Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:52
OPINI

Tritunggal Mahakudus : Identitas sebagai Murid Kristus yang Menyejarah

Tanda Salib, Makna Melihat Karya Allah yang Menyejarah

Tanda Salib, Makna Melihat Karya Allah yang Menyejarah

ASKARA - Salah satu identitas bahwa saya adalah murid Kristus yakni hadirkan tanda salib awali dan akhiri setiap doa dalam tradisi Katolik: Bapa, Putra, dan Roh Kudus. 

Misteri Tritunggal Mahakudus adalah inti dari iman Kristiani yg cerminkan kasih Allah (Bapa) tak terhingga serta kehadiran-Nya melingkupi sejarah keselamatan manusia mulai dari kisah panggilan Abraham dalam Kitab Kejadian. 

Sejarah keselamatan Allah terus berlangsung hingga saat Nabi Musa lihat api dalam semak duri yang amat terang, namun tidak menghanguskan. Disana Allah nyatakan Diri dan kehendak-Nya untuk mengutus Musa kembali ke kaum Israel yang ada dalam belenggu perbudakan Mesir.

Makna Allah hadir terungkap dimana Kekudusan dan Kekekalan Allah tak dapat dihancurkan oleh kekuatan duniawi. Inilah tanda Allah nyatakan diri-Nya kepada Musa untuk pimpin umat Israel keluar dari perbudakan Mesir. Ini tanda nyata yang kasat mata akan kasih dan penyelamatan Allah menyejarah dalam bebasnya bangsa Israel dari perbudakan bangsa Mesir.

Yesus Kristus sendiri adalah pemenuhan wahyu Allah, yang telah dijanjikan dalam pewartaan para Nabi (Yesaya, Yeremia, Yehezkiel) menghadirkan cara dan perilaku bagaimana umat manusia perpegang pada jalan Tuhan lewat sabda dan karyaNya dengan berbagai tanda: mukjizat penyembuhan, yang buta disembuhkan, yang tuli dibuatNya mendengar kembali, yang mati dibangkitkanNya. Cara ini mengantar para rasul untuk merasakan tanda  kehadiran Allah yang berbelas kasih dan penuh kasih setia. Tuhan Yesus bukan saja menyampaikan firman pada lisanNya, tetapi juga lewat perbuatan dan perilaku suci yang ditampilkanNya. Yesus pula yang perkenalkan Allah sebagai Bapa yang penuh kasih dan setia, sehingga Yesus hadirkan bukan apa itu wahyu, melainkan siapa wahyu itu. Artinya, wahyu bukan sekedar kata-kata Allah belaka, melainkan pribadi Allah dalam wujud tindakan nyata manusia yang mengubah, menyembuhkan, menghidupkan dan menghadirkan damai sejahtera.

Yesus pun sebagaimanusia alami berbagai keluh kesah kehidupan duniawi (sakit, mati, lapar, miskin). Namun dalam kapasitas Diri-Nya sebagai manusia, yang dilakukanNya adalah wajah Allah sendiri yang hidup dan  menyelamatkan. Sesungguhnya tanda kasih teramat dalam ditunjukan Tuhan dalam tanda totalitas  Allah jadi manusia, tinggal di antara manusia, setia menanggung sengsara hingga wafat mati di tiang salib hina.

Setelah peristiwa salib, mereka yang percaya pada-Nya tidak ditinggalkan sendiri melainkan ditemani oleh daya *Roh Kudus* sebagai Penolong dan Penghibur bagi umat manusia (Yohanes 14:16-17).

Roh Kudus tinggal dalam hati orang beriman, membimbing, mengajar, dan menguatkan mereka dalam iman. Roh Kudus inilah yang menjadi Roh Penolong saat manusia mengalami persoalan, kesulitan dan penderitaan. Roh Kudus ini yang mampu membuka simpul-simpul kebebalan manusia dan menyebarkan kasih ke seluruh dunia. 

Allah yang menyejarah ini juga hadir dalam sejarah Bangsa Indonesia. Tiga poin kunci: tanda, makna dan melihat menjadi karunia. Allah memberi tanda yang jelas dan terang dan makna di baliknya. Para pendiri bangsa ini “melihat” dan merespon dengan niat luhur: kemerdekaan bagi Indonesia.

Hari Kebangkitan Nasional yang juga diperingati pada bulan Mei ini merupakan momen penting saat para punggawa Budi Utomo terhentak pada kesadaran akan nasionalisme. Kemerdekaan bangsa menjadi hal yang hakiki untuk diperjuangkan. Pendiri Budi Utomo pelajar dari Sekolah Kedokteran Stovia ini (dr. Dowes Dekker, dr. Suwardi Suryoningrat/Ki Hadjar Dewantoro, dr. Cipto Mangunkusumo) adalah pilar utama dalam gerakan nasionalis Indonesia, dan mereka bersama-sama membentuk landasan yang kuat untuk perjuangan kemerdekaan. Melalui semangat, pemikiran, dan aksi mereka, Budi Utomo tumbuh menjadi organisasi yang mampu menginspirasi masyarakat untuk menggugat penjajahan dan mengambil alih nasib mereka sendiri.

Dua puluh tahun kemudian perjuangan ini mengerucut pada ikrar kesatuan pada momen Sumpah Pemuda. Allah yang menyejarah dan penyertaan Roh Kudus mengantar para pemuda Indonesia yang mengadakan pertemuan di gedung sisi Katedral Jakarta pada Hari Sabtu, 27 Oktober 2024. Kalau saja tidak jatuh pada hari Minggu, tanggal 28 Oktober niscaya Kongres Pemuda tidak pindah ke Kramat Raya no. 106, melainkan tetap ada di samping Gereja Katedral sebagai Gedung Pemuda Katholiek. 

Dalam Kongres itu diperdengarkan lagu "Indonesia Raya" dengan permainan biola sang pencipta lagu: Wage Rudolf Supratman dalam syair 3 stanza. Pada stanza kedua ada larik “marilah kita berseru, Indonesia Bahagia”. Di Stanza pertama situliskan “Marilah kita berseru, Indonesia Bersatu” dan di stanza ketiga “Marilah kita berseru, Indonesia Abadi”. 

Syair ini diulang kembali pada pidato Drs. Mohammad Hatta pada sidang BPUPK(I) yang hadirkan tanda bahagia pada persatuan dengan wujud pada Indonesia abadi.

Penyertaan Roh Kudus bagi bangsa Indonesia menjadi amat terasa dalam satu tarikan nafas dimana di tengahnya Sumpah Pemuda yang menyambung kesadaran Nasionalisme di tahun 1908 dengan pintu gerbang kemerdekaan 1945.

Pada alinea ketiga Pembukaan UUD 45 berbunyi: “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur ... rakyat Indonesia menyatakan kemerdekaannya"

Bukankah pengalaman bangsa Israel lepas dari perbudakan Mesir relatif sejalan (11/12) dengan kemerdekaan bangsa Indonesia dari kolonialis?Bukankah peran serta Allah nampak dalam sejarah keselamatan Allah bagi bangsa Indonesia? Bukanlah sesuatu yang hanya kebetulan saja. Disini tampak tanda, makna dan karya Allah yang menyejarah dalam kehidupan bangsa dan negara Indonesia?

Semboyan Bhinneka Tunggal Ika makin mengukuhan refleksi dari kehendak Tuhan bagi bangsa Indonesia untuk senantiasa hadirkan persatuan dan kesatuan di tengah keberagaman. Mirip dengan Misteri Tubuh dan Darah Kristus yang terdiri dari berbagai anggota namun tetap satu.

Semoga karya Roh Kudus senantiasa dijawab dengan ambil bagian semua umat beriman yang tak pernah lelah mewujudkan cita-cita bangsa.

Salam sehat berlimpah berkat.
+ Rm Yos Bintoro, Pr

 

 

Komentar