Sabtu, 13 Juni 2026 | 16:20
NEWS

Sambut Tahun Baru Islam 1 Muharam 1446 Hijriah, Prof. Rokhmin Dahuri Jelaskan Makna Hijrah Sesungguhnya

Sambut Tahun Baru Islam 1 Muharam 1446 Hijriah, Prof. Rokhmin Dahuri Jelaskan Makna Hijrah Sesungguhnya
Prof Dr Ir Rokhmin Dahuri MS

ASKARA - Menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharam 1446 Hijriah yang jatuh pada hari Ahad, 7 Juli 2024, Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan – IPB University, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS berharap semoga di tahun baru ini, kita diberikan kekuatan untuk memperbaiki diri dan lebih banyak berbuat kebaikan. 

Dalam kesempatan itu, ia juga menjelaskan tentang makna hijrah yang sesungguhnya. Menurutnya hijrah bukan sekadar berpindah tempat, melainkan perubahan ke arah yang lebih baik. 

“Hijrah merupakan cahaya harapan di hati Muslim. Hijrah merupakan sebuah komitmen yang dibangun oleh kesadaran nurani dan spiritual sebagai bagian penting dalam dakwah Islam,” ujar Prof. Rokhmin Dahuri.

Dalam perspektif Islam, terangnya, umat Islam seharusnya berhijrah dari suatu yang buruk menjadi yang baik. Dari satu baik menjadi lebih baik lagi, sebagai transisi dari suatu fase ke fase yang lebih baik. Setiap muslim punya otoritas menciptakan lingkungan yang kondusif untuk orang berbuat kebajikan amal saleh daripada perbuatan maksiat dan kemungkaran. 

“Yang terjadi sekarang dengan kasat mata lingkungan mudah berbuat maksiat, karena ada LGBT, seks bebas di media massa tersaji terutama di media digital. Semantara berbuat takwa sangat terbatas ruangnya,” ucapnya.

Kemudian, Ketua Umum GANTI (Gerakan Nelayan Tani Indonesia) itu memaparkan, ada beberapa unsur dalam kebajikan dalam Islam, Antara lain: Pertama, iman dan takwa. Seharusnya Iman dan takwa umat Islam Indonesia lebih meningkat lagi dan begitu ketakwaan menjalankan seluruh perintah Allah dan semua larangannya.

Lebih dari itu, dalam diri seorang muslim harus menciptakan kondisi dilingkungan masing-masing agar umat Islam di Indonesia itu lebih mudah, nyaman bertakwa ketimbang berbuat maksiat. “Dimensi takwa bukan hanya pasif mengerjakan seluruh perintah Allah dan menjauhi laranganNya,” tegas Menteri Kelautan dan Perikanan-RI 2001 – 2004 itu.

Pengertian taqwa terkait dengan ketaatan seorang hamba kepada Sang Khalik dalam menjalankan setiap perintah dan menjauhi seluruh larangan Nya. Dalam Agama Islam, yang dimaksud dengan perintah dan larangan Allah itu tidak hanya berupa sholat, puasa, haji, dan ibadah mahdhoh (hablum minallah) lainnya. 

“Tetapi, juga semua hal yang terkait dengan akhlak dan cara-cara kita berhubungan dengan sesama insan (hablum minannas, muamalah),” ungkap Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) itu.

Jelasnya, akhlak tidak hanya mempunyai dimensi horizontal dengan sesama makhuk (hablumminannas) juga dimensi vertikal dengan Allah SWT (hablum minallah). Karena, menurutnya, itulah konsep akhlak menjadi menyeluruh.  

“Aspek akhlak mulia yang tadinya malas, kurang rajin menuntut ilmu lebih termotivasi lagi, karena Islam kitab suci pertama mengajarkan Iqra, untuk membaca,” jelas Prof. Rokhmin Dahuri.

“Allah SWT menurunkan surah al-Mujadalah ayat 11 yang menjelaskan keutamaan orang-orang beriman dan berilmu pengetahuan, bahwa Allah Swt akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat,” sambung anggota DPR RI Terpilih Dapil Jabar 8 itu.

Kuasai Teknologi dan Inovasi

Ketua Dewan Pakar Asosiasi DPRD Kabupaten Seluruh Indonesia (ADKASI) itu mengingatkan, ayat-ayat Alquran yang mendorong umat Islam untuk menguasai sains teknologi dan inovasi dan diamalkannya untuk kebajikan umat manusia bukan untuk diri sendiri. 

Selain itu, katanya, umat Islam juga diperintahkan untuk bekerja keras. Allah SWT dan Rasulullah mencintai manusia yang bekerja keras dan pantang menyerah. “Sayangnya, umat Islam malas,” katanya.

Padahal, ungkapnya, Rasulullah SAW mencintai sahabatnya Sa’ad bin Mu’adz Ra, karena kedua tangannya lebam. Ketika bersalaman, terasa oleh beliau Nabi Muhammad SAW telapak tangan Mu’adz yang kasar karena habis bekerja memahat batu lalu dijual untuk menafkahi keluarganya. 

Mendengar itu Rasulullah SAW mencium tangan Sa’ad bin Mu’adz Ra dan bersabda, “Wallahi, tangan ini dicintai Allah dan RasulNya dan tidak akan disentuh api neraka!”

“Luar biasa etos kerja menurut Islam yakni harus bekerja keras. Bahkan ada seorang ulama istirahat itu di akhirat, sedangkan di dunia harus bekerja keras. Fakta kehidupan justru sebaliknya, di Negara-negara muslim termasuk di Indonesia pada melempem. Etos kerja kita lemah sekali,” tegasnya.

Berikutnya, Prof Rokhmin Dahuri menerangkan, akhlak yang prinsipal yakni Siddiq, Amanah, Fatonah dan Tabligh. Selain itu memiliki sifat qonaah, terutama tangan di atas membantu orang lain, membantu Negara, membantu dunia, Rahmatan lil alamin. “Perubahan iman dan takwa, kemudian akhlak yang mulia,” ujarnya.  

Maka, lanjutnya, Jika seorang muslim dan muslimah menjalankan Islam secara Kaffah dan iman takwanya tinggi  dan ittiba pasti dia akan bermanfaat bukan hanya untuk dirinya, bukan hanya untuk muslim bahkan untuk nonmuslim, juga untuk flora dan fauna.

“Karena misi Islam yang diturunkan oleh Allah SWT sebagai rahmat bagi alam semesta. sebagaimana firman Allah dalam Surat al-Anbiya' ayat 107: Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam (rahmatan lilalamin). Itu Allah yang membuat pernyataan dalam Alquran,” jelas Dosen Kehormatan Mokpo National University itu.

Komentar