Senin, 03 Agustus 2026 | 06:46
NEWS

Inspirasi Prof. Rokhmin Dahuri: Puasa Ramadhan Mengajarkan Umat Islam Membatasi Sifat Konsumerisme

Inspirasi Prof. Rokhmin Dahuri: Puasa Ramadhan Mengajarkan Umat Islam Membatasi Sifat Konsumerisme
Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS

ASKARA - Cendikiawan Muslim yang juga Pakar Ekonomi Kelautan, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS menyampaikan ajaran Islam selain mengutamakan akhirat juga hidup dalam kesederhanaan. Hal ini, menurutnya, bukan berarti kita tidak boleh kaya.

“Boleh kaya, tetapi kekayaan itu harus mengapai ridha Allah. Wujud konkritnya adalah bahwa orang kaya tersebut tidak menjadi glamour dan hedonis. Tetap saja hidup sederhana seperti yang dicontohkan Ustman bin Affan, Abdurrahman bin Auf,” ujar Prof. Rokhmin Dahuri dalam program Bincang Inspirasi, dikutip dari Rasil TV, Jumat (15/3).

Lalu, Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan-IPB University tersebut mencontohkan Umar bin Abdul Azis seorang konglomerat. Begitu menjadi Khalifah hartanya disumbangkan ke Negara. Beliau menjadi orang yang sederhana. Bahkan ada suatu kisah, ketika beliau kerja menggunakan lampu Negara melarang istrinya yang mau menjahit menggunakan lampu yang dibiayai Negara.

“Rasulullah memilih menjadi manusia yang sederhana, sehingga tidurpun di pelepah kurma. Bahkan ketika Umar bin Khatab menawarkan kasur, Rasulullah menjawab apakah mau menanggung hisab di akhirat,” tuturnya.

Lanjutnya, Prof. Rokhmin Dahuri memaparkan, salah satu wujud takwa adalah cerminan melaksanakan ibadah puasa (shaum) Ramadhan. Pada saat berbuka misalnya, kita tidak boleh  berlebihan, bahkan disunahkan untuk  minum air putih dulu, kemudian makan kurma dan etelah itu shalat maghrib dulu.

“Itu dalam ilmu kedokteran dan ilmu gizi itu supaya kita sehat. Sehingga selepas Maghrib kita tidak makan banyak karena sudah ada manis kurma yang memiliki khasiat tinggi. Kita makan karbonhidrat pun sedikit. Demikian juga, pada saat sahur disunahkan untuk mentahirkan sehingga tidak berlebihan,” ujar Prof. Rokhmin Dahuri.

Jadi, lanjutnya, kalau dalam segi konsumsi aneh jika ada umat Islam belanja makanan dan minuman berlipat ganda. Demikian juga ketika merayakan hari lebaran dianjurkan zakat fitrah, shalat berjamaah, silaturrahim. “Hidangan seharusnya secukupnya saja, begitu juga dengan pakaian tidak jor-joran,” tegas Dosen Kehormatan Mokpo National Univesity Korea Selatan itu.

Pada kesempatan itu, Prof. Rokhmin Dahuri mengkritisi umat Islam yang kaya pada saat lebaran pergi ke luar negeri seperti ke Monaco, Macau, Hongkong dll. Seharusnya, walaupun kita merayakan dengan kegembiraan tetapi bukan yang memboroskan sumber daya alam.

“Kitas saksikan pada saat berbuka puasa di hotel-hotel  besar sisa makan mubazir. Sementara jutaan kaum muslimin susah mencari makan. Padahal menurut FAO makanan yang terbuang itu minimal 20 persen. Ini kan berdosa,” tandasnya.

Inilah, kata Prof. Rokhmin Dahuri, akibat salah menafsirkan takwa seolah-olah shalat, zakat, puasa. Padahal, menurutnya, takwa juga tercermin dalam kehidupan sosial. Menghemat sumber daya alam, dan berbagi. “Dalam Islam menyimpan pakaian berlebihan saja tidak boleh. Makanan berlebihan juga dilarang. Seperti dalam hadits berbunyi “Kita (kaum muslimin) adalah kaum yang hanya makan bila lapar dan berhenti makan sebelum kenyang“. Karena berlebihan makan sampai kenyang yang membuat malas dan merusak kesehatan,” terang wakil ketua Dewan Pakar Majelis Nasional (MN) KAHMI itu.

Prof. Rokhmin Dahuri menjelaskan, tujuan utama puasa selain meningkatkan ketakwaan juga kesehatan, berempati. Karena secara kejiwaan berarti lapar dan haus itu menderita bahwa lapar melemahkan tubuh kita, Seharusnya timbul kesadaran untuk berbagi daripada kita mempunyai harta, makanan berlebihan itu mubazir. Menurutnya, hikmah shaum Ramadahan menimbulkan solidaritas  antar sesama insan. “Bukan hanya muslim tetapi juga berbagi kepada agama lain,” katanya.

Prof. Rokhmin lalu memaparkan Masa Kejayaan Umat Islam (Golden Age), yakni potret kehidupan masyarakat dunia yang maju, adil-makmur di zaman kejayaan umat Islam pada abad-7 sampai abad-18.

“Seperti sewaktu masa kejayaan Islam mulai fatul mekkah sampai abad ke 17 itu tidak ada mustahiq zakat di Negara-negara Islam, atau orang-orang yang layak untuk menerima karena semua sudah makmur. Itu dibagikan ke Negara-negara non muslim,” sebutnya.

Kenapa umat Islam yang kaya masih pelit? Karena mereka, katanya, gagal faham. Seharusnya menjelang puasa membaca buku-buku fikih seperti tujuan utama takwa. Kemudian supaya kita mendapatkan puasa dengan status khususan. Bukan puasa awam yang hanya mendapatkan lapar dan dahaga.Tetapi mendapatkan hikmah dari puasa.

Selesai ibadah puasa ketakwaan dan keimanan semakin menikngkat itu perlu mengetahui ilmunya, apa yang dilarang, makruh. Selain itu dalam spiritual  fisik menghadapi puasa sehingga kita benar-benar dalam menghadapi bulan puasa selain menahan lapar dan dahaga, tetapi juga memperbanyak ibadah-ibadah sunah, tadarur.

“Tidak hanya membaca tetapi juga dihayati, ditadabburi, sehingga seluruh ayat yang kita baca kita laksanakan dalam kehidupan sehari-hari, Insya Allah selesai kita melaksanakan ibadah puasa pada Idul Fitri benar-benar kaya bayi yang terlahir dalam keadaan suci,” papar Penasehat Menteri Kelautan dan Perikanan-RI 2020 – sekarang,

Berapa persen umat Islam yang melaksanakan ibadah puasa sebenarnya? Prof. Rokhmin Dahuri menegaskan, itulah tugas dakwah dalam mengkomunikasikan ajaran Islam yang benar yang indah, rahmatan lil alamin, apalagi sekarang ini umat Islam difitnah sebagai radikal, ekstrem.

“Padahal muslim yang benar adalah yang salam. Rahmatan lil alamin. Dalam sejarah umat Islam kalau mayoritas tidak pernah menyengasarakan kaum minoritas. Mereka sangat dilindungi. Sehingga ketika umat Islam dikalahkan di Andalusia, umat Yahudi menjadi sulit dan berharap pemerintahan Islam tetap ada. Karena jika umat Islam menjalankan secara kaffah tidak mungkin zalim terhadap sesama manusia begitu juga flora dan fauna,” terangnya.

Sayangnya,sejarah itu diputar balikan oleh orang-orang tidak beriman dan kapitalis. Maka, itulah tugas kita semua bersama umat lain bersatu padu untuk melawan sekularisme, kapitalisme dan atheisme. “Karena ajaran muamalah kita sama untuk kebaikan, yang berbeda tauhid. Maka dalam ajaran Islam ada surat Al Kafirun, lakum dinukum waliadin. Sepanjang kita tidak menyentuh akidah jangan menghina Alquran, menistakan Alquran, akan menimbulkan perpecahan,” katanya.

Untuk itu, Prof. Rokhmin Dahuri menekankan semangat Ramadhan seharusnya jika dijalankan secara benar memberikan dampak positif yang luar biasa bagi kemajuan semangat kebaikan dari bangsa Indonesia. “Sehingga cita-cita mewujudkan Negara yang adil, makmur dan berdaulat, baldatun thayyibatun wa rabbun ghofur (sebuah negeri yang mengumpulkan kebaikan alam dan kebaikan perilaku penduduknya), Insya Allah 15 tahun kedepan bisa tercapai,” ujar Menteri Kelautan dan Perikanan Priode 2001-2004 itu.

Komentar