Selasa, 21 Juli 2026 | 13:39
OPINI

Ekaristi Makanan Para Muzafir

Ekaristi Makanan Para Muzafir
Ilustrasi ekaristi (Dok Rm. Yote)

ASKARA - Jika ditanya orang, apa yang membuat kamu berubah? Dengan mantap saya menjawab: EKARISTI. Jika ditanya orang: apa yang membuat kamu makin memiliki semangat dalam hidup? Saya jawab: EKARISTI. Jika ditanya orang: Apa yang bikin kamu punya kasih seperti Tuhan Yesus? Pasti kujawab: EKARISTI.

EKARISTI adalah santapan rohani umat Katolik sebagai kaum peziarah melintasi waktu agar dapat sampai pada hidup bahagia: damai, cinta, penuh sukacita. Lewat Santapan Suci aku makin cinta ama Yesus sekaligus bikin aku dapat merasakan getaran dari sesama yang menderita, miskin dan lemah yang butuh uluran tangan. 

EKARISTI menjadikan aku kuat untuk mengatasi segala kelemahan dan mangkin berserah pada Yesus, andalkan Yesus, makin merasakan: BUKAN AKU LAGI YANG HIDUP DALAM DIRIKU MELAINKAN KRISTUS YANG HIDUP DI DALAM AKU.

EKARISTI menyadarkan bahwa hidup manusia hanya sebentar.  Memento mori. Urip mung mampir ngombe, maka butuh sadar akan asal muasal saya, dimana sekarang saya berada, dan mau kemana tujuan hidup saya: Dari Allah Sang Khalik, hidup untuk Allah dan kembali kepada Sang Pencipta.

Lalu pertanyaan “ke mana tujuan hidup saya”? Jawabannyga kompleks, dunia saat ini sulit menjadi gambaran: orang beribadah, koq korupsi? Sebaliknya, orang tak beragama koq punya rasa malu untuk mengundukan diri sebagai pejabat ketika bawahannya atau korporasinya gagal meraih keuntungan.

NIlai-nilai: kejujuran, rasa malu, menghormati perbedaan adalah peta jalan menuju kebahagiaan dan keabadian. Betapa tidak tubuh dan darah adalah tanda kehidupan, tanda kebahagiaan, tanda keabadian. 

Kurban Tubuh dan Darah Kristus itulah tanda keabadiannya: satu untuk selamanya.

Paus Fransiskus ingatkan bahwa keabadian itu dihidupi dengan mengenang jalan panjang kisah keselamatan yang jadi wujudan kasih Allah. 

Mulai di titik Ur Kasdim sejarah keselamatan Allah lewat Abraham atas wahyu Allah tinggalkan zona nyaman menuju tanah terjanji.

Visi keabadian dihadirkan dalam tubuh (daging: Sabda sudah menjadi daging) tetapi dipenuhi dengan daya roh, karena daging (tubuh) pd hakekatnya lemah, namun roh itu penurut. Maka hiduplah (dalam daging) yang dikuasai Roh Allah.

Itulah arti dan tanda kehadiran Allah dalam Yesus sendiri sebagai Putera Allah, Allah yang menjadi daging dan darah.

Maka Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus tidak hanya mengenangkan orang pada penggenapan janji Allah. Orang diingatkan pada pentingnya hidup dalam harapan, menghidupi visi keabadian itu. Walau hidup hanya sementara.

Salam sehat, berlimpah berkat.
+ Rm Yos Bintoro Pr

 

 

Komentar