Rabu, 17 Juni 2026 | 17:16
OPINI

Kerusuhan Fansite Korea di GDA 2023

Pergulatan antara Antusiasme dan Keamanan di Indonesia

Pergulatan antara Antusiasme dan Keamanan di Indonesia
Ilustrasi, personel Kpop (Dok Ask)

Oleh: Amanda andriana

Mahasiswa sekolah vokasi IPB program studi komunikasi digital dan media

ASKARA - Pembukaan Golden Disc Award ke-38 2023 dilaksanakan di Jakarta International Stadium (JIS). Acara bergengsi ini merupakan acara tahunan yang rutin diselenggarakan sebagai ajang penghargaan bagi para idol kpop. Acara ini tentunya mengundang antusiasme yang sangat besar bagi para pecinta kpop. Saya merasa antusiasme banyak sekali datang, bukan hanya dari pecinta kpop di Indonesia, namun juga dari warga negara asing.

Menurut saya, acara penghargaan bergengsi ini harus menuai kekecewaan bagi para pecinta kpop. Pasalnya terdapat beberapa oknum yang berasal dari Korea Selatan terlibat dalam kericuhan dengan perugas keamanan dan juga beberapa penonton pada section Vip. Kericuhan ini disebabkan oleh warga Korea Selatan yang berprofesi sebagai Fansite membawa sejumlah kamera professional ke dalam venue, yang mana peraturan ini sudah menjadi hal yang lumrah bagi para penonton untuk tidak merekam idol kpop saat tampil untuk menghargai privasi idol tersebut.

Saya merasa hal ini sangat bertentangan dengan budaya masyarakat Korea Selatan yang sangat menjunjung tinggi privasi seseorang. Apalagi Fansite tersebut seharusnya bukan pertama kali menghadiri acara award atau konser kpop yang sudah jelas melarang hal tersebut. Karena ketat nya peraturan di GDA, para petugas keamanan juga sudah memberikan teguran dengan baik, namun para oknum ini justru melakukan perlawanan dan bersikap acuh kepada petugas keamanan. Hal ini membuat saya sebagai warga lokal cukup kecewa dengan perlakuan para Fansite, seharusnya para Fansite dapat meminta maaf atas kesalahan yang terjadi, karena hal ini pastinya akan memperburuk stereotype negatif tentang Korea Selatan, khususnya Kpop.

Tindakan blacklist, menurut saya adalah hal yang tepat agar oknum-oknum Fansite dari Korea Selatan tidak dapat datang ke semua konser ataupun acara penghargaan lainnya. Melihat perlakuan para fansite yang sudah melewati batas. Tidak hanya acuh atas teguran dari para petugas keamanan, namun para fansite juga melakukan kekerasan fisik, mencaci maki dan parah nya hingga mengancungkan jari tengah. Hal ini sudah sangat keterlaluan dan dapat menimbulkan konflik yang berdampak besar bagi fans kpop di tanah air dan di Korea Selatan. Attitude dari fansite tersebut nyatanya semakin memperburuk citra warga Korea Selatan yang merasa superior dan tidak mau diatur, attitude mereka yang seperti ini rupanya dapat membenarkan stereotype yang beredar bahwa warga Korea Selatan kurang menghargai negara Asia Tenggara. 

Attitude  oknum Fansite asal Korea Selatan ini juga memberikan komentar jahat pada akun twitter mereka. Dengan kata-kata “ Saya tidak akan pernah Kembali ke negara Anda yang kotor dan tidak beradab”. Hal ini sangat keterlaluan dan memicu kemarahan bagi netizen Indonesia dan juga netizen Internasional. Apalagi dengan pemakaian kata “kotor,” menurut saya hal ini sangat diluar konteks sekali, para fansite seakan-akan berlagak menjadi korban dalam hal ini, dan meminta pembelaan atas perlakuan mereka, sehingga pihak GDA lah yang menyebabkan kericuhan ini. Selain itu, saya juga mempertanyakan kredibilitas promotor penyelenggara GDA 2023 ini. Apakah mereka sudah siap menyelenggarakan acara bergengsi ini, dikarenakan keamanan venue yang cukup longgar hingga banyak oknum Fansite yang secara terang-terangan membawa kamera professional, bahkan tidak memakai wristband. 

Hal ini juga dapat menjadi pembelajaran bagi para promotor dan petugas keamanan untuk selalu bekerjasama dari mulai pengecekan barang, pemeriksaan tiket dll. Saya setuju agar nantinya promotor yang ingin mengadakan konser dalam skala k-pop agar mempertimbangkan tingkat keamanan dan dapat bekerjasama dengan pihak imigrasi dan kepolisian untuk tidak memperbolehkan oknum-oknum Fansite ini datang.

Strategi yang dapat dilakukan untuk meminimalisir hal ini dan juga mengatasi kericuhan seperti ini, yaitu mulai dari mempercayai pada promotor yang berpengalaman dalam mengatur konser ataupun acara bergengsi dalam skala internasional. Selain itu demi mencegah kericuhan, para promotor dapat bekerjasama dengan pihak imigrasi dan juga kepolisian untuk tidak meloloskan para oknum-oknum fansite yang datang. Selain itu, saya juga sangat mengapresiasi para fans kpop yang sudah menyebarkan informasi ini di media sosial, sehingga banyak fans Korea Selatan dan Internasional lebih berhati-hati dalam kejadian ini. 

Hal ini juga akan membuat para oknum fansite mengakui kesalahan dan meminta maaf kepada pihak promotor serta bertanggungjawab atas tindakan kekerasan yang dilakukan. Banyaknya informasi di media sosial yang beredar tentang hal ini, membuat portal berita di Korea Selatan  menulis berita ini dan menuai komentar yang beragam. Sehingga dapat memberikan efek jera kepada para oknum fansite tersebut.

 

 

Komentar