatan Tri Darma Perguruan Tinggi nya: Pengajaran/Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian Kepada Masyarakat.
“Kapasitas (knowledge, skills, expertise, dan attitude) yang dibutuhkan untuk mengarungi kehidupan di era VUCA dengan sukses dan bahagia adalah: kreativitas, inovatif, kemampuan beradaptasi, daya lenting (resillience), agility (kegesitan), kolaborasi (teamwork), positive thinking, entrepreneurship, dan iman dan taqwa menurut agama kita masing-masing,” tegasnya.
Lalu, Prof. Rokhmin Dahuri menguraikan sepuluh risiko terbesar yang dihadapi dunia dalam dua tahun ke depan, yaitu 1. Misinformasi & Disinformasi, 2. Kejadian Ekstrem, 3. Polarisasi Masyarakat, 4. Ketidakamanan Siber, 5. Konflik Bersenjata Kepentingan, 6. Kurangnya Peluang Ekonomi, 7. Inflasi, 8. Kemerosotan Ekonomi, 9. Pencemaran, 10. Migrasi Yang Tidak Sukarela.
Sedangkan sepuluh risiko teratas yang dihadapi dunia dalam sepuluh tahun mendatang, antara lain: 1. Peristiwa cuaca ekstrem, 2. Perubahan Kritis pada Sistem Bumi, 3. Hilangnya keanekaragaman hayati dan runtuhnya ekosistem, 4. Kekurangan sumber daya alam, 5. Misinformasi dan disinformasi, 6. Dampak buruk teknologi AI, 7. Migrasi tidak sukarela, 8. Ketidakamanan dunia maya, 9. Polarisasi masyarakat, 10. Polusi.
Dalam kesempatan itu, Prof Rokhmin Dahuri memaparkan abad terakhir menyaksikan peningkatan dramatis dalam permintaan manusia untuk semua jenis sumber daya alam. Pada tahun 2020, untuk pertama kalinya, konsumsi gabungan bahan konstruksi, mineral, bahan bakar fosil, dan biomassa mencapai 100 miliar ton, lebih dari 10 kali lipat lebih banyak daripada tahun 1990 (https://www.theguardian.com/environment/2020/jan/22/worlds-consumption of materials hits record 100 bn tonnes a year).
Dunia perlu memproduksi setidaknya 50% lebih banyak makanan untuk memberi makan 9,7 miliar orang pada tahun 2050. (Bank Dunia, 2016). Sementara meningkatnya permintaan akan sumber daya alam mendorong pertumbuhan ekonomi, hal itu memberikan tekanan yang semakin besar pada ekosistem Bumi, yang menyebabkan masalah lingkungan termasuk polusi, hilangnya keanekaragaman hayati, dan Pemanasan Global.
“Revolusi Industri keempat (Industri 4.0) ditandai dengan pengembangan teknologi baru yang terutama berbasis pada teknologi digital dan informasi seperti IoT (Internet of Things), AI (Kecerdasan Buatan), Big Data, Block-chain, Cloud Computing, dan Robotika serta Bioteknologi dan Nanoteknologi,” kata Prof Rokhmin Dahuri mengutip Klaus Schwab, 2015.
Proyeksi Penciptaan dan Perpindahan Pekerjaan pada 2023-2027, 23% pekerjaan saat ini akan berubah, Kehilangan 83 Juta Pekerjaan, Menciptakan 69 Juta Pekerjaan Hilang. Sementara itu, analisis Forum Ekonomi Dunia tentang prospek pasar tenaga kerja untuk 673 juta karyawan dari kumpulan data ILO global yang terdiri dari 820 juta karyawan menggunakan Survei Masa Depan Pekerjaan 2023.
Dalam lima tahun ke depan, 83 juta pekerjaan diproyeksikan akan hilang dan 69 juta diproyeksikan akan diciptakan, yang merupakan perputaran pasar tenaga kerja struktural sebesar 152 juta pekerjaan, atau 23% dari 673 juta karyawan di kumpulan data yang sedang dipelajari. “Hal ini merupakan pengurangan lapangan kerja sebanyak 14 juta pekerjaan, atau 2%,” katanya mengutip Forum Ekonomi Dunia.
Kemudian, Prof Rokhmin Dahuri menerangkan Triple Ecological Crisis. Triple ecological crisis mengacu pada tiga masalah utama yang saling terkait yang dihadapi umat manusia saat ini: perubahan iklim, polusi dan kerusakan lingkungan, serta hilangnya keanekaragaman hayati; Perubaha n Iklim Sekitar 50-75% dari populasi global berpotensi terdampak kondisi iklim yang mengancam jiwa di tahun 2100. (IPCC, 2022);
Polusi Polusi udara dinobatkan sebagai penyebab penyakit dan kematian dini terbesar di dunia, menyebabkan hingga 4,2 juta kematian setiap tahun. (UNFCCC, 2022); Hilangny a Keaneka[1]ragaman hayati Hilangnya keanekaragaman hayati dapat mengancam kesehatan manusia dan jasa ekosistem.Saat ini, sekitar 1 juta spesies tumbuhan dan hewan menghadapi ancaman kepunahan. (IPBES, 2019).

Ketegangan Geopolitik
Anggota Dewan Pakar ICMI Pusat itu mengungkapkan studi kasus: Pertama, Rusia vs Ukraina krisis kemanusiaan besar, sanksi ekonomi terhadap Rusia, gangguan pasokan energi dan pangan global, serta peningkatan ketegangan antara Rusia dan negara-negara NATO.
Kedua, USA vs China Mempengaruhi stabilitas ekonomi global, perang perdagangan, persaingan teknologi, & mempengaruhi aliansi & strategi geopolitik dunia. Ketiga, Korut vs Korsel Ancaman keamanan di Asia Timur dan mempengaruhi hubungan internasional
Keempat, Israel vs Palestina Mempengaruhi stabilitas Timur Tengah, memicu sentimen dan aksi terorisme, mempengaruhi hubungan diplomatik antara negara-negara di kawasan tersebut dan dunia internasional.
Kelima, Israel vs Iran Potensi konflik militer yang dapat menarik keterlibatan dari Amerika Serikat dan negaranegara lain di kawasan tersebut. Keenam, Israel vs Iran Potensi konflik militer yang dapat menarik keterlibatan dari Amerika Serikat dan negaranegara lain di kawasan tersebut.
Menuju Indonesia Emas 2045
Lebih lanjut, Prof Rokhmin Dahuri memaparkan, peta jalan pembangunan bangsa menuju Indonesia Emas 2045. Selama 10 tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi-RI stagnan di angka sekitar 5%, masih jauh dari potensi ekonomi-RI yang sesungguhnya, 8% - 10% per tahun (Mc. Kinsey, 2022; FE-UI, 2024).
“Ini disebabkan karena pertumbuhan ekonomi sangat dominan bergantung pada konsumsi rumah tangga atau belanja masyarakat, sekitar 56%; dan ekspor bahan mentah,” jelasnya mengutip Prof. Chatib Basri, 2024.
Sedangkan untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045 mestinya pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2019 – 2024 berkisar 6 – 7 persen per tahun; 2024 – 2029 tumbuh sekitar 8%; 2029 – 2034 tumbuh sekitar 7%; dan 2034 – 2045 timbuh sekitar 6,5% .
Angka pertumbuhan ekonomi ini bisa dicapai dengan kontribusi investasi terhadap PDB sebesar 41 – 48 persen. Sayangnya, kontribusi investasi terhadap PDB hingga kini baru mencapai 35% (Prof. Chatib Basri, 2024).
Hal ini disebabkan karena ICOR Indonesia masih terlalu tinggi, alias tidak efisien (mahal) dan tidak efektif akibat birokrasi pemerintah yang sarat KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme); dan Iklim Investasi yang kurang kondusif.
Lalu, Prof. Rokhmin Dahuri menjelaskan, persyaratan dari Negara Middle-Income menjadi Negara Maju, Adil-Makmur dan Berdaulat, yaitu: Pertama, pertumbuhan ekonomi berkualitas rata-rata 7% per tahun selama 10 tahun. Kedua, I + E > K + Im. Ketiga, Koefisien Gini kurang 0,3 (inklusif). Keempat, ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Delapan Kebijakan Pembangunan TSE – RI
01. Dari dominasi eksploitasi SDA dan ekspor komoditas (raw materials) dan buruh murah, ke dominasi sektor manufaktur (sektor sekunder) dan sektor jasa (sektor tersier) secara proporsional yang produktif, efisien, berdaya saing, inklusif, dan berkelanjutan (sustainable). Pengelolaan ESDM berdasarkan pada Pasal 33 UUD 1945: hasilkan: Rp 20 juta/warga negara/bulan, lalu atas nama Negara, BUMN mengelola ESDM, Kehutanan, Laut dan Perairan Darat, dan Sumber Air Mineral. Swasta tidak diberi IUP atau IUK, tetapi bekerja di bawah naungan BUMN.
02. Dari dominasi impor dan konsumsi ke investasi, produksi, dan ekspor. Karena sekitar 2/3 perdagangan global berjalan melalui GVC = Global Value Chain (Rantai Nilai Global) → Maka, bila Indonesia ingin memacu pertumbuhan ekonominya diatas 7% per tahun, produk dan jasa (goods and services) buatan Indonesia harus terintegrasi ke dalam GVC → Artinya: produk dan jasa Indonesia mesti berdaya saing tinggi (Kualitas top, Harga relatif murah, dan Suplai mampu memenuhi kebutuhan konsumen/pasar setiap saat), maka solusinya: INDUSTRIALISASI.
Keterlibatan Indonesia dalam GVC sebagian besar terbatas pada proses manufaktur sederhana seperti perakitan, dan tingkat partisipasinya rendah dibandingkan dengan negara berkembang lainnya. ❖ Pangsa ekspor global produk manufaktur Indonesia pada tahun 2021 adalah 0,38%, dibandingkan dengan Vietnam sebesar 2%, dan Malaysia sebesar 2,9%. Pangsa ekspor manufaktur Indonesia kurang dari 1%, dibandingkan dengan Malaysia dan Thailand yang masing-masing mencapai 1,5%, dan Vietnam sebesar 3,5% (UNCTAD, 2022)
03. Modernisasi sektor primer (Kelautan dan Perikanan, Pertanian, Kehutanan, dan ESDM) secara produktif, efisien, berdaya saing, inklusif, ramah lingkungan dan berkelanjutan, untuk meningkatkan Produktivitas Ekonomi Bangsa. → Ini akan mengurangi kesempatan kerja di sektor primer. Di sinilah pentingnya pengembangan sektor sekunder (industri manufaktur) untuk menyerap tenaga kerja lebih banyak, peningkatan produktivitas dan produksi nilai tambah, dan daya saing bangsa. Reforma Agraria: (1) sertifikasi lahan, (2) redistribusi lahan berkeadilan, dan (3) jadikan semua lahan, di luar kawasan lindung, menjadi produktif.
Laporan Pasar Baru dan Berkembang Rumput Laut Global 2023 telah mengidentifikasi pangsa pasar baru yang akan berkembang pada tahun 2030 untuk produk hilir rumput laut dengan potensi pasar sebesar US$ 11,8 miliar, yaitu produk biostimulan, bioplastik, aditif pakan ternak, nutraceutical, protein alternatif, farmasi, dan tekstil.
Dalam 10 tahun terakhir, Indonesia masih mendominasi ekspor rumput laut kering. Sebanyak 66,61% produk ekspor rumput laut Indonesia didominasi oleh rumput laut kering, sedangkan rumput laut olahan (karagenan dan agar-agar) masih sebesar 33,39%. Pada tahun 2023, Indonesia memproduksi rumput laut basah sebanyak 10,7 juta ton. Pemanfaatan rumput laut olahan selama ini paling banyak digunakan untuk produk makanan dan minuman sebesar 77%, sedangkan untuk farmasi, kosmetik, dan lainnya hanya sebesar 23%. Industri ini perlu lebih adaptif terhadap perubahan dan perkembangan pasar.
Dari dominasi impor dan konsumsi ke investasi, produksi, dan ekspor. Karena sekitar 2/3 perdagangan global berjalan melalui GVC = Global Value Chain (Rantai Nilai Global). Maka, bila Indonesia ingin memacu pertumbuhan ekonominya diatas 7% per tahun, produk dan jasa (goods and services) buatan Indonesia harus terintegrasi ke dalam GVC. Artinya: produk dan jasa Indonesia mesti berdaya saing tinggi (Kualitas top, Harga relatif murah, dan Suplai mampu memenuhi kebutuhan konsumen/pasar setiap saat) → Solusinya: INDUSTRIALISASI!
Partisipasi Indonesia dalam GVC sebagian besar terbatas pada proses manufaktur sederhana seperti perakitan, dan tingkat partisipasinya rendah dibandingkan dengan negara berkembang lainnya. ❖ Pangsa ekspor global produk manufaktur Indonesia pada tahun 2021 adalah 0,38%, dibandingkan dengan Vietnam sebesar 2%, dan Malaysia sebesar 2,9%. Pangsa ekspor manufaktur Indonesia kurang dari 1%, dibandingkan dengan Malaysia dan Thailand yang masing-masing mencapai 1,5%, dan Vietnam sebesar 3,5% (UNCTAD, 2022).
Ciri Ekonomi Modern
Ukuran unit usaha memenuhi economy of scale Menerapkan ISCMS (Integrated Supply Chain Management System) Menggunakan teknologi mutakhir pada setiap mata rantai Supply Chain System, dan Mengikuti prinsip-prinsip Sustainable Development.
04. Revitalisasi industri manufakturing yang unggul sejak masa Orba: (1) Mamin, (2) TPT (Tekstil dan Produk Tekstil), (3) Elektronik, (4) Otomotif, (5) Kayu dan Produk Kayu, dan lainnya.
05. Pengembangan industri manufakturing baru: EBT (Energi Baru Terbarukan), Chips, Semikonduktor, Baterai Nikel dan Lithium, Electrical Vehicle, Advanced Materials, Bioteknologi, Nanoteknologi, Blue Economy, Ekonomi Kreatif, dan lainnya.
06. Pengembangan berbagai Sektor Ekonomi dan Kawasan Industri di Luar Jawa, Wilayah Perdesaan, Wilayah Perbatasan, dan di P. Jawa yang masih tertinggal dan miskin sesuai Kesesuaian Lahan dan Daya Dukung Lingkungan setiap wilayah pengembangan → Untuk mengurangi disparitas pembangunan antar wilayah.
07. Peningkatan pendapatan negara, yang saat ini baru mencapai Rp 2.777 trilyun (13% PDB), jauh lebih kecil ketimbang rata-rata tax ratio (pendapatan) negaranegara berkembang-maju (emerging economies) lainnya sebesar 28% PDB, dan negara-negara maju yang mencapai 40% PDB (Bank Dunia, 2023) → Dengan cara: (1) Pengelolaan ESDM dan hutan berdasarkan pada Pasal 33 UUD 1945, dengan hasil Rp 20 juta/warga negara/bulan; (2) peningkatan tax rate (dari 12% menjadi 20%) dan tax base (pembayar pajak); dan (3) optimalisasi penerimaan Zakat, Infaq, Shodaqoh, dan Wakaf.
08. Semua kebijakan pembangunan ekonomi (butir-1 s/d 7) mesti berbasis pada Pancasila (pengganti Kapitalisme), Ekonomi Hijau (Green Economy), Ekonomi Biru (Blue Economy), dan Ekonomi Digital (Industry 4.0) serta TKDN > 50%. ❖ Akselerasi Transisi Energi: Pengembangan Ekosistem Kendaraan Listrik dan power plant berbasis EBT. ❖ Kebijkan fiskal yang mendukung program transisi energi untuk menurunkan emisi karbon sebesar 31,9% dan meningkatkan proporsi EBT dalam National Energy Mix menjadi 25% pada 2030, dan net-zero carbon pada 2060.

Ekonomi Hijau dan Ekonomi Biru
Sejak pertengahan 1980-an:, jelas Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) itu, Ekonomi Hijau dan Ekonomi Biru muncul sebagai respon untuk mengoreksi kegagalan Paradigma Ekonomi Konvensional (Kapitalisme) termasuk: Satu miliar penduduk dunia berada dalam kemiskinan ekstrem 3 Miliar Orang masih miskin 1 Miliar Orang kelaparan, kesenjangan ekonomi yang semakin lebar, dan tiga krisis ekologi (polusi, hilangnya keanekaragaman hayati, dan Pemanasan Global) (Barbier, 1986; UNEP, 2011; Bank Dunia, 2022). ketidaksamaan ekonomi yang meluas tiga krisis ekologi, Polusi, Hilangnya keanekaragaman hayati, Perubahan Iklim Global.
1. Ekonomi Hijau didefinisikan sebagai ekonomi rendah karbon, hemat sumber daya, dan inklusif secara sosial (UNEP, 2012).
2. Ekonomi Biru adalah penerapan Ekonomi Hijau di wilayah laut (dalam Dunia Biru) (UNEP, 2012). Bahasa Indonesia:
3. Ekonomi Biru adalah pemanfaatan sumber daya pesisir dan laut yang berkelanjutan untuk pertumbuhan ekonomi, peningkatan kesempatan kerja dan kesejahteraan manusia, dan secara bersamaan menjaga kesehatan dan keberlanjutan ekosistem pesisir dan laut (Bank Dunia, 2016).
4. Ekonomi Biru adalah semua kegiatan ekonomi yang terkait dengan lautan dan pantai. Ini mencakup berbagai sektor ekonomi yang mapan dan sektor yang sedang berkembang (EC, 2020).
5. Ekonomi Biru juga mencakup manfaat ekonomi pesisir dan laut yang mungkin tidak dinilai dengan uang, seperti Perlindungan Pesisir, Keanekaragaman Hayati, Asimilator Sampah, Penyerap Karbon, dan Pengatur Iklim (Conservation International, 2010).
6. Ekonomi biru didefinisikan sebagai model ekonomi yang menggunakan: (1) infrastruktur, teknologi, dan praktik hijau; (2) mekanisme pembiayaan yang inovatif dan inklusif; (3) dan pengaturan kelembagaan proaktif untuk memenuhi dua tujuan perlindungan pesisir dan lautan, dan pada saat yang sama meningkatkan kontribusi potensialnya terhadap pembangunan ekonomi berkelanjutan, termasuk meningkatkan kesejahteraan manusia dan mengurangi risiko lingkungan dan kelangkaan ekologi (UNEP, 2012; PEMSEA, 2016.
“Ekonomi Biru adalah kegiatan ekonomi (produksi, distribusi, dan konsumsi) yang berlangsung di wilayah pesisir dan lautan, dan kegiatan ekonomi di daratan (wilayah daratan atas) yang menggunakan sumber daya alam dari pesisir dan lautan untuk menghasilkan barang dan jasa yang dibutuhkan oleh umat manusia secara berkelanjutan,” ujar Prof. RokhminDahuri.
Dalam kesempatan itu, Prof. Rokhmin Dahuri mengungkapkan, Indonesia merupakan Negara Kepulauan terbesar di bumi, terdiri 34 Provinsi Pesisir (100%), 327 Kabupaten Pesisir (63,62%), 2,232 Kecamatan Pesisir (31,78%), 12,852 Desa Pesisir (15,31%).
Territorial Sea Area: 3.4 milion km2. Luas area ZEE: 3 million km2. Panjang Gris Pantai: 108,000 km (Kedua terpanjang di dunia setelah Kanada). Jumlah Pulau: 17,504 pulau (16,056 dengan nama & 1,448 tanpa nama).
Memiliki sebelas sektor Kalautan terdiri 1. Perikanan Tangkap, 2. Perikanan Budidaya, 3. Industri Pengolahan Hasil Perikanan, 4. Industri Bioteknologi Kelautan, 5. ESDM, 6. Pariwisata Bahari, 7. Perubungan Laut, 8. Sumberdaya Wilayah Pulau-Pulau Kecil, 9. Coastal Forestry, 10. Industri Jasa Maritim, 11. Sumberdaya non-konvensional. “Total potensi ekonomi sebelas sektor Kelautan Indonesia: US$ 1,4 triliun/tahun atau 5 kali lipat APBN 2024 (Rp 3.400 triliun = US$ 212,5 miliar) atau 1,2 PDB Nasional saat ini,” terangnya.
Adapun Domain Bioteknologi Kelautan menurut Prof Rokhmin meliputi: 1. Bioprospeksi dan ekstraksi senyawa bioaktif (produk alami) dari biota laut untuk bahan baku industri makanan & minuman nutraceutical (sehat), farmasi, kosmetik, cat film, biofuel dan berbagai industri lainnya.
2. Rekayasa genetika untuk menghasilkan ikan, udang, kepiting, moluska, rumput laut, tanaman pangan dan biota lainnya yang unggul: SPF (Specific Pathogen Free), SPR (Specific Pathogen Resistance), dan Fast Growing.
3. Rekayasa genetika mikroorganisme (bakteri) untuk bioremediasi lingkungan yang tercemar. 4. Konservasi: genetika, spesies dan ekosistem
Sampai saat ini, pemanfaatan Bioteknologi Kelautan Indonesia masih sangat rendah (< 10% dari total potensinya). Banyak produk industri bioteknologi kelautan, yang bahan bakunya berasal dari Indonesia diekspor ke negara lain.
Lalu Negara pengimpor tersebut kemudian mengolahnya menjadi berbagai produk jadi seperti farmasi, kosmetik, dan makanan dan minuman sehat yang selanjutnya diekspor kembali ke Indonesia. Contoh: teripang, squalene, minyak ikan, dan Omega-3.
Di perairan Indonesia terdapat 13 spesies mikroalga yang mengandung lemak (senyawa hidrokarbon) yang berpotensi sebagai biofuel. Empat Spesies Utama: Nannocholoropsis oculata (24%), Scenedesmus (22%), Chlorella (20%), dan Dunaliela salina (15%) (Kawaroe, 2010).

Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI)
Selat Malaka (ALKI I) merupakan jalur transportasi laut yang menghubungkan raksasa ekonomi dunia, termasuk India, Timur[1]Tengah, Eropa, dan Afrika (di belahan Barat) dengan China, Korea Selatan, dan Jepang (di belahan Timur).
ALKI-1 melayani pengangkutan sekitar 80% total minyak mentah yang memasok Kawasan Asia Timur. Jumlah kapal yang melintas mencapai 100.000 kapal/tahun. Terusan Suez (18.800 kapal/tahun) dan Terusan Panama (10.000 kapal/ tahun) (Calamur, 2017). Pendapatan Otoritas Terusan Suez rata-rata Rp 220 milyar/hari (Rp 80,7 trilyun/tahun). “Malangnya, sampai sekarang, Indonesia belum menikmati keuntungan ekonomi secuil pun dari fungsi laut NKRI sebagai jalur transportasi utama global,” tandasnya.
Padahal, sebagai Koridor Laut Terbesar, dapat mengangkut 20 juta m3 air per detik melalui arus lintas Indonesia dari Samudera Pasifik ke Samudera Hindia – dengan pertemuan berikutnya dari kehidupan laut migrasi dalam jumlah besar di semua jalur terbatas (Alor, Komodo, Banda, dll). Secara intrisik, geosaintifik Indonesia sangat menarik.
Lalu, Arus abadi sebagai bagian dari Global Conveyor Belt : 1. Sumber energi terbarukan. 2. Energi hidrokinetik. 3. Bebas Emisi Karbon. 4. Aliran arus menciptakan habitat bagi 50% spesies ikan dunia, dan 75% terumbu dunia berkumpul di Indonesia.
Prof. Rokhmin Dahuri membeberkan peran laut dalam menghentikan pemanasan global. “Jika Potensi Blue Economy didayagunakan dan dikelola berbasis inovasi IPTEKS dan manajemen profesional, maka sektor-sektor ekonomi kelautan diyakini akan mampu berkontribusi secara signifikan dalam mengatasi segenap permasalahan bangsa, dan mewujudkan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia serta Indonesia Emas paling lambat pada 2045”

Spiritual Economy (Ekonomi Pancasila)
Ekonomi Spiritual (Agama) Ekonomi spiritual didasarkan pada model kebutuhan rendah, keserakahan rendah yang mempromosikan keberlanjutan dengan memprioritaskan konsumsi rendah dan distribusi kekayaan yang adil atas pertumbuhan PDB, berfokus pada kesejahteraan dan produksi yang diperlukan, dan menghargai industri skala kecil dan teknologi yang tepat guna. (Ekonomi Bisnis, 2019).
Dalam Islam, ekonomi spiritual didasarkan pada keimanan kepada Allah (Tuhan Yang Maha Esa), Akhirat (kehidupan di akhirat), dan kekayaan bukan milik manusia tetapi merupakan titipan dari Allah, diaktualisasikan melalui praktik ekonomi yang sesuai dengan Syariah, termasuk sistem keuangan bebas riba, zakat dan infaq untuk redistribusi kekayaan, wakaf untuk kesejahteraan sosial, dan standar bisnis etis yang tinggi.
Prinsip-prinsip ini bertujuan untuk menciptakan kesejahteraan holistik yang mengintegrasikan aspek material dan spiritual, yang mengarah pada pembangunan yang adil dan berkelanjutan. Maka, nilai-nilai kebangsaan yang diperlukan dalam rangka mewujudkan Indonesia Emas 2045 pada era polikiris dunia
Sedangkan pengaruh globalisasi terhadap identitas nasional yaitu: Peningkatan Akses Budaya Global memungkinkan pertukaran budaya, ide, dan teknologi dari seluruh dunia, yang dapat memperkaya identitas nasional;
Tekanan Homogenisasi Budaya Budaya global dari negara lain dapat mengancam keunikan budaya local; Bahasa & Tradisi Terancam Bahasa internasional bisa mengancam keberadaan bahasa lokal, dan tradisi lokal dapat tergantikan oleh budaya global;
Peluang & Tantangan Globalisasi dapat memperkenalkan budaya lokal ke panggung global, tetapi juga menjadi tantangan dalam mempertahankan keaslian dan keberlanjutan budaya tersebut;
Peningkatan Akses Informasi Memudahkan akses informasi dan pengetahuan yang dapat memperkuat pemahaman tentang nilai-nilai nasional;
Hedonisme & Individualisme Gaya hidup hedonistik dan individualistik yang dibawa oleh globalisasi dapat bertentangan dengan nilai kebersamaan dan gotong royong. Sedangkan nilai-nilai kebangsaan, antara lain a) Kerja keras, tekun, Ikhlas, dan menyumbangkan kemampuan terbaik b) IMTAQ & Berakhlak mulia c) Saling menghormati antar umat beragama d) Kesetiakawan sosial (Gotong royong) e) Persatuan dan kesatuan f) Nasionalisme g) Rela berkorban;
“Nilai-nilai kebangsan yang pada hakekatnya merupakan nilai yang disepakati dan dipandang baik, yang melekat pada setiap warga negara Indonesia berupa norma-nprma dan etika kebaikan yang terkandung menjadi ciri kepribadian bangsa Indonesia yang bersumber dari nilai-nilai Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika,” paparnya.
Pancasila adalah Dasar NKRI, sudah merupakan kesepakatan final, semua warga negara dilarang mengubahnya; Pancasila sejalan, tidak bertentangan dengan Agama yang resmi ditetapkan oleh Pemerintah RI;
Pelaksanaan Pancasila dan UUD 1945 secara benar dan konsekuen, terutama Sila-2 dan Sila-5 akan menjamin kehidupan berbangsa dan bernegara yang berkeadilan; Keadilan di semua aspek kehidupan (Ekonomi, Sosial[1]Budaya, dan POLHUKAM) akan menghadirkan kehidupan bangsa yang rukun, damai, dan solid. “No Justice, No Peace”.
Total potensi ekonomi sebelas sektor Kelautan Indonesia: US$ 1,4 triliun/tahun atau 5 kali lipat APBN 2024 (Rp 3.400 triliun = US$ 212,5 miliar) atau 1,2 PDB Nasional saat ini.
Estimasi nilai ekonomi sebelas sektor blue economy Indonesia, yaitu: Lapangan kerja: 45 juta orang atau 40% total angkatan kerja Indonesia. Pada 2018 kontribusi ekonomi kelautan bagi PDB Indonesia sekitar 14% (Kemenko Marves, 2018). Negaranegara lain dengan potensi kelautan lebih kecil (seperti Thailand, Korsel, Jepang, Maldives, Norwegia, dan Islandia), kontribusinya > 30%.
Bidang Industri Bioteknologi Kelautan
1. Bioprospeksi dan ekstraksi senyawa bioaktif (bahan alam) dari biota laut untuk bahan baku industri makanan dan minuman nutraseutika (sehat), farmasi, kosmetik, cat film, biofuel, dan berbagai industri lainnya.
2. Rekayasa genetika untuk menghasilkan ikan, udang, kepiting, moluska, rumput laut, tanaman pangan, dan biota lainnya yang unggul: SPF (Specific Pathogen Free), SPR (Specific Pathogen Resistance), dan Fast Growing. 3. Rekayasa genetika mikroorganisme (bakteri) untuk bioremediasi lingkungan yang tercemar.
4. Konservasi: genetika, spesies, dan ekosistem. Pemanfaatan Bioteknologi Kelautan Indonesia hingga saat ini masih sangat rendah (< 10% dari potensi totalnya).
Banyak produk industri bioteknologi kelautan yang bahan bakunya berasal dari Indonesia diekspor ke negara lain. Negara pengimpor tersebut kemudian mengolahnya menjadi berbagai produk jadi seperti farmasi, kosmetik, serta makanan dan minuman sehat yang selanjutnya diekspor kembali ke Indonesia. Contoh: teripang, squalene, minyak ikan, dan Omega-3.
Di perairan Indonesia terdapat 13 spesies mikroalga yang mengandung lemak (senyawa hidrokarbon) yang berpotensi sebagai biofuel. Empat Spesies Utama: Nannocholoropsis oculata (24%), Scenedesmus (22%), Chlorella (20%), dan Dunaliela salina (15%) (Kawaroe, 2010)
Dengan luas wilayah laut 2 juta Ha (0,33% dari luas wilayah laut Indonesia), kita dapat memproduksi minyak bumi sebanyak 2 juta barel/hari.
Prof Rokhmin Dahuri menyebut keanekaragaman hayati laut Indonesia terbesar di dunia. “Koridor Laut Terbesar” – mengalirkan 20 juta m3 air per detik di sepanjang arus lintas Indonesia dari Samudera Pasifik ke Samudera Hindia – yang kemudian diikuti oleh berkumpulnya kehidupan laut besar yang bermigrasi di semua jalur yang dibatasi (Alor, Komodo, Banda, dll)
Secara intrisik, geosaintifik Indonesia sangat menarik: Arus abadi sebagai bagian dari Global Conveyor Belt : 1. Sumber energi terbarukan. 2. Energi hidrokinetik. 3. Bebas Emisi Karbon. 4. Aliran arus menciptakan habitat bagi 50% spesies ikan dunia, dan 75% terumbu dunia berkumpul di Indonesia.
Laut sebagai “A Future Development Space”, “Jika Potensi Blue Economy didayagunakan dan dikelola berbasis inovasi IPTEKS dan manajemen profesional, maka Sektor-Sektor Ekonomi Kelautan diyakini akan mampu berkontribusi secara signifikan dalam mengatasi segenap permasalahan bangsa, dan mewujudkan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia serta Indonesia Emas paling lambat pada 2045”.

Ekonomi Spiritual (Agama)
Dalam konteks kontemporer, prinsip ekonomi spiritual Steiner dapat dilihat sebagai dorongan untuk menyelaraskan tindakan ekonomi kita dengan nilai-nilai spiritual. Hal ini bertujuan untuk mencapai keseimbangan antara kekayaan materi dan kesejahteraan spiritual, yang mendorong distribusi sumber daya yang berkelanjutan dan adil.
Ekonomi spiritual didasarkan pada model kebutuhan rendah, keserakahan rendah yang mendorong keberlanjutan dengan memprioritaskan konsumsi rendah dan distribusi kekayaan yang adil atas pertumbuhan PDB, berfokus pada kesejahteraan dan produksi yang diperlukan, serta menghargai industri skala kecil dan teknologi yang tepat guna. (Ekonomi Bisnis, 2019).
Dalam Islam, ekonomi spiritual didasarkan pada keimanan kepada Allah (Tuhan Yang Maha Esa), Akhirat (kehidupan di akhirat), dan kekayaan bukan milik manusia tetapi merupakan titipan dari Allah, yang diaktualisasikan melalui praktik ekonomi yang sesuai dengan Syariah, termasuk sistem keuangan bebas riba, zakat dan infaq untuk redistribusi kekayaan, wakaf untuk kesejahteraan sosial, dan standar bisnis etis yang tinggi.
Prinsip-prinsip ini bertujuan untuk menciptakan kesejahteraan holistik yang mengintegrasikan aspek material dan spiritual, yang mengarah pada pembangunan yang adil dan berkelanjutan. ‘Manajemen sumber daya alam berkelanjutan yang efektif dan sukses berarti membekali para perencana, manajer, dan pengambil keputusan dengan pemahaman dan alat terbaik yang dapat disediakan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi’ (Dahuri, 2002).
Profil Universitas Andalas
Prof Rokhmin Dahuri mengutip Rektor Universitas Andalas Dr. Efa Yonnedi, SE. MPPM, Akt, CA, CRGP, bahwa Universitas Andalas (UNAND) didirikan pada tanggal 23 Desember 1955 oleh Wakil Presiden Mohammad Hatta, Unand merupakan salah satu universitas tertua di luar Pulau Jawa. Universitas ini terdiri dari lima belas fakultas dengan kampus utama di Limau Manis, Padang, dan memiliki kampus-kampus lain di Payakumbuh dan Dharmasraya.
Sejarah UNAND tidak terlepas dari keinginan masyarakat Sumatera Barat yang telah lama ingin mendirikan perguruan tinggi sejak awal abad ke-20. Namun, baru pada tahun 1948, enam akademi berhasil didirikan di Bukittinggi, yang kemudian menjadi cikal bakal UNAND. • Nama “Andalas” sendiri diusulkan oleh Bung Hatta, merujuk pada nama lain Pulau Sumatera, yang menunjukkan semangat kebangsaan Indonesia meskipun terkesan regional.
VISI: Menjadi Universitas Terkemuka dan Bermartabat pada Tahun 2028. MISI: 1. Menyelenggarakan pendidikan akademik dan profesi yang berkualitas, berkarakter serta berkesinambungan; 2. Menyelenggarakan penelitian dasar dan terapan yang inovatif untuk menunjang pembangunan dan pengembangan IPTEK serta meningkatkan publikasi ilmiah dan HAKI;
3. Mendharmabaktikan IPTEK yang dikuasai kepada masyarakat; 4. Menjalin jaringan kerjasama yang produktif dan berkelanjutan dengan kelembagaan pendidikan, pemerintahan dan dunia usaha di tingkat daerah, nasional dan internasional;
5. Mengembangkan organisasi dalam meningkatkan kualitas tata kelola yang baik (good university governance) sehingga mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan strategis; 6. Mengembangkan usaha-usaha, baik dalam bidang pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat serta usaha lainnya yang berkaitan dengan core bisnis Unand yang dapat meningkatkan revenue.
Terdapat 15 Fakultas di Universitas Andalas. Antara lain: Pertanian, Kedokteran, Hukum, Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam, Ekonomi, Peternakan, Ilmu Budaya, Ilmu Sosial & Ilmu Politik, Teknik Farmasi, Teknologi Pertanian, Keperawatan, Kesehatan Masyarakat ,Teknologi Informasi, dan Kedokteran Gigi.

Komentar