Inspirasi Jumat: Prof. Rokhmin Dahuri Serukan Revolusi Spiritual untuk Dampak Sosial yang Luar Biasa
ASKARA – Dalam refleksi mendalam tentang makna ibadah, Rektor Universitas UMMI Bogor, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS, menegaskan bahwa ibadah bukan sekadar ritual formal, melainkan sebuah sistem kehidupan yang menyeluruh. Menurutnya, penyempurnaan ibadah dalam arti luas akan melahirkan masyarakat yang damai, adil, dan berkeadaban.
Prof. Rokhmin menguraikan sepuluh prinsip utama yang harus diamalkan umat agar ibadah benar-benar menghadirkan “Excellent Impact”:
1. Disiplin dan khusuk dalam menjalankan syariat agama.
2. Menjaga seluruh aspek kehidupan – makanan, minuman, pekerjaan, uang, sarana, waktu, pikiran, hingga sedekah – agar senantiasa halal.
3. Menumbuhkan sikap sabar, santun, adil, peduli, empati, dermawan, serta menjauhi pemborosan.
4. Menghayati dan mengamalkan syariat agama secara mendalam.
5. Menolak segala bentuk penyelewengan, korupsi, kolusi, gratifikasi, dan kezaliman.
6. Membersihkan hati dari riya, ujub, narsis, sombong, iri, dengki, hasad, dan sifat tamak.
7. Menegakkan disiplin, taat aturan, dan prosedur formal tanpa intrik.
8. Melayani sesama dengan ikhlas dan penuh dedikasi.
9. Menghapus hambatan psikologis untuk berbuat kebaikan.
10. Saling mendukung dalam kebaikan, menjauhi mentalitas “crab” yang merendahkan capaian orang lain.
Dengan fondasi tersebut, anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan ini meyakini masyarakat akan menuai dampak luar biasa: hilangnya praktik korupsi dan kejahatan, terciptanya rasa aman dan damai, layanan publik yang lebih baik, pembangunan yang akuntabel dan diridhai Allah SWT, perhatian lebih kepada anak yatim dan kaum dhuafa, serta berkurangnya kesenjangan sosial-ekonomi.
“Jika ibadah dipahami sebagai totalitas pengabdian kepada Allah, maka setiap aspek hidup akan menjadi ladang pahala. Dari meja kerja hingga meja makan, dari ruang rapat hingga ruang keluarga, semuanya bisa menjadi ibadah bila dijalankan dengan halal, adil, dan ikhlas,” tegas Menteri Kelautan dan Perikanan 2001-2004 itu.
Ia menambahkan, bangsa yang berlandaskan ibadah paripurna akan terhindar dari kerusakan moral dan sosial. Sebaliknya, akan lahir masyarakat yang penuh kasih, saling mendukung, dan berorientasi pada kemajuan bersama.
Pesan Prof. Rokhmin ini menjadi pengingat bahwa ibadah bukan hanya soal hubungan vertikal dengan Sang Khalik, tetapi juga hubungan horizontal dengan sesama manusia.
Dengan demikian, ibadah yang sempurna akan melahirkan masyarakat yang shalom, salam, dan barokah – sebuah peradaban yang damai, adil, dan diridhai Allah SWT.

Komentar