Inspirasi Jumat Prof. Rokhmin Dahuri: Menanam dan Merawat Jiwa
Tenanglah, Allah itu Ada dan Tidak Tidur
ASKARA - Hal pertama untuk menjawab di manakah kebahagiaan yang selalu dicari dan dinanti, saya akan mengajak Anda untuk mengarungi dan menjawab pertanyaan dasar, apakah Tuhan itu ada?
Sejak awal kemunculannya, atheisme telah melahirkan orang-orang yang berpaham anti-Tuhan. Yakni mereka yang sangat memuliakan akal dan kebendaan, meyakini dan memahami bahwa manusia dan alam semesta ini ada dengan sendirinya (genaratio spontania) dan tidak ada campur tangan satu dzat pun dalam penciptaannya. Dalam keyakinan mereka, keindahan dan keberlangsungan kehidupan dunia ini terjadi begitu saja. Tidak ada yang mengatur, apalagi yang menciptakan Keyakinan dan pemahaman ini terbentuk karena jiwa materialis, bahwa segala sesuatu yang berwujud harus mampu dilihat, didengar, dan dirasa oleh indra manusia.
Maka, segala sesuatu yang tidak dapat ditangkap oleh indra dianggap tidak berwujud. Apakah keyakinan dan pehamanan ini dapat dibenarkan oleh akal kita? Mari kita buktikan!
Sebuah ilustrasi sederhana yang terjadi pada sebuah sekolah dasar sekitar tahun 1965, ketika PKI (Partai Komunis Indonesia) sedang jaya-jayanya di tanah air.
Dalam suasana belajar, seorang guru bertanya kepada murid-muridnya, “Apakah kalian dapat melihat papan tulis ini?”
Murid-murid menjawab, “Bisa!”
Sang guru langsung menyahut lagi, “Berarti papan tulis ini ada.” Kemudian sang guru bertanya, “Apakah kalian bisa melihat saya?”
Mereka menjawab, “Bisa!”
Sang guru kembali menimpali, “Berarti saya ada.”
Kali ketiga, sang guru bertanya, “Sekarang apakah kalian bisa melihat Tuhan?” Dengan spontan muridmurid menjawab, “Tidak!”
Maka, sang guru menegaskan bahwa Tuhan tidak ada. Sang guru menegaskan bahwa sesuatu yang berwujud itu penampakannya harus bisa ditangkap dan dirasakan oleh indra.
Namun, saat itu ada seorang anak kecil yang kritis, mencoba memancing pertanyaan kepada temantemannya dan ia pun berkata, “Teman-teman, apakah kalian bisa melihat akal Pak Guru?”
Mereka menjawab, “Tidak!”
Lantas anak tersebut berujar, “Berarti Pak Guru tak berakal.”
Lalu, ia bertanya kembali kepada teman-temannya,
“Apakah kalian bisa melihat nafsu Pak Guru?”
Mereka menjawab, “Tidak!”
Kemudian ia berujar lagi, “Berarti Pak Guru tidak memiliki nafsu.”
Kisah di atas menunjukkan sebuah fenomena sederhana mengenai sesuatu yang tidak berbentuk dan terlihat justru malah diyakini keberadaannya. Ini menjadi satu bukti nyata dan mampu menjawab tuntas pemikiran dasar para atheis bahwa sesuatu yang tidak dapat ditangkap dan dirasakan oleh indra belum tentu tidak ada.
Proton dan elektron, misalnya, sampai sekarang tidak seorang pun yang mampu dengan indranya melihat kedua benda ciptaan Allah tersebut. Tetapi, adanya pijar listrik yang menyala sebagai akibat proton dan electron yang bersentuhan meyakinkan kita bahwa elektron dan proton memang ada.
Oleh karena itu, salah satu ciri orang yang bertakwa adalah mengimani tentang hal ghaib yang dijelaskan dalam Alquran “Yaitu orang-orang yang percaya pada yangghaib... (QS. Al-Baqarah: 3). Sesungguhnya, pertanyaan tentang keberadaan Allah adalah pertanyaan dasar yang akan keluar dari jiwa-jiwa yang memiliki fitrah ketuhanan.
Hal ini pun pernah dilakukan oleh kekasih Allah, Ibrahim alaihissalam dan juga Musa alaihissalam. “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati.” Allah berfirman: “Belum yakinkah kamu?” Ibrahim menjawab: “Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku). Allah berfirman:
“(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman): “Lalu letakkan diatas tiaptiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.” Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Baqarah: 260)
“Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang Telah Kami tentukan dan Tuhan Telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar Aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi Lihatlah ke bukit itu, Maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, Aku bertaubat kepada Engkau dan Akuorang yang pertama-tama beriman.” (QS. Al A’râf: 143)
Dorongan pencarian akan keberadaan Tuhan bersifat alamiah dan fitrah, sesuai dengan kebutuhan manusia yaitu bertauhid. Pertanyaan-pertanyaan mengenai Tuhan bukanlah pertanyaan yang nyeleneh. Pertanyaanpertanyaan itu akan terus memanggil-manggil bahkan sampai mengganggu kenyamanan hidup manusia. Hal hal yang tidak masuk akal sekalipun harus dialami para nabi untuk membuktikan tentang keberadaan Tuhan.
Perjalanan hidup manusia sangat beragam. Bumi dan dunia sekitarnya terpelihara dan berjalan dalam keseimbangan yang berkesinambungan, dalam keindahan yang menakjubkan dengan ciptaan yang berbagai jenis dan berpasang-pasangan. Siang dan malam, laki-laki dan perempuan, langit dan bumi, semua itu menjadi pertanda adanya Tuhan.
Salah seorang Arab gunung yang jahil pernah berkata, “Lautan yang berombak dan langit yang berbintang serta bumi yang berlembah, bukankah semua itu menunjukkan adanya Sang Pencipta?”
Sungguh Allah telah menggambarkannya dengan sangat baik dalam kalam-Nya yang mulia yang tersaji dalam Al-Quran. Semuanya pun dapat kita buktikan dengan merenungkan ciptaan-ciptaan-Nya yang ada di alam dunia ini. Bukankah Allah telah berfirman: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaranAllah) bagi orang yang berakal.” (QS. Âli ’Imrân: 190)
Tidakkah kita melihat tanda-tanda kebesaran dan adanya Allah di bumi ciptaan-Nya ini? “Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati, Kami hidupkan bumi itu dan kami keluarkan daripadanya biji-bijian, maka daripadanya mereka makan. Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air, supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?
Maha Suci Rabb yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang mereka tidak ketahui. Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan. Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah sampai pada manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang, dan masingmasing beredar pada garis edarnya.” (QS. Yâ Sîn: 33-40)
Dan Allah Swt berfirman: “Dan ia membuat perumpamaan bagi Kami, dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?” katakanlah: “Ia akan dihidupkan oleh Rabb yang menciptakannya kali yang pertama, dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk, yaitu Rabb yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan (api) dari kayu itu”. Dan tidakkah Rabb yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan yang serupa dengan itu? Benar, Dia berkuasa, dan Dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui.” (QS. Yâ Sîn: 78-81)
Saudaraku, Sesungguhnya meyakini keberadaan Allah Ta’âlâ merupakan suatu tanda yang harus kita realisasikan dengan meyakini bahwa Allah ‘Azza wa Jalla jualah yang menciptakan segenap makhluk. “Allah menciptakan segala sesuatu…” (QS. Al-Zumar: 62)
Dia adalah “Al-Razzâq”, yakni pemberi rezeki bagi setiap manusia, binatang, dan makhluk lainnya. “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allahlah yang memberi rezeki…” (QS. Hûd: 6).
Dia juga adalah penguasa alam dan pengatur semesta. Dia yang mengangkat dan menurunkan (derajat seseorang). Dia yang memuliakan dan menghinakan, Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dia pengatur rotasi siang dan malam, Yang Maha Menghidupkan dan Mematikan.
“Katakanlah, “Wahai Rabb yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki.
Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkauhinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkau-lah segala kebaikan. Sesungguhnya, Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas).” (QS. Âli Imrân: 26-27)
Kita harus meyakini bahwa Allah Rabbul Izzati telah menafikan sekutu atau pembantu dalam kekuasaan-Nya. Sebagaimana Allah Rabbul Alamin menafikan sekutu dalam penciptaan dan pemberian rezeki. “Inilah ciptaan Allah, maka perlihatkanlah olehmu kepadaku apa yang telah diciptakan oleh sembahan-sembahan (mu) selain Allah…” (QS. Luqmân: 11)
Allah ’Azza wa Jalla menyatakan pula tentang keesaan-Nya dalam keberadaan-Nya atas segala alam semesta, “Sesungguhnya Rabb kamu adalah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat dan (diciptakan-Nya) pula matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah, Rabb semesta alam.” (QS. Al-A’râf: 54)
Dalil-dalil dalam Al-Quran yang mulia dalam menetapkan keberadaan Allah ‘Azza wa Jalla serta keesaan-Nya sungguh sesuai dan sejalan dengan fitrah yanglurus dan akal yang sehat. Di antara bukti-bukti pembenarannya adalah:
Pertama, sudah menjadi kepastian bahwa setiap yang baru tentu ada yang mengadakan. Ini sudah dapat dimaklumi oleh fitrah manusia dan setiap orang yang berakal, dari dewasa hingga anak-anak.
Sebuah ilustrasi, jika ada sebuah bangunan yang kokoh dan sangat indah berdiri, lalu ada yang bertanya, “Siapakah yang telah membangunnya?” Jika jawabannya adalah, “Tidak ada yang membangunnya, gedung ini berdiri sendiri.” Maka sudah pasti akal tidak akan menerimanya. Bagaimana mungkin ada gedung yang kokoh dan indah tanpa ada yang membangunnya? Namun, kalau dikatakan si fulan yang membangunnya, maka kemungkinan ia akan memuji keahlian sang pembuatnya. Lalu bagaimana dengan bumi dan langit serta isinya yang telah ada atau dari susunan pembentukan manusia yang telah diakui begitu kompleks namun teratur, apakah mungkin tidak ada yang menciptakan?
Karena itulah Allah menantang orang-orang yang mengingkari keberadaan-Nya dengan pertanyaan berikut, “Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?” (QS. Al-Thûr: 35)
Saudaraku, Jika kita cermati pertanyaan Allah dalam kalam-Nya di atas, “Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatuapapun?” Dengan kata lain “tanpa pencipta” atau “mereka menciptakan diri mereka sendiri” adalah bentuk keyakinan mereka (orang-orang atheis dan materialis) dan kedua hal tersebut adalah tidak mungkin bahkan pemahaman serta keyakinan itu sesuatu yang aneh, lemah, dan sangat batil serta tidak dapat diterima oleh akal. Maka di ayat lain, Allah pun menantang, “Inilah ciptaan Allah, maka perlihatkanlah olehmu kepadaku, apa yang telah diciptakan oleh sembahan-sembahan-(mu) selain Allah…” (QS. Luqmân: 11)
Allah juga menantang lebih keras lagi untuk menunjukkan apakah sesembahan selain Allah memberikan manfaat kepada mereka yang menyembahnya, “…Perlihatkanlah kepada-Ku apakah yang telah mereka ciptakan dari bumi…” (QS. Al-Ahqâf: 4)
“… Apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?” (QS. Al-Ra’d: 16)
Lalu dengan tegas Allah menjawab kebatilan pemahaman mereka, “Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya.” (QS. AlHajj: 73)
Bahkan sesungguhnya, “Dan berhala-hala yang mereka seru selain Allah, tidak dapat membuat sesuatu apapun, sedang berhala-berhala itu (sendiri) dibuat orang.” (QS. Al-Nahl: 20)
Sekalipun sudah ditantang berulang-ulang seperti itu, tidak seorang pun yang mampu menjawabnya. Merekahanya terpaku dan terdiam mengakui bahwa dirinya tidak mampu menciptakan sesuatu. Pengakuan atau dakwaan saja tidak ada, apalagi menetapkan dengan bukti. Maha Benar Allah Sang Pencipta, “Apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa)? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran.” (QS. Al-Nahl: 17)
Kedua, Tuhan yang haq harus menjadi pencipta sejati. Jika ada Tuhan lain dalam sebuah kerajaan yang juga mampu mencipta dan berbuat, maka sudah pasti akan ada Tuhan yang tidak rela untuk disaingi dalam kebijakan dan perbuatannya, bukan?
Bahkan pasti tidak akan senang jika ada tuhan lain yang bersamanya. Seandainya ia mampu mengalahkan tuhan yang lain dan menguasai dirinya sendiri, tentu hal itu akan dilakukan. Maka, yang akan terjadi adalah kudeta kekuasaan dan perang antar-tuhan. Apabila ada satu tuhan yang kalah, maka pasti ia hanya akan mengurus kerajaan miliknya di bawah kekuasaan tuhan yang lain.
Kalau sudah begini, apa bedanya dengan makhluk? Sebagaimana raja-raja di dunia yang mengurus kerajaannya sendiri-sendiri dengan kebijakan dan aturan main yang berbeda antara satu dengan yang lainnya.
Maka dari semua kemungkinan itu dapat terjadi salah satu dari tiga perkara berikut ini:
❖ Salah satunya mampu mengalahkan yang lain dan menguasai alam ini sendirian❖ Masing-masing berdiri sendiri dalam kerajaan dan perbuatannya, sehingga terjadi pembagian kekuasaan.
❖ Kedua-duanya berada dalam kekuasaan seorang penguasa yang bebas bergerak dan berhak berbuat apa saja terhadap yang lainnya. Dengan demikian, sesungguhnya Dia-lah yang menjadi Tuhan dan yang lainnya adalah hamba.
Namun dalam kenyataanya, di alam ini tidak terjadi pembagian (kekuasaan) dan ketidakberesan. Semua urusan alam berjalan begitu teratur rapi. Ini adalah bukti yang paling kuat yang menunjukkan bahwa pengatur alam ini hanyalah Tuhan yang satu, yang tidak bersekutu, ataupun berseteru dalam perbuatan-Nya.
“Siapakah yang Empunya (pemilik) langit yang tujuh dan yang Empunya ‘Arsy yang besar?” Mereka akan menjawab:
“Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “Maka Apakah kamu tidak bertakwa?”Katakanlah: “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.”
Katakanlah: “(Kalau demikian), Maka dari jalan manakah kamu ditipu?” (QS. Al-Mu’minûn [23]: 86-89)
Ternyata Mereka pun Mengakui!
Saudaraku,
Semua dalil aqli (akal) dan naqli (firman Allah) membuktikan bahwa Allah itu ada dan Dia mengaturkehidupan ini dengan segala kekuasaan-Nya tanpa ada sekutu ataupun seteru. Allah pun menciptakan semua makhluk-Nya di atas fitrah pengakuan. Bahkan, orangorang musyrik yang menyekutukan Allah dalam ibadah pun mengakui keberadaan-Nya.
Katakanlah: “Siapakah yang Empunya(pemilik) langit yang tujuh dan yang Empunya ‘Arsy yang besar?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “Maka Apakah kamu tidak bertakwa?”Katakanlah: “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab:
“Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “(Kalau demikian), Maka dari jalan manakah kamu ditipu?” (QS. Al-Mu’minûn: 86-89)
Jadi, pengakuan terhadap keberadaan Allah Ta’âlâ sebagai pencipta, pengatur, dan pemberi rezeki diakui oleh semua manusia. Tidak ada satu pun yang menyangkalnya. Bahkan, hati manusia sudah difitrahkan untuk mengakui-Nya, melebihi fitrah pengakuan terhadap yang lain-Nya. Sebagaimana pernyataan para Rasul yang difirmankan Allah Ta’âlâ, “Rasul-rasul mereka berkata, “Apakah ada keraguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi? Dia Menyeru kamu (untuk beriman) agar Dia
Mengampuni sebagian dosa-dosamu dan Menangguhkan (siksaan)mu sampai waktu yang ditentukan?” Mereka berkata, “Kamu hanyalah manusia seperti kami juga. Kamu ingin menghalangi kami (menyembah) apa yang dari dahulu disembahnenek moyang kami, karena itu datangkanlah kepada kami bukti yang nyata.” (QS. Ibrâhim [14]: 10)
Seorang guru besar ahli bedah kenamaan Perancis, Prof. Dr. Maurice Bucaille, melakukan bedah mayat pada mumi Fir’aun. Hikayat yang beredar di masyarakat menyatakan bahwa Fir’aun mati karena tenggelam di laut namun Allah selamatkan tubuh kasarnya. Mayatnya terdampar di pantai dan ditemukan oleh orang-orang Mesir lalu dibalsem sehingga utuh sampai sekarang dan dapat dilihat di museum Mesir. Maurice Bucaille menemukan hal yang menakjubkan dari hasil pemeriksaan.
Sel-sel syaraf Fir’aun menunjukkan bahwa kematiannya disebabkan tenggelam di laut dengan shock yang hebat. Lalu ia mencoba mencocokan hasil pemeriksaannya itu dengan berita yang ada pada kitab suci setiap agama.
Ternyata berita itu ditemukan di dalam Al-Quran. Ia tertegun, terpaku pada firman Allah yang menerangkan tentang kejadian ini.
“Dan (ingatlah) ketika Kami membelah laut untukmu, sehingga kamu dapat Kami selamatkan dan Kami tenggelamkan (Fir’aun dan) pengikut-pengikut Fir’aun, sedang kamu menyaksikan.” (QS. Al-Baqarah: 50)
Prof. Dr. Maurice Bucaille mendapatkan keterangan yang begitu akurat dan dapat dibuktikan secara ilmiah tentang kisah Fir’aun tersebut di dalam Al-Quran. Dan kitab ini tetap terjaga walau hampir 1.400 tahun yang silam diriwayatkan tanpa ada perubahan. Padahal, saatmasa terjadi sampai turunnya keterangan dari Allah pun ada rentang waktu yang panjang.
Akhirnya ia menyimpulkan bahwa kisah ini mustahil hanyalah karangan seorang pujangga apalagi seorang Muhammad yang diketahui merupakan seorang yang ummi. Kebenaran ini pasti bersifat mutlak dan berita yang mutlak kebenarannya hanya akan datang dari pencipta alam yang tahu bagaimana alam ini berproses.
Maka, benarlah apa yang Allah terangkan, “Maka pada hari ini Kami selamatkan jasadmu (Fir’aun) agar dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang setelahmu.” (QS. Yûnus: 92)
Pembuktian inilah yang telah menundukkan hati ilmuwan Prancis ini untuk menerima Islam sebagai agamanya dan Allah sebagai Tuhannya.
Lain halnya dengan yang dialami oleh Jacques Yves Costeau. Ia adalah seorang ahli kelautan (oseanografer) dan ahli selam dari Perancis. Pada suatu hari ketika sedang melakukan eksplorasi bawah laut. Kemudian ia menemukan sebuah fenomena yang sangat aneh, yaitu adanya air tawar di tengah lautan yang tidak bercampur dengan air laut, seolah-olah ada dinding atau membrane yang membatasi keduanya.
Apa yang disaksikannya ini benar-benar kejutan besar selama kariernya yang panjang di kelautan. Hal ini menimbulkan pertanyaan, bagaimana hal ini bisa terjadi? Pertanyaan yang akhirnya menghantui hidupnya sampai akhirnya ia bertemu dengan seorang profesorMuslim yang kemudian menjawab fenomena ganjil yang disaksikannya dengan menginformasikan beberapa firman Allah tentang hal ini.
“Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar dan segar dan yang lain sangat asin lagi pahit; dan dijadikan antara keduanya dinding dan batas yang tidak tembus.” (QS. Al-Furqân: 53)
Juga pada ayat berikut: “Dia membiarkan dua laut mengalir yang (kemudian) keduanya bertemu, di antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing.” (QS. Al-Rahmân: 19-20)
Mendengar dan melihat hal ini membuat Mr. Costeau terkejut. Muncul pertanyaan dalam pikirannya, bagaimana mungkin seorang Muhammad yang hidup 14 abad yang lalu, yaitu pada suatu zaman yang pasti belum ada peralatan selam yang canggih untuk mencapai lokasi yang jauh dan kedalaman lautan mengetahui hal ini. Mr. Costeau pun akhirnya membuat kesimpulan bahwa mustahil Al-Quran adalah buatan Muhammad dan pastilah Al-Quran itu dari Tuhan yang menciptakan langit dan bumi ini! Akhirnya ia pun memutuskan untuk masuk Islam.
Bukti lain tentang kebenaran wahyu Al-Quran dan keberadaan Allah dalam kejadian penciptaan alam semesta yaitu ayat Al-Quran yang mengisyaratkan bahwa langit dan bumi awalnya merupakan suatu gumpalan. “Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi keduanya dahulu menyatu, kemudiankami pisahkan antara keduanya; dan kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air…” (QS. Al-Anbiyâ’: 30)
Ternyata apa yang digambarkan oleh Al-Quran telah dibuktikan oleh para ilmuwan. Salah satunya adalah Edwin P. Hubble melalui teropong raksasa pada tahun 1929. Hasil penelitiannya menunjukkan adanya pemuaian pada alam semesta. Ini berarti alam semesta berekspansi.
Menurut George Gamow, ekspansi tersebut melahirkan sekitar seratus miliar galaksi dan masing-masing galaksi memiliki 100 miliar bintang. Akan tetapi, bila ditarik ke belakang, semuanya merupakan satu gumpalan. Gumpalan itulah yang meledak dan yang dikenal dengan istilah Big Bang.
Lihatlah saudaraku,
Bukti-bukti ilmiah yang telah tersaji membuktikankebenaran berita yang telah disampaikan empat belas abad yang lalu, apakah kita masih juga mau mengingkarinya?
Demikianlah beberapa ayat yang merupakan mukjizat ilmiah yang datang dari Allah Sang Maha Pencipta, Yang Maha Mengetahui segala rahasia langit dan bumi. Masih banyak lagi bukti-bukti ilmiah lainnya yang dapat kita baca.
Iman: Harta Paling Berharga
Banyak orang mengira bahwa harta paling berharga adalah uang, emas, tanah, kebun, rumah, kendaraan, hewan ternak, dan lain sebagainya. Berbagai upaya dilakukan untuk menjaga harta mereka. Mereka berusaha menjaganya. Disiapkan kunci, gembok, pagar, teralis, anjing penjaga, juga satpam. Mereka khawatir akan kehilangan. Namun benarkah semua itu yang paling berharga? Lalu, apakah mereka yang tidak berharta lantas tak bahagia, sengsara?
Banyak orang cerdik pandai, para ahli, filsuf dan doktor yang telah mengupas masalah kebahagiaan. Mungkin beratus buku, beribu kertas kerja telah juga diterbitkan. Bahkan ada sebuah jurnal yang khusus mengupas dan membahas masalah kebahagiaan: Journal of Happiness Studies.
Dan rupanya, hampir semua sepakat bahwa harta, uang, kekayaan bukanlah sumbernya. Pernah dilakukan penelitian tentang indeks kebahagiaan penduduk di 65 negara di dunia tahun 1999-2001 oleh para ilmuwan sosial gabungan dari berbagai negara, dan hasilnya pun telah diterbitkan dalam majalah internasional New Scientist pada tahun 2003. Menarik sekali, karena dalam penelitian ini ditemukan hasil bahwa penduduk negara paling yang paling bahagia adalah negara-negara miskin di Afrika, sementara penduduk yang kebahagiaannya paling rendah adalah penduduk dari negara-negara di Eropa Timur.
Nigeria menempati negara tertinggi yang penduduknya sangat berbahagia. Lalu di jajaran atas lainnya adalah Mexico, Venezuela, El Savador bahkan PuertoRico. Sementara negara dengan tingkat kebahagiaan yang rendah adalah negara-negara seperti Rusia, Armenia, dan Rumania. Negara besar yang disangka orang seluruh dunia paling bahagia, seperti Amerika Serikat hanya berada pada level kebahagiaan 16. Selandia Baru berada di tangga ke-15, Australia di tangga 20 dan Inggris berada di peringkat ke-24.
Lebih kaya, tidak berarti lebih bahagia. Lebih kaya, malah sangat memungkinkan lebih tidak bahagia. Orang yang sesungguhnya paling sengsara adalah mereka yang miskin iman dan mengalami krisis keyakinan. Mereka selamanya akan berada dalam kesengsaraan, kepedihan, dan kehinaan. “Mereka diliputi kehinaan dimana saja mereka berada, kecuali jika mereka (berpegang) pada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia. Mereka mendapat murka dari Allah dan (selalu) diliputi kesengsaraan. Yang demikian itu karena mereka mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi, tanpa hak (alasan yang benar). Yang demikian itu karena mereka durhaka dan melampaui batas.” (QS. Ali Imran: 112)
“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit.” (QS. Thaha: 124) Orang yang memiliki harta kekayaan materi belum tentu kaya di mata Allah. Begitu pun dengan orang yang tidak memiliki kekayaan materi belum tentu orang tersebut miskin atau sengsara di mata Allah. Jadi, kita tidak perlu iri terhadap orang yang memiliki hartamateri, tapi irilah kepada orang yang memiliki keimanan agar kita terus terpacu untuk terus mengejar harta yang paling berharga dalam kehidupan, yaitu keimanan.
Jika terhadap harta materi kita melakukan penjagaan begitu ketat, sudahkah kita melakukan penjagaan yang ketat terhadap keimanan kita? Banyak yang dapat kita lakukan untuk menjaga keimanan kita, di antaranya selalu berusaha melakukan kebaikan, selalu memberi manfaat untuk orang lain, banyak mengkaji ilmu, menyibukkan diri dalam majelis-majelis ilmu, bergaul dengan orang-orang shalih, dan beribadah sesuai dengan syariat-Nya.
Tidak ada sesuatu yang dapat membahagiakan jiwa, membersihkannya, menyucikannya, dan mengusir kegundahan darinya, selain keimanan kepada Allah Rabb semesta alam dan merealisasikannya dengan benar dalam beragam amal kebajikan.
Maka, kini sudah saatnya kita dan semua manusia di seluruh dunia ini menerima dengan ikhlas dan beriman dengan sesungguhnya bahwa “tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah”. Sungguh, perjalanan dunia dan pengalaman hidup manusia telah menguji dan membenarkannya, menyadarkan akal bahwa berhala-berhala itu takhayul belaka. Kekafiran itu sumber petaka, pembangkangan itu dusta, sedangkan para Rasul itu benar, Allah adalah pemilik kerajaan langit dan bumi ini, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Dikutip dari Buku The Quest for Happiness (Mencari Kebahagiaan Hakiki)

Komentar