Rabu, 22 Juli 2026 | 12:15
OPINI

Pondasi Bangsa Perekat Solidaritas

Pondasi Bangsa Perekat Solidaritas
Ilustrasi Bung Karno dan Hari Pancasila (Dok Rm. Yote)

ASKARA - Orasi Bung Karno 1 Juni 1945 analogikan “Kemerdekaan” sebagai “jembatan emas” membutuhkan fundamen perekat bangunan tanpa menunggu-nunggu terwujudnya kondisi ideal.

Perekat menuju jembatan emas itu @ cita-cita frasa: kebangsaan, perikemanusiaan, mufakat, kesejahteraan sosial dan Ketuhanan. Inilah cara hidup (way of live) pengikat kesatuan bangsa. Bukankah rumah adat tiap suku yang berbeda punya kesamaan arsitektur ikatan tanpa paku dg semangat bis holopis kuntul baris. Inilah karakter aseli negeri bertabur ribuan pulau sarat kearifan.

Makna lain tersaji saat frasa kebangsaan disandingkan prinsip internasionalisme (kemanusiaan yang adil dan beradab). Pancasila hakekatnya pula Ideologi Terbuka, lentur dan berinteraksi konstruktif thdp dinamika ekonomi (inflasi, terdepresi suku bunga), sentimen sosial (SARA), dan tensi tinggi politik (1965, 1998, 2019). Syukur kepada Tuhan, bangsa Indonesia tak tamat, justru selamat arungi zaman.

So, tantangan ke depan Pancasil punya PR jadi perekat solidaritas:

1. Kawal hormati HAM.

2. Fungsi kontrol jaga nafas demokratisasi

3. Jangan sampai kekerasan dipakai selesaikan konflik.

4. Jangan biarkan: kelaparan, kemiskinan & kebodohan.

5. Perbaiki kualitas Lingkungan Hidup.

Jangan lupa gelorakan: “Pancasila Jiwa Pemersatu Bangsa Menuju Indonesia Emas 2045.”

Salam Pancasila, berlimpah Berkah.
+ Rm Yos. Bintoro, Pr

Komentar