Perjalanan Tak Terduga Menyambut Perpisahan
Oleh: Auliya Asyifa Rozen
Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media,
Sekolah Vokasi IPB University
ASKARA - Hawa panas menyambut kedatangan kami di Jakarta. Ini adalah cerita perjalananku dan kedua sahabatku, dalam rangka menyambut perpisahan liburan tahun baru dan semester baru.
Cerita ini bermula dari kami yang ingin pergi menghabiskan waktu bersama, bertepatan dengan hari terakhir UAS (Ujian Akhir Semester). Kami menyelesaikan ujian kira-kira pukul sepuluh pagi dan menuju ke kosanku untuk bersiap. Tidak lupa kami membawa jajanan, make up, dan power bank untuk berjaga-jaga. Setelah itu kami memesan ojol untuk menjemput kami ke Stasiun Bogor.
Kami bertiga tertidur pulas selama di kereta. Aku terbangun lebih dulu dan melihat kedua sahabatku masih tidur dengan mata terpejam. Sesampai di Manggarai aku membangunkan mereka. Ya, kereta hampir sampai tujuan, di Stasiun Gondangdia. Misi kita adalah berburu kuliner di Stasiun Gondangdia dan piknik di Monas.
Setelah turun dari kereta, kami segera keluar dari stasiun dan menuju foodcourt. Jajanan pertama yang kami beli adalah dimsum. Dengan harga 17.000, kami mendapatkan lima buah dimsum dengan porsi yang cukup besar. Ini termasuk ke kategori 3 dimsum terenak yang pernah aku makan. Aku berani merekomendasikan ini sebagai jajanan yang wajib dibeli ketika melewati Stasiun Gondangdia.
Setelah melahap dimsum hingga habis, kami berburu jajanan lain untuk kemudian kami bawa ke Monas. Kami membeli berbagai varian cireng, piscok, dan ayam penyet. Ketika memesan ojol, kami mengalami sedikit kesulitan dalam menentukan titik penjemputan. Kalau kata pepatah, “malu bertanya, sesat di jalan.” Oleh karena itu, kami bertanya kepada abang penjual ayam penyet mengenai titik jemput di maps dan ke arah mana kami harus berjalan.
Gocar kita telah sampai, kami masuk mobil dan diantarkan sampai pintu masuk Monas. Keadaan sangat ramai pengunjung. Kami berjalan mencari tempat yang teduh untuk duduk bersantai dan makan jajanan yang sudah kami beli tadi. Setelah berkeliling, kami menemukan spot yang pas dengan view langsung bangunan Monas. Tidak lupa, kami memasang timelapse untuk merekam kebersamaan kami hari itu. Bagi kami, dokumentasi sangat penting untuk mengenang momen yang pernah kami jalani. Kami menikmati makanan sambil bertukar cerita. Aku sangat menyukai kebersamaan kami. Bagiku, mereka adalah saudariku yang dilahirkan dari beda ibu.
Aku ingin sedikit me-review ayam penyet yang kami beli. Dengan merogoh kocek sepuluh ribu, kami sudah mendapatkan nasi, ayam penyet sambal ijo, dengan lalapan. Untuk ukuran Kota Jakarta, ini termasuk sangat murah dan terjangkau. Sangat recommended untuk anak kos seperti aku. Selesai makan makanan berat, kami masih ngemil jajanan yang kita bawa dari Bogor. Bayangkan betapa kenyangnya perut kami saat itu. Bahkan karena kekenyangan, salah satu sahabatku tertidur di Taman Monas. Hahahaha. Benar-benar tidak tahu tempat. Aku dan sahabatku satunya sibuk menertawakan dan merekam dia yang matanya masih saja lelap terpejam.
Merasa sudah puas dengan berpiknik di Monas, kami iseng mencari event atau konser yang bisa didatangi saat itu juga. Setelah mengulik-ngulik sosmed sekian lama. Kami tidak menemukan konser yang cocok dan bisa didatangi. Sampai tiba-tiba kami kepikiran, “Apa kita ke PIK aja ya?” “Aloha, yuk” “Coba cari info PIK” “Naik apa ya ke sana?”
Akhirnya kami mengumpulkan informasi transportasi apa yang bisa kita gunakan. Dan jeng-jeng. Kami melakukan ibadah terlebih dahulu sebelum akhirnya bersiap menuju halte TransJakarta. Keluar dari Monas, kami berjalan menuju halte dan bertanya kepada petugas TJ mengenai rute ke PIK. Kami naik Koridor 1A dari Monas dan turun di halte Pantai Maju. Perjalanan memakan waktu kurang lebih dua jam. Lagi dan lagi, kami tertidur di dalam bus. Bahkan saking pulasnya, tas jajanan yang aku bawa sampai jatuh ke bawah dan mengejutkan orang-orang, hehe. Aku pun juga terkejut sampai kaget terbangun. Sedikit malu tapi yasudahlah, toh mereka ga kenal aku wkwkw.
Sepanjang perjalanan aku merasa lumayan mual. Sambil menghitung mundur halte yang kami lewati, aku berulang kali memejamkan mata untuk mengalihkan rasa mual yang kutahan. Apalagi Jakarta macet parah. Sampai tibalah waktu maghrib tiba. Kami bisa melihat keindahan pantai lewat jendela bus dengan pemandangan semburat sunset. Sangat cantik. Kami mengabadikan momen tersebut dengan merekamnya lewat kamera smartphone. Setelah pantai itu terlewat, pertanda kami sudah berada dekat di lokasi PIK.
Tidak lama kemudian, bus kami berhenti di Halte Pantai Maju. Mata kami bersinar, terpana melihat kecantikan setiap sudut kota ini. Begitu indah. Bahkan warna langitnya berbeda. Terasa seperti bukan di Indonesia. Dengan bulan sabit yang terbentang cantik di atas sana. Tak berhenti aku memandangnya. Sungguh, aku benar-benar terpesona. Berulang kali aku merekamnya. Tentu saja aku membagikan video indah tersebut di Instagram. Aku ingin semua orang tahu keindahannya.
Setelah merasa puas, aku menghampiri kedua sahabatku yang sudah menunggu sedari tadi. Kami berjalan di sepanjang trotoar menuju arah pantai. Lagi dan lagi, saat masuk ke area pantai, kami disuguhi pemandangan laut malam yang begitu cantik. Selalu ada bulan yang berperan di dalamnya. Tentu saja aku mengabadikan momen itu dan mempostingnya dengan lagu “moon light”
Melihat banyak pengunjung yang mengendarai sepeda, rasanya kami juga ingin menjualnya. Namun, kami memutuskan untuk mencari mushola terlebih dahulu. Tentu saja, ibadah adalah hal yang paling utama. Setelah bertanya kepada beberapa petugas PIK yang sedang bebersih, kami terus berjalan sampai di ujung pantai. Siapa sangka musholanya benar-benar berada di paling ujung.
Selesai menunaikan ibadah, kami touch up dan membuat tren video Tik Tok. Rasanya masih tak terduga kami bisa sampai di sini. Setelah puas tiktokan, kami pun mencari jajan. Ada banyak tempat makan Western dan China di sini, yang tentu saja bukan harga anak kos. Hahaha. Sampai akhirnya, ada satu kedai yang menarik perhatian kita. Setelah pusing memilih menu, lagi dan lagi aku membeli jus melon, jus kebangganku haha. Sementara kedua sahabatku membeli smoothies. Harganya cukup terjangkau untuk ukuran di PIK dengan porsi yang banyak.
Saat menikmati jus yang kami beli, tiba-tiba aku teringat jam operasional Trans Jakarta. Sontak kami mengecek jam dan BOOM. Sebentar lagi jam sepuluh malam. Itu artinya, Bus
TJ terakhir datang sebentar lagi. Kami langsung bersiap dan kembali menuju halte. Aku sudah ketakutan, bagaimana jika tidak ada lagi TJ yang balik ke Jakarta? Haruskah kita menginap dan kembali besok subuh?
Namun keberuntungan berpihak kepada kita, tepat hampir jam sepuluh ada Bus TJ yang menghampiri kami. Yup, benar. Ini adalah bus terakhir. Artinya, jika kami ketinggalan bus ini, maka kami akan kembali besok pagi. Hahaha. Kami memasuki bus dengan rasa penuh bersyukur dan kami duduk di bangku paling belakang. Setelah banyak berjalan, lagi-lagi kami tertidur pulas. Aku terbangun saat bus hampir sampai di Kota Tua. Kami turun dan menyambung perjalanan pulang dengan naik KRL sekitar hampir jam dua belas malam. Yup, itu juga kereta terakhir yang beroperasi malam itu. Tuhan benar-benar berpihak kepada kita. Ini menjadi perjalanan jauh pertamaku dengan pulang larut malam.
Di kereta kami benar-benar tertidur pulas dan terbangun saat kereta sampai Cilebut, pertanda sebentar lagi sampai di Stasiun Bogor. Keluar dari stasiun, kami memutuskan untuk membeli makanan berat dahulu sebelum pulang. Ada satu kedai yang masih buka malam itu, ayam penyet sambal ijo gemoy. Kebetulan menu yang tersisa hanya 3 porsi terakhir. Benar-benar pas dengan kami yang berjumlah tiga orang. Kami sangat menikmati makan malam itu setelah perjalanan panjang. Aku sangat ingat, itu adalah ayam penyet sambal ijo terenak yang pernah aku makan selama di Bogor. Sambalnya nagih dan nikmat. Bumbu ayamnya gurih dan sangat terasa. Benar-benar kombinasi yang sangat pas.
Selesai makan, kami memesan gocar untuk pulang ke kos. Mereka berdua menginap di kostku. Paginya, aku masih terbayang-bayang ayam penyet yang sangat enak tadi malam. Jadi, kami go food ayam penyet untuk sarapan. Namun, rasanya tidak seenak yang tadi malam. Sejak itu, ayam penyet sambal ijo gemoy dekat Stasiun Bogor menjadi ayam penyet sambal ijo favorit kami bertiga.

Komentar