Prihatin Banjir Tiap Tahun di Kabupaten Cirebon, Prof. Rokhmin: Seharusnya Cepat Dicari Solusi Tepat
ASKARA - Putra asli Cirebon kelahiran Gebang Mekar, Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri, M.S., menyampaikan keprihatinan atas musibah banjir yang terjadi hampir setiap tahun di wilayah timur Kabupaten Cirebon.
"Masalah tahunan ini seharusnya segera diatasi. Pemerintah daerah perlu pro aktif melakukan langkah-langkah tepat dalam mengatasi persoalan tersebut," kata Prof. Rokhmin Dahuri kepada wartawan, Rabu (6/3).
Bila anggaran daerah tidak mampu, bisa meminta ke provinsi dan pusat. Sinergi antara dinas teknis dengan pihak provinsi dan pusat perlu ditingkatkan lagi.
"Saya prihatin, warga terus menerus menjadi korban banjir. Kerugian banjir bukan hanya harta benda, bahkan nyawa manusia. Ini masalah serius dan harus segera diatasi," kata caleg DPR RI dari PDI Perjuangan yang meraih suara terbanyak di daerah pemilihan Jabar 8 ini.
Dalam pandangannya, langkah mendesak yang harus dilakukan yakni normalisasi sungai dan senderan. Tata kelola lingkungan digencarkan dengan melakukan penanaman pohon, budaya bersih lingkungan dengan tidak membuang sampah ke sungai serta menghindari berdirinya bangunan di sisi sungai.
"Masyarakat juga perlu mendukung dengan tidak membuang sampah ke sungai. Semua pihak harus saling mendukung dan berkomitmen menjaga lingkungan," tandas Prof. Rokhmin.
Sungai Ciberes, lanjutnya, mendesak dilakukan pengerukan karena endapan tanah sudah tinggi. Luapan air sungai juga akibat endapan tanah dan sampah.
Ia juga menilai perlu dikembangkan teknologi dalam penanganan masalah banjir. Salah satunya mengajak masyarakat sekitar sungai melakukan pengolahan sampah.
"Bagaimana sampah menjadi berkah, bisa menghasilkan untuk kehidupan warga. Teknologi pengelolaan sampah lebih ditanamkan lagi ke masyarakat dan dikembangkan," ujarnya.
Kepada warga korban banjir, Prof. Rokhmin menekankan pentingnya bersabar dan tetap memohon perlindungan kepada Allah SWT. Setiap musibah dan cobaan tentu ada hikmahnya.
"Tetap sabar, yakinlah Allah SWT selalu memberikan pertolongan dan perlindungan. Pemerintah melalui lembaga terkait juga segera turun membantu masyarakat korban banjir. Pastikan warga tetap mendapat makanan, pakaian dan tempat berlindung," pungkas ketua DPP PDI Perjuangan ini.
Evakuasi Warga
Kepala BPBD Kabupaten Cirebon Deni Nurcahya di Cirebon pada Rabu (6/3) mengatakan bencana banjir tersebut disebabkan meluapnya debit air di sejumlah sungai, sehingga merendam pemukiman warga dengan ketinggian sekitar 20 sentimeter sampai 2,5 meter.
Ratusan rumah dilaporkan terendam dengan ketinggian air rata-rata sekitar 1 meter lebih akibat luapan sungai yang ada di kawasan tersebut. Tercatat ada 7 kecamatan yang terendam.
"Adapun tujuh kecamatan yang terdampak banjir tersebut adalah Kecamatan Waled, Ciledug, Pasaleman, Pangenan, Karangwareng, Babakan, dan Kecamatan Pabedilan," terangnya.
Di desa Ciuyah ada 712 unit rumah yang terendam, dan satu orang warga dinyatakan meninggal dunia.
Kemudian, ada 1.012 KK dan 2.339 jiwa terdampak. Sementara ada 200 warga yang diungsikan di balai desa setempat. Lalu di desa Gunungsari, ada 1.018 rumah warga yang terendam.
Bencana banjir tersebut, ungkapnya, disebabkan meluapnya debit air di sejumlah sungai, sehingga merendam pemukiman warga dengan ketinggian sekitar 20 sentimeter sampai 2,5 meter.
“Hujan deras dengan durasi yang lama di wilayah Cirebon mengakibatkan Sungai Ciberes, Cisanggarung, Cimanis, dan Singaraja meluap, sehingga merendam rumah warga,” kata Deni.
Pihaknya menerjunkan sejumlah personel yang dibantu tim gabungan dari berbagai instansi terkait guna mengevakuasi warga.
Deni menyampaikan proses evakuasi menyasar ke Desa Ciuyah, Mekarsari, Gunungsari, dan beberapa wilayah di Kecamatan Waled yang terendam banjir.
"BPBD mengirimkan dua perahu fiber dan tiga perahu karet untuk mengevakuasi warga,” ujarnya.
Deni memastikan personel BPBD Kabupaten Cirebon juga dikerahkan keenam kecamatan lain dengan menyisir lokasi, untuk memastikan tindakan evakuasi yang tepat kepada warga terdampak banjir.
"Dari hasil asesmen sementara, di kecamatan ini terdapat 3.125 kepala keluarga (KK) atau 8.067 jiwa yang terdampak banjir serta ratusan warga mengungsi ke tempat lebih aman," kata Deni.

Komentar