Kamis, 11 Juni 2026 | 01:52
NEWS

Soal Pelarangan Study Tour, Begini Respon Anggota Komisi V DPR RI

Soal Pelarangan Study Tour, Begini Respon Anggota Komisi V DPR RI
Syarif Abdullah Alkadrie

ASKARA - Anggota Komisi V DPR RI, Syarif Abdullah Alkadrie memberikan tanggapan kritis terhadap kebijakan yang melarang kegiatan study tour pelajar.

Menurut dia, kebijakan pelarangan itu tidak tepat. Karena tidak memberikan solusi terhadap persoalan inti. Tetapi, malah memberikan dampak negatif ke berbagai sektor lainnya. 

Diketahui, pelarangan kegiatan study tour ini dikeluarkan menyusul terjadinya kecelakaan yang melibatkan rombongan study tour pelajar SMK Lingga Kencana di Jalan Raya Ciater, Subang, Jawa Barat.

"Artinya ketika ada sesuatu (peristiwa), (malah) bukan nyamuknya yang dibunuh, tetapi (malah) kelambu-nya yang dibakar. Kalau nyamuknya yang dimatikan kan (memang nyamuk) yang menyebabkan orang digigit. Tapi kalau kelambu dibakar, ini kan bisa rumah yang nanti terbakar. Jadi, ketika ada sesuatu, itu berpikirnya tidak terfokus," kata Syarief Alkadrie di Nusantara I, Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (20/5/2024).

Menurut Syarief Alkadrie, peristiwa kecelakaan itu terjadi bukan karena study tour-nya yang salah. Karena itu, ia meminta agar pengemudi, perusahaan transportasi dan petugas menyiapkan berbagai langkah antisipatif.

Menurut Politisi Partai Nasdem itu, para supir dan kondektur harus dalam keadaan prima, memahami medan dan sebelum menjalankan tugas, ia harus mengecek terlebih dahulu kondisi busnya.

"Terjadinya kecelakaan ini karena apa?
Apa (karena) rem-nya blong, atau supirnya ngantuk atau apa. Kalau Rem blong, berarti dia memeriksakan enggak kendaraannya. Sesuai standart SOP gak waktu dia jalan. Jadi jangan digeneralisir," kata dia.

"Ketika supirnya ngantuk, mungkin dia sudah jalan kemarin, beban (waktu menjadikannya kurang prima), karena dia jalan lagi," sambung dia.

Kemudian, bagi perusahaan transportasi, semestinya ia harus memelihara secara teratur dan memperbaiki berbagai hal teknis. Selanjutnya, untuk para petugas, mereka harus disiplin melakukan inspeksi kelayakan kendaraan dan operatornya.

"Nah, bagaimana pengawasan dilapangan (petugas) kerja untuk ini enggak. Makanya, tidak hanya menghukum supirnya. (Nasib) Supirnya juga bermasalah. Kasihan keluarganya, mungkin dia juga punya anak, akibat kecelakaan yang mungkin saja bukan hanya kesalahannya dia saja. Kan kalau mobil blong bukang salah dia. Pemiliknya yang tidak cek, kenapa tidak dicek, ya mungkin karena pengawasannya kurang ketat," kata dia.

"Kalau ada hal-hal seperti ini, saya kira dari pihak-pihak terkait, dari instansi terkait, betul-betul melakukan pengecekan itu. Apa sebenarnya yang terjadi?, Jadi bukan hanya supirnya dianggap lalai / kealpaan, sehingga dia dipidana. Tetapi, ini kenapa sampai terjadi. Kalau memang ini (terjadi) karena (kesalahan) harus di sanksi (perusahaannya) cabut izinnya. Kalau ini diluar negeri, (seperti) di jepang itu ketika ada sesuatu kecelakaan, pejabat instansi ini mundur. Kenapa, karena tanggung jawab moril tadi. Tetapi kita tidak sampai kesana lah," ujar dia.

Komentar