Senin, 15 Juni 2026 | 17:34
NEWS

Prof Rokhmin Dahuri Ucap Selamat HUT RI Ke-79, Pentingnya Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan

Prof Rokhmin Dahuri  Ucap Selamat HUT RI Ke-79, Pentingnya Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan
Prof Dr Ir Rokhmin Dahuri MS saat memberikan sambutan pada acara Silaturahim Kebangsaan Dulur Cirebonan di Jakarta

ASKARA- Hari ini, 17 Agustus 2034, bangsa Indonesia memeringati sebuah peristiwa bersejarah yakni, Hari Ulang Tahun ke-79 Kemerdekaan Republik Indonesia. Peristiwa bersejarah ini memiliki makna yang mendalam bagi bangsa Indonesia. 

Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Prof Dr Ir Rokhmin Dahuri MS mengucapkan pentingnya mensyukuri nikmat kemerdekaan ini, dengan selalu menjaga persatuan dan mengisi kemerdekaan RI ini dengan Prestasi, Indonesia merupakan negara yang semakin maju.

"Hari ini, 17 Agustus 2024, kita memperingati milad bangsa kita yang ke 79. Tentunya sebagai warga negara Indonesia mendambakan kehidupan berbangsa dan bernegara yang adil makmur dan berdaulat sesuai cita-cita kemerdekaan RI," ujar Prof Rokhmin Dahuri di Bogor, dikutip Sabtu, (17/8).

Namun ia mengingatkan,  para founding father kita yang muslim maunya tidak hanya adil dan makmur tapi juga diridhai oleh Allah SWT.

"Semoga harapan ini menjadi kenyataan untuk bangsa yang kita cintai. Aamiin yra, " ucap anggota DPR RI periode 2024 - 2029 ini.

Prof Rokhmin Dahuri menegaskan, ini adalah waktu bagi kita semua untuk bersyukur kpd Allah SWT, merenung dan bertekad bersama, menggapai cita-cita besar menuju Indonesia Raya yg maju, adil makmur, dan berdaukat, paling lambat pada 2045. 

Kita berada di tengah perubahan global yang super cepat dan tak menentu, di mana perekonomian menjadi sorotan utama.

"Kita semua berharap dan berdoa semoga dengan adanya kepemimpinan baru nantinya, Indonesia bisa bangkit lebih kuat, dengan perekonomian yang tumbuh pesat dan kesejahteraan yang merata bagi seluruh rakyat. Dengan kebijakan yang tepat, kita bisa mewujudkan mimpi menjadi negara yang mandiri, adil, makmur, dan tentunya, selalu diberkahi oleh Tuhan YME," ucap Ketua DPP PDI Perjuangan 

Kapitalisme Harus Diganti 

Dalam kesempatan lain, Prof Rokhmin Dahuri mengatakan, untuk mewujudkan tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals), yakni dunia yang sejahtera (prosperous), aman (peaceful), dan berkelanjutan (sustaianable), maka kita umat manusia harus memperbaiki cara-cara kita membangun perekonomian dan cara-cara kita hidup di planet bumi ini, baik pada tataran paradigmatik maupun tataran praksis (teknis operasional).

Prof Rokhmin Dahuri menegaskan, paradigma Kapitalisme mesti diganti dengan paradigma kehidupan yang menuntun manusia bahwa manusia itu bukan hanya terdiri dari fisik (lahiriah).

"Tetapi juga rohani, ruh, dan jiwa. Karenanya, kebahagian tidak mungkin bisa dipuaskan oleh harta, tahta, popularitas dan hal-hal duniawi lainnya," ujar kata Duta Besar Kehormatan Propinsi Jeju, Korea Selatan itu.

Tapi, ucapnya, mesti dengan kedamaian hati, jiwa. Bahwa sumber daya alam dan kekayaan itu bukan milik manusia, tetapi hanya titipan dari Tuhan. Yang diperoleh melalui ikhtiar dan doa manusia. 

Maka, kekayaan tidak boleh terkonsentrasi oleh segelintir orang. Bahwa kehidupan di dunia ini hanya sementara, kehidupan yang hakiki dan abadi adalah di akhirat.

Lalu ia memaparkan, Kapitalisme telah mengakselerasi pertumbuhan ekonomi dunia (Gross World Product) yg sangat signifikan. Sejak revolusi industri pertama tahun 1753, kapitalisme telah membuat perekonomian dunia tumbuh sangat pesat sebesar tiga sampai empat persen per tahun. Produk domestik bruto global tumbuh dari 0,45 triliun dolar AS menjadi 100 triliun dolar AS pada tahun 2019.

"Sebelum tahun 1750-an sebagian besar negara di dunia miskin. Sejak itu jumlah dan persentase orang miskin dunia menurun," terang Ketua Umum Gerakan Tani Nelayan Indonesia (GANTI)

Kemajuan IPTEK yang didorong oleh kerakusan dan rasa ingin tahu mahzab, tuturnya, Kapitalisme juga telah membuat kehidupan manusia lebih sehat, mudah, cepat dan nyaman.

Gelombang kemajuan IPTEK yang terkelompokkan ke dalam 4 era revolusi industri juga telah membuat ekonomi dunia semakin produktif dan efisien.

"Namun, Kapitalisme juga telah menimbulkan permasalahan sosial-ekonomi, lingkungan, dan sosial-budaya yang sangat kompleks dan serius," tegasnya.

Di bidang ekonomi, kata anggota Dewan Penasihat Ilmiah Internasional Pusat Pengembangan Pesisir dan Lautan, Universitas Bremen, Jerman itu, berdasarkan data Bank Dunia tahun 2020, sekitar 1 miliar penduduk dunia hidup dalam kemiskinan absolut (ekstrem poverty) dengan pengeluaran kurang dari 1,25 dolar AS per hari dan sekitar 3 miliar orang (40 persen populasi dunia) tetap miskin dengan pengeluaran harian kurang dari 2 dolar AS.

“Ironisnya dengan PDB dunia sebesar 100 triliun dolar AS dan jumlah penduduk dunia sekitar 7,4 miliar jiwa, jika merata maka rata-rata PDB per kapita dunia menjadi 12.500 dolar AS. Ini berarti bahwa semua warga negara di dunia akan sejahtera,” papar ketua umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI).

Yang lebih mencemaskan, ketimpangan ekonomi baik dalam satu negara maupun antar negara semakin melebar.

Di bidang lingkungan, terangnya, pencemaran, pengikisan biodiversity dan kepunahan spesies, perusakan fisik ekosistem alam, dan pemanasan global telah mencapai tingkat yg mengancam kelestarian bumi dan kehidupan manusia.

Di bidang sosial- budaya, kehidupan manusia terutama di daerah perkotaan semakin stress, narkoba, HIV/AIDS, frustasi, perampokan, bunuh diri, perzinahan, kemunafikan, hoax, dan penyakit sosial lainnya merebak masif. Diatrust society dan post truth mendominasi kehidupan masyarakat.

Jadi, orang-orang kapitalisme itu maunya kita tetap miskin, tetap menganggur, tetap bodoh, lalu kita dibodohi. Sumber dalam dibeli asing lalu diproses kemudian di ekspor lagi ke Indonesia," ujarnya.

Untuk itu, Prof. Rokhmin Dahuri menegaskan, dunia membutuhkan sistem ekonomi baru yang melepaskan altruisme sebagai kekuatan kreatif yang sama kuatnya dengan kepentingan pribadi. 

"Sistem ekonomi yang mampu menghasilkan pertumbuhan hijau yang inklusif secara berkelanjutan, dan menjadikan dunia nol kemiskinan, nol pengangguran, dan nol emisi karbon bersih," pungkas Menteri Kelautan dan Perikanan pada Kabinet Gotong Royong 2001-2004 itu.

Komentar