Senin, 15 Juni 2026 | 22:05
NEWS

Sambut Idul Adha 1445 H, Prof. Rokhmin Dahuri: Momentum Umat Islam Untuk Bangkit

Sambut Idul Adha 1445 H, Prof. Rokhmin Dahuri: Momentum Umat Islam Untuk Bangkit
Prof Dr Ir Rokhmin Dahuri MS saat menunaikan ibadah umroh bersama istri tercinta Dr.Pigoselpi Anas MSI di bulan Ramadhan

ASKARA - Marilah kita jadikan Idul Adha kali ini sebagai momentum bagi kita umat Islam di Indonesia pada khususnya, dan di dunia pada umumnya untuk bangkit, memaknai dan mengamalkan nilai-nilai (hikmah) substansial dari setiap Ibadah mahdhoh yang kita kerjakan, terutama ibadah haji, sholat Idul Adha, dan ibadah qurban.

Demikian pesan Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS, Ketua DPP PDI Perjuangan dalam menyambut Hari Raya Idul Adha, 10 Dzulhjjaah 1445 H, Senin (17/6). Menurutnya, Idul Qurban atau Idul Adha perlu diambil hikmahnya oleh setiap Muslim. Pengorbanan Nabi Ibrahim AS yang paling besar dalam sejarah umat manusia (mengorbankan putranya, Ismail atas dasar takwa dan memenuhi perintah Allah) mempunyai makna dan peran besar bagi peradaban manusia.

Untuk itu, ia mengajak untuk selain bersuka cita dan bersyukur kepada Allah, kita pun mesti mempelajari, mengambil, dan melaksanakan nilai-nilai (hikmah) dari Idul Adha. “Hal ini, sangat penting, karena pada dasarnya tujuan utama dan akhir (the ultimate goal) dari setiap ibadah kepada Allah SWT, termasuk ibadah haji dan ibadah qurban adalah agar kita menjadi hamba Allah muslim dan muslimah yang taqwa,” ujar Ketua Umum GANTI (Gerakan Nelayan Tani Indonesia) itu.

Taqwa adalah menjalankan semua perintah Allah; menjauhi setiap larangan-Nya; dan dengan kemampuan (power) yang kita miliki kita berupaya maksimal untuk menghadirkan ekosistem (situasi dan kondisi) kehidupan masyarakat (berbangsa dan bernegara) yang kondusif bagi setiap orang untuk menjalankan ketaqwaannya (amal saleh), bukan sebaliknya kondusif untuk berbuat yang diharamkan Allah.

“Karena faktanya, bahwa perintah Allah (seperti shalat, puasa, zakat, haji, menuntut ilmu, berprestasi, menolong orang, dan berbuat baik kepada sesama) itu terbukti dan pasti mendatangkan kebaikan (maslahat) bagi pelakunya maupun bagi masyarakat (bangsa) nya.  Dan, sebaliknya larangan Allah (seperti berjudi, minum minuman beralkohol, narkoba, berzina, korupsi, flexing, menzalimi orang lain, malas, kikir, membuang sampah sembarangan, merusak lingkungan hidup, dan lainnya) itu terbukti buruk dan mendatangkan mudharat (malapetaka) bagi pelaku dan masyarakat (bangsa) nya,” tuturnya.

Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB University itu menyampaikan, Hari Raya Idul Adha adalah satu dari dua hari raya umat Islam setelah Idul Fitri. Kalau di hari Raya Idul Fitri,  kita Umat Islam merayakan kemenangan melawan hawa nafsu setelah lulus berpuasa Ramadhan selama sebulan penuh. 

“Maka, di hari Raya Idul Adha ini, kita merayakan kemenangan perjuangan Keluarga Nabi Ibrahim a.s., dalam menegakkan Tauhid, taat melaksanakan perintah Allah SWT dengan ikhlas karena-Nya, dan mengalahkan godaan serta rayuan setan,” sebut Menteri Kelautan dan Perikanan 2001 – 2004 tersebut.

Ibadah qurban adalah wujud keimanan, ketakwaan, amal saleh, sekaligus tanda syukur kepada Allah SWT.  Firman Allah Swt dalam Alquran surat Al Kautsar ayat 1-3 yang artinya “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu, Dialah yang terputus”.

Melalui syariat Ibadah qurban, Islam mengajarkan kepada umatnya agar berjiwa rela berkorban apa saja, demi bakti dan taatnya  kepada Allah SWT.  Peristiwa pengurbanan Nabi Ibrahim a.s. hanyalah sebagai gambaran bagaimana qurban harus dilakukan.  Esensi dari peristiwa itu adalah bagaimana Ibrahim a.s. rela mengurbankan anak yang dicintainya, Ismail a.s., demi baktinya pada Allah SWT.

Pengurbanan Ibrahim mengajarkan pada kita, segala apa yang kita miliki saat ini, baik jiwa, raga, harta, anak, tahta, ilmu, keahlian, dan sebagainya adalah milik Allah SWT, yang dititipkan pada kita sebagai amanah.  Maka, ketika Allah SWT memerintahkan kita untuk mengorbankan apa yang kita miliki itu, untuk tegaknya agama Islam dan kejayaan kaum Muslim, tidak ada alasan untuk menolaknya.

“Jiwa, harta, dan segala yang kita miliki bukanlah tujuan, melainkan sebagai alat untuk berjuang dan mengabdi pada Allah SWT, supaya kita hidup sukses dan bahagia, baik di dunia ini maupun di akhirat kelak,” pungkas Penasehat Menteri Kelautan dan Perikanan 2020 – 2024 tersebut.

Kehidupan saling tolong  dan gotong royong dalam kebaikan merupakan ciri khas ajaran Islam. ”Hikmah yang dapat dipetik dalam konteks Idul Qurban  adalah seorang Muslim diingatkan untuk siap sedia bequrban  demi kebahagiaan orang lain khususnya mereka yang kurang beruntung. Selain itu,  waspada atas godaan dunia agar tidak terjerembab perilaku tidak terpuji seperti keserakahan, mementingkan diri sendiri, dan kelalaian dalam beribadah kepada sang Pencipta,” paparnya.

Pemimpin Harus Peka Masalah Bangsa

Dalam kesempatan itu, Prof Rokhmin Dahuri mengatakan, dewasa ini kejujuran, amanah, keikhlasan, dan persatuan (ukhuwah) telah menjadi barang langka di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara kita.

“Tidak sedikit para pemimpin dan elit bangsa kita yang hanya mengumbar janji pada saat kampanye, tanpa realisasi ketika terpilih menjadi pemimpin atau wakil rakyat.  Pencitraan dan hoax dijadikan alat untuk memamerkan kinerjanya,” ujarnya.

Prof. Rokhmin Dahuri menegaskan, pemimpin harus peka terhadap berbagai permasalahan bangsa saat ini. Mulai dari angka kemiskinan yang tinggi, pengangguran yang tak bisa dibendung lagi, status gizi yang rendah, stunting, kesenjangan sosial yang tinggi, daya saing bangsa rendah serta indeks pembangunan manusia yang masih rendah. 

“Untuk itu, kita butuh pemimpin yang kompeten, taat kepada Allah, berakhlak mulia, dan mampu membantu mengatasi segenap permasalahan bangsa menuju Indonesia Emas (maju, adil-makmur, berdaulat, dan diridhoi Tuhan YME), paling lambat pada 2045,” terang Anggota Dewan Pakar MLH – Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu.

Lalu, Prof. Rokhmin Dahuri mengingatkan, walaupun bangsa kita sedang terpuruk baik segi ekonomi, politik, kebudayaan dan sebagainya, tetapi kita tidak boleh pesimis, berkecil hati, dan merasa tidak mampu berbuat apa-apa.  Sebab, apabila kita berusaha sungguh-sungguh untuk membangun bangsa ini dengan meminta pertolongan Allah untuk kemajuan negara dan kesejahteraan rakyat. 

“Insya Allah,  ketertinggalan dan keterpurukan  yang terjadi saat ini akan segera teratasi,” kata Anggota Dewan Penasihat Ilmiah Internasional Pusat Pembangunan Pesisir dan Laut Berkelanjutan, Universitas Bremen, Jerman itu.

Komentar