Mimpi Besar Bapak Perikanan Nasional
ASKARA - Tanggal 26 Oktober 1999 Presiden Republik Indonesia keempat, Bapak KH. Abdurahman Wahid atau yang lebih kita kenal Gusdur membentuk Departemen Eksplorasi Laut (DEL) atau saat ini menjadi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Setelah sekian puluh tahun negeri ini memunggungi laut, dengan keberaniannya, Gusdur membuka pintu gerbang kelautan Indonesia dan menjadikan laut dan segenap potensi di dalamnya sebagai visi pembangunan Indonesia kedepan. Untuk itu, tidak berlebihan kalau Gusdur suatu saat nanti didapuk sebagai “Bapak Kelautan Indonesia”.
Lebih dari itu, tahun 2001 Gusdur mengangkat Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri MS, seorang anak nelayan sebagai Nahkoda pada Departemen tersebut. Anak nelayan tradisional, nelayan kecil, bukan nelayan besar, bukan nelayan kapal besar.
Anak nelayan kecil yang punya mimpi besar. Mimpi yang pada hakekatnya adalah representasi dari kenyataan di lapangan. Visi dan harapan yang jauh kedepan. Anak nelayan kecil ini kita panggil saja “Bapak”.
Dengan ketekunan dan ridho tuhan, Allah SWT, mimpi-mimpi Penasehat Menteri Kelautan dan Perikanan 2020 – Sekarang menjadi kenyataan. Meskipun semua orang punya mimpi, punya cita-cita, namun tidak semua orang dapat mewujudkan mimpi-mimpinya.
Lahir di kampung pesisir, tumbuh dewasa di lingkungan pesisir, mungkin Bapak saat masih kecil bermimpi ingin belajar dan menguasai ilmu tentang bagaimana mengelola pesisir dan masyarakat nelayan itu agar MAJU. Mimpi dan cita-cita Bapak pun menjadi nyata.
Berkesempatan belajar di perguruan tinggi dan mendalami bidang pengelolaan pesisir pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan di salah satu perguruan tinggi negeri ternama, akhirnya Bapak pun menjadi bagian dari keilmuan pesisir dan perikanan itu sendiri.
Mendalami, meneliti, mengajar, dan mengabdi dalam bidang ilmu pengelolaan pesisir dan perikanan itu. Bahkan, pendalaman ilmu pengelolaan pesisir dan perikanan itu Prof. Rokhmin Dahuri kemudian dapatkan, lebih MAJU lagi, belajar dan meraih gelar Doktor di kampus tempatnya para ahli pesisir dan perikanan, di negara yang lebih MAJU di luar sana. SATU lagi, mimpi menjadi kenyataan.
Tidak banyak orang yang ahli di suatu bidang dapat mewujudkan mimpi-mimpi itu menjadi sebuah kenyataan. Siapa sangka, mimpi untuk menjelmakan bidang baru itu ke dalam lingkungan birokrasi, yang bahkan, pada zamannya, tidak semua orang hebat pun sanggup untuk menembus nya. Bapak berhasil menembus birokrasi itu.
Pada zaman birokrasi yang “sakral” waktu itu, Prof. Rokhmin Dahuri sanggup memasukkan bidang pengelolaan pesisir sebagai bagian dari program “Penguasa” untuk diterapkan, dikembangkan, dan dilaksanakan sebagai program pemerintah, program negara.
Diwujudkan dalam program, dan dibiayai oleh anggaran negara. Menjadi program pengembangan pesisir BANGDA-DEPDAGRI waktu itu. SATU lagi, mimpi pun terwujud.
Sejalan dengan keberhasilan menembus birokrasi tadi, Prof. Rokhmin Dahuri yang juga sebagai Guru Besar Manajemen Pembangunan Pesisir dan Lautan – IPB University pun mampu meng-institusikan, melembagakan bidang keilmuwan pesisir itu menjadi Pusat Kajian yang resmi, terlembaga di kampus tempat Bapak bekerja.
Dan, seiring sejalan, Prof. Rokhmin Dahuri pun berhasil mewujudkan disiplin ilmu bidang pengeloaan pesisir menjadi sebuah program doktoral di kampus tersebut. SATU lagi, mimpipun terwujud. Dan, sekali lagi tidak semua orang mampu mewujudkannya.
Tak lama waktu berselang, meskipun berganti zaman, era reformasi, Bapak sanggup melembagakan, menjadikan bidang pesisir dan perikanan menjadi institusi di sebuah Departemen, hingga saat ini. Departemen yang waktu itu baru lahir, departemen yang sebelumnya tidak pernah ada. SATU lagi, mimpi pun menjadi kenyataan.
Bahkan, tak lama sejak departemen itu berdiri, Prof. Rokhmin Dahuri berhasil menjadi orang nomor SATU yang memimpin departemen tersebut. Sekali lagi, mimpi sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia periode 2001-2004 menjadi kenyataan.
Hari ini, seandainya boleh meneruskan mimpi-mimpi itu, ada satu mimpi yang ingin dapat terwujud. Saat dunia sudah lebih maju sekarang ini, saat dunia sedang masuk di era digital, saat dunia masuk pada era 4.0 bahkan 5.0, saat mayoritas manusia menggunakan telepon pintar (Smart Phone) dalam genggamannya, mungkin mimpi itu tidak lah berlebihan.
Saat semua serba digital itu, yang seharusnya semua serba cepat, semua serba akurat, dan semua lebih mudah digunakan, diakses, dan dimanfaatkan oleh semuanya. Mimpi, saat statistik demografi kita selalu menempatkan profesi nelayan sebagai yang paling miskin. Mimpi saat perikanan menjadi bidang yang “tidak sejahtera”.
Mimpi Guru Besar Kehormatan Mokpo National University, Korea Selatan itu saat pengelolaan perikanan tangkap yang hingga saat ini belum beradaptasi, bertransformasi pada zaman serba digital itu, zaman yang orang sebut era 4.0 atau 5.0 itu. Membayangkan saat manajemen perikanan itu dijalankan dengan cara digital, dengan model aplikasi, dengan kehebatan internet, dengan kecepatan yang luar biasa.
Mimpi yang menjadikan nelayan dan pelaku utama kelautan dan perikanan kita sejajar bahkan lebih sejahtera dari negara lain dari negara perikanan maju di sana.
Mimpi yang mungkin hanya “Bapak” yang sanggup mewujudkannya, menginstitusikannya dalam birokrasi, dalam negara, dalam tata kelola negara. Untuk INDONESIA MAJU, untuk kemajuan perikanan nasional, untuk kemajuan nelayan nusantara, dan untuk kesejahteraan masyarakat pesisir Indonesia.
Saat ini Ketum Peguyuban Dulur Cirebonan Ciayumajakuning (Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Kuningan) itu sedang berjuang untuk mewujudkan mimpi-mimpi itu. Demi niat dan tujuan mulia ini, jangan biarkan Bapak berjuang sendirian. Segenap do’a, tenaga dan apapun sumberdaya yang kita punya, demi wujudkan cita-cita mulia.
Selamat berjuang Bapak Perikanan Nasional, Bapak Nelayan Nusantara, Bapak Pengelolaan Pesisir Indonesia. Do’a dan dukungan kami semua untuk Bapak.

Komentar